AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
17. Terabaikan



Baru juga teman-teman Silvi berlalu, tiba-tiba Sasa berlari menghampirinya sambil menangis dan memeluknya.


"Nak, ada apa?" tanya Nina sambil mengusap puncak kepala sang putri.


"Ibuk, Sasa nggak mau ke sana." ucapnya sambil tersedu dan menunjuk ke dalam, baru juga Nina mendongakkan kepalanya terlihat Kamal datang bersama Akmal. Terlihat Kamal sudah memakai baju pengantinnya.


Sekarang Nina tahu apa alasan Sasa datang dengan menangis. Sedangkan Akmal terlihat lebih tenang, meskipun tidak ada senyum di bibirnya.


"Dek, ini ayah dek." Ucap Kamal sambil berjongkok tepat di depan Nina sambil mengusap punggung sang putri.


"Enggak, Sasa nggak mau sama ayah. ayah jahat, kenapa ayah sama Tante Silvi? Ayah nggak sayang sama Sasa, sama kakak Akmal. Sama ibuk juga." suara tangis Sasa semakin histeris membuat beberapa tamu menatap ke arah mereka.


"Sebaiknya kita ke dalam." ucap Kamal lirih pada Nina, ia tidak mau peristiwa itu menjadi perhatian semua tamu.


"Baiklah, biar Nina bujuk Sasa, sebaiknya mas masuk dulu." ucap Nina dengan tenang meskipun saat ini hatinya tengah bergemuruh apalagi saat melihat Silvi yang juga berdiri tidak jauh di belakang mantan suaminya dengan baju pengantin lengkap dengan rasanya, sepertinya ijab Qabul sudah berlalu dan sekarang tinggal resepsinya.


Walaupun sebenarnya ingin protes, tapi Silvi segera membujuk Kamal hingga pria itu bersedia untuk meninggalkan Nina dan anak-anak nya.


Nina terus memeluk sang putri agar tangisnya sedikit reda, setelah mereka Sasa sudah bisa menguasai perasaanya, Nina pun mengajaknya untuk duduk di kursi kosong dan ia pun memilih berjongkok di depan sang putri.


Nina menggenggam kedua tangan putrinya itu, terlihat Sasa masih sesenggukan menahan tangis, sedangkan Akmal berdiri di belakang Nina tanpa berkomentar apapun.


"Sayang, adek tahu kan kalau ayah sayang banget sama adek, sama kakak, sama ibuk juga!?" ucap Nina dengan lembut.


Sasa menggelengkan kepalanya, "Enggak, ayah nggak sayang. Kalau ayah sayang, kenapa ayah menikah lagi sama Tante Silvi?"


"Karena ayah nggak mau nyakiti ibuk, adek bisa ngerti kan? Ayah itu sayang banget sama Sasa, kakak Akmal makannya ayah milih Tante Silvi buat jadi ibuk kedua buat adek, buat kakak."


"Tapi Sasa nggak mau ibuk lain."


"Ibuk akan tetap jadi ibuknya adek sama kakak, nggak akan ada yang berubah, ibuk janji, meskipun ayah menikah lagi tapi sayang ayah nggak akan berubah buat adek, buat kakak. Bahkan sayang buat kalian akan bertambah karena kalian punya dua ibuk."


"Apa itu benar?" terlihat Sasa mulai melunak dan Nina pun mengangukkan kepalanya, ia hanya bisa berharap jika Silvi bisa menjadi ibu sambung yang baik buat anak-anak nya.


Setelah berhasil membujuk Sasa, Nina pun mengajak Sasa dan Akmal untuk masuk karena mereka harus di rias untuk ikut foto di pelaminan.


Beruntung Lastri sudah datang, jadi Nina punya teman ngobrol selama anak-anaknya dirias.


"Loh mbak, bukannya mereka dulu teman-teman mbak Nina juga?" ternyata sekarang perhatian Lastri tertuju pada teman-teman PNS Silvi yang juga teman SMA Nina.


Dan sekarang sudah bertambah Silvi yang bergabung bersama mereka.


"Ah iya," ucap Nina ragu. Ia tidak yakin jika mereka masih menganggapnya sebagai teman.


"Kenapa nggak gabung aja, mbak?"


"Nggak usah aku di sini aja, kalau kamu sibuk kamu tinggal aja nggak pa pa."


"Yang bener mbak, atau mbak istirahat aja di kamar Lastri?" terlihat Lastri begitu tidak enak.


"Nggak pa pa Las, aku nungguin anak-anak di sini aja."


"Yang bener mbak?"


"Iya nggak pa pa."


"Maaf ya mbak, ya sudah kalau gitu Lastri pergi dulu ya. Lastri punya tugas ngurus bakso, tapi nanti kalau Lastri selesai , Lastri temenin mbak ya."


"Iya nggak pa pa, santai aja."


Lastri memang sudah seperti teman bagi Nina, ia selalu bersikap baik selama ini padanya.


Nina pun akhirnya kembali sendiri, jarak ia duduk dengan Silvi dan teman-temannya cukup dekat hingga ia bisa mendengar percakapan mereka, beruntung ada tirai yang menjadi pemisah antara mereka hingga mereka tidak bisa melihat keberadaan Nina, jadi Nina bisa tetap bersembunyi di sana.


Suara tawa bersamaan beberapa kali membuat Nina penasaran dengan yang tengah dibicarakan Silvi dengan teman-teman nya, Nina pun memilih menggeser tempat duduknya agar bisa mendengar dengan jelas apa yang tengah mereka bicarakan.


"Beruntung banget sih Vi, bisa dapat duda keren kayak mas Kamal."


"Ya begitulah. Mau bagaimana lagi, kalau sudah cinta memang susah di pisahkan. walaupun. Awalnya ada penghalang tapi akhirnya cinta sejati yang menang."


"Jadi maksud kamu si Nina penghalangnya?"


"Ya kalian bisa menilainya sendiri lah, aku nggak mau banyak berkomentar."


"Ya begitu sih kalau kekuasaan yang maju, kita-kita yang tidak punya kekuasaan hanya bisa pasrah."


Rasanya sakit mendengar obrolan mereka, Nina memilih menjauh lagi. Semakin ia mendengarkan percakapan mereka semakin ia merasa kesal. Ia tidak menyangka jika ternyata pandangan orang-orang begitu buruk terhadapnya.


Akhrinya sesi rias sudah selesai, para kru MUA pun mengajak Sasa San Akmal menuju ke pelaminan, sebenarnya Nina tidak suka berada dekat pelaminan tapi apa daya, Sasa dan Akmal merengek tidak mau di foto jika Nina tidak mau menemaninya. Beruntung tamu sudah sepi jadi ia sedikit leluasa untuk duduk di kursi di depan pelaminan.


Dan ternyata bukan hanya Akmal dan Sasa saja yang ikut sesi foto, seorang anak perempuan seusia Sasa juga ikut berfoto, anak itu adalah anak Silvi dari pernikahan pertamanya, namanya Sakila.


Beberapa kali anak itu merengek saat Sasa ingin berdiri dekat dengan sang ayah, ia selalu menggeser Sasa mau pun Akmal agar sedikit menjauh dari Kamal, hal itu membuat Nina geram. Jika ia tidak ingat banyak orang di sana, rasanya ingin sekali membawa Sasa San Akmal untuk turun dari sana.


Hingga sebuah kejadian benar-benar membuat kesabaran Nina hilang,


"Ahghhhhh, sakit." tubuh Sasa terjatuh hingga sikunya membentur kursi pelaminan karena anak itu mendorong Sasa saat Sasa hendak mengambil mainannya.


"Sasa," dengan cepat Nina berlari menghampiri Sasa dan menggendong tubuh mungil putrinya itu.


"Sakila, apa yang kamu lakukan!?" ucap Kamal dengan nada yang tinggi.


"Ayah, aku mau bonekanya." Sakila merengek sambil memeluk boneka beruang milik Sasa, ia juga memeluk kaki Silvi meminta perlindungan.


"Mas, mas ini apa-apaan sih. Sakila masih kecil, kenapa mas bentak dia, dia ketakutan mas." protes Silvi sambil mengusap punggung putrinya yang ketakutan.


Tampak Kamal menghela nafas dan menyesal,


"Maaf, bukan maksud aku membentak dia." Kamal pun berjongkok dan mengusap punggung Sakila,


"Maafin ayah ya, ayah tadi cuma terkejut."


Sakila mengangukkan kepalanya dan menghapus air matanya,


"Sakila mau gendong ayah."


"Baiklah, ayah gendong ya."


Dengan tanpa rasa bersalah, Kamal malah mengendong Sakila tanpa memikirkan perasaan Sasa maupun Akmal.


Nina hanya bisa tercengang dengan yang di lakukan oleh mantan suaminya itu, jangankan mendengarkan putrinya, hanya melihat luka yang di miliki putrinya saja tidak, Kamal malah sibuk dengan perasaan putri sambungnya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...