AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
70. Membagi tugas



Dengan begitu malas Nina membuka matanya saat telinganya mendengar suara azan dari masjid sebelah, kamar masih terlihat gelap hingga Nina harus meraba tembok yang berada tepat di atas kepalanya untuk menyalakan lampu.


Hingga tanpa sengaja tangannya yang baru saja menyalakan lampu mengenai sesuatu di sampingannya.


Mata Nina langsung terbuka sempurna saat ada seseorang yang tengah tidur di sampingnya.


"Astaghfirullah hal azim," hampir saja.ia berteriak, beruntung ia bisa mengendalikannya. Sepertinya karena efek kurang tidur malam ini membuatnya sedikit halu hingga ia lupa jika sudah menikah lagi.


Pria itu tampak benar-benar lelap di sampingnya, Nina tidak mengabaikan kesempatan ini. untuk pertama kalinya ia bisa melihat wajah tampa atasannya nan bersih dan sehat itu saat tertidur seperti ini.


Kenapa saat tidur seperti ini dia terlihat imut, aku jadi iri. Kenapa dia seperti baru berusia dua puluhan sih ...


Tanpa sadar Nina mengagumi wajah suaminya itu, wajah Dirga yang bersih dan memiliki garis wajah yang tegas, bahkan tulang hidungnya begitu tinggi hingga Nina memegangi hidungnya sendiri yang mungkin hanya setengah tingginya dari hidung Dirga, bagian rahangnya tampak lebar seperti blasteran orang eropa. Tapi jika Nina mengingat nama keluarga Dirga, tentu ia bisa menebak kalau Dirga adalah keturunan Jawa asli.


"Kenapa menatapku seperti itu?"


Pertanyaan itu seketika membuat Nina salah tingkah, dengan cepat ia mengalihkan tatapannya ke tempat lain,


"Enggak, sejak kapan mas Dirga bangun?" tanyanya mengalihkan perhatian.


Meskipun sudah mengeluarkan suara, tapi Dirga masih enggan membuka matanya meskipun suara iqomah sudah terdengar.


"Sejak kamu menghidupkan lampunya."


"Sudah dari tadi, kenapa pura-pura tidur?"


Dirga pun mulai membuka matanya dan tersenyum,


"Hanya sedang memastikan sesuatu saja."


"Memastikan apa?"


Memastikan dapat kecupan selamat pagi ..., jawab Dirga dalam hati membuat Nina menunggui jawabannya.


Srekkkk


Bukannya menjawab, Dirga malah turun dari tempat tidur.


"Ke kamar mandilah, aku akan bangunkan anak-anak. Kita akan sholat subuh berjamaah." ucap Dirga kemudian berlalu dengan cepat meninggalkan kamar. Nina sudah bisa menduga kemana perginya pria itu sekarang.


Nina pun bergegas ke kamar mandi, mengambil wudhu dan menyiapkan tempat untuk mereka sholat berjamaah. Ruang keluarga itu sekarang sudah di sulap menjadi tempat sholat.


Nina sudah menunggu anak-anak dan suaminya di atas sajadah lengkap Dnegan mukena yang di pakai.


Tampak Sasa berlari ke arahnya dengan wajah yang lebih segar setelah berwudhu, meskipun tampak ia masih mengucek matanya.


"Buk, sasa masih ngantuk." ucapnya saat sampai di depan ibunya. Nina pun segera memakaikan mukena untuk Sasa.


"Nggak pa pa sayang, nanti setelah sholat pasti ngantuknya hilang."


Setelah memakaikan mukena, Nina pun mengajak Sasa untuk duduk di sampingnya sambil menunggu Akmal dan Dirga.


Akhrinya setelah lima menit kedua pria itu keluar dengan sarung dan peci. Mereka tampak begitu kompak, siapapun yang melihatnya pasti akan menganggap jika mereka adalah sepasang anak dan bapak kandung.


Dirga pun segera mengambil tempat di deretan paling depan dan di susul Akmal di belakangnya. Dan deretan paling belakang ada Nina dan Sasa.


Dua rokaat subuh pun selesai dan Dirga memimpin doa sebisanya.


Setelah menyelesaikan sholat, Nina pun bergegas ke dapur sedangkan Dirga membantu anak-anak untuk menyiapkan seragam serta buku mereka.


Kini Nina tidak perlu berlarian kesana kemari untuk melakukan banyak aktifitas. Pagi ini ia bisa fokus dengan urusan dapurnya.


Meskipun dari atas, Dirga selalu menyukai kesibukan Nina di pagi hari bersama anak-anak nya, dan hari ini ia bisa ikut merasakannya.


Dirga begitu telaten membantu anak-anak menyiapkan segala keperluan sekolah hingga anak-anak mandi dan mengganti bajunya Dnegan seragam.


Tepat jam setengah tujuh, anak-anak dan Dirga susah siapa di meja makan tentunya dengan pakaian yang rapi. Nina juga sudah menyiapkan makanan untuk anak-anak.


"Biar aku yang ambilkan!" ucap Dirga sambil mengambil alih tugas Nina, ia mengambilkan makanan di piring Sasa dan Akmal, mengambilkan lauk untuk mereka. sepertinya lagi ini tidak secanggunb tadi malam hingga Dirga tidak menggunakan kata 'saya' lagi untuk menyebut dirinya sendiri. mungkin juga efek ada anak-anak, hingga suasana nya mencair.


"Makasih ya mas," ucap Nina saat Dirga juga mengambilkan makanan untuk dirinya.


"Cieeeee," tapi segera mendapat ledekan dari anak-anak.


"Apaan sih kalian, ibuk kan jadi malu." ucap Nina dengan wajah merah jambunya sedangkan Dirga hanya tersenyum.


"Sudah cepetan makan, nanti terlambat loh." ucap Nina lagi.


"Iya buk." ucap Akmal yang lebih mandiri.


"Ibuk suapi." rengek Sasa, seperti biasa Sasa lebih suka di suapi dari pada makan sendiri.


Ya Allah, kini aku percaya ya Allah. Engkau mengambil sesuatu hanya untuk menggantinya dengan yang lebih baik..


Nina menatap pemandangan itu dengan penuh haru.


"Nin, ayo makan. Atau mau aku suapi juga!?" tanya Dirga saat melihat Nina yang malah diam saja menatap Dirga dan anak-anaknya.


Nina pun segera menggelengkan kepalanya dan mulai makan.


Akhrinya sarapan pun selesai, Nina segera membawa piring kotor ke dapur dan mencucinya.


"Aku berangkat dulu ya, biar anak-anak sekalian aku antar." ucap Dirga dari kejauhan membuat Nina menghentikan kegiatannya. Ia pun segera mengelap tangannya yang basah dan menghampiri suaminya.


"Mas Dirga mau ke mana? Bukankah kantor masih tutup hari ini?" seingatnya Dirga sengaja meliburkan kantor selama dua hari untuk pernikahan mereka.


"Aku harus mengurus berkas-berkas pengadilan untuk sidang besok."


"Memang nggak pa pa mas kalau Nina nggak ikut? Atau Nina ikut aja?"


"Nggak usah, paling cuma bentar kok. Nanti mau lanjut ke kampus bentar ada yang harus di urus di sana."


"Oh," jawab Nina pelan, "Biar Nina panggil anak-anak mas."


"Nggak perlu, anak-anak sudah siap di depan semua."


"Oh gitu,"


Nina pun mengantar Dirga ke depan dan benar saja Akmal dan Sasa sudah di sana. Mereka pun segera berpamitan pada Nina.


"Jangan nakal ya di sekolah. Nanti biar ibuk jemput."


"Siap ibuk."


Anak-anak pun segera masuk ke dalam mobil, kini tinggal Dirga dan Nina di sana.


"Aku berangkat ya." ucap Dirga dan hendak beranjak meninggalkan Nina.


"Tunggu mas."


Ucapan Nina berhasil menghentikan langkah Dirga, ia pun berbalik.


"Ada apa?"


"Nina mau ijin!"


Dirga mengerutkan keningnya menatap Nina.


"Hari ini Nina janji mau ke rumah Mita sebentar, nggak pa pa kan mas?"


"Nggak pa pa, atau kalau kamu lama nanti anak-anak biar aku yang jemput."


"Nggak usah mas, biar Nina aja. Mas Dirga pasti sibuk."


"Nggak kok, nggak pa pa biar aku jemput saja." ucap Dirga memaksa.


"Baiklah, makasih ya mas."


Nina pun meraih tangan Dirga dan mencium punggung tangannya,


"Assalamualaikum, mas. Hati-hati di jalan."


"Waalaikum salam." Dirga dibuat terpaku dengan perlakuan Nina.


"Sudah mas, sudah siang. Cepet berangkat." segera ucapan Nina menyadarkan.


"I_iya, aku berangkat dulu ya. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam." Nina melambaikan tangannya saat Dirga masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan ke sekolah Dirga sibuk menatap tanganya yang harus aja di cium oleh Nina. Ia terus tersenyum seolah stok senyumnya hari ini tidak akan pernah habis.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


@tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰