AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
10. Terlalu dalam



“Sejak kapan?”


“Enam bulan lalu,”


Nina menarik sebelah sudut bibirnya tipis, sedikit mengecap. Ia tengah menertawakan kebodohannya, kebutaaannya. Enam bulan lalu, itu waktu yang cukup lama untuk menjalin sebuah hubungan. Dan ia selama enam bulan, atau bahkan mungkin bulan-bulan sebelumnya ia telah berbagi laki-laki yang sama. Bagaimana bisa?


Membayangkan hal itu membuatnya ingin muntah, ia tidak menyangka jika suami yang selama ini ia sanjung menghianatinya begitu dalam bahkan dengan temannya sendiri.


“Nduk, ayo masuk nduk. Nggak baik bicara di luar.” Bu Sarmi tiba-tiba datang dan menghampiri nina juga Akmal, ia menarik tangan Nina dan mengajaknya masuk melewati Silvi begitu saja.


Entah hanya perasaannya saja atau memang benar saat ini suasana di rumah itu tiba-tiba hening semenjak kedatangannya, bahkan Akmal sama sekali tidak ingin melepaskan tubuh Nina, ia bahkan tidak mau sekalipun menatap ayahnya. Sedangkan Sasa, ia tidak mau melepas kan Kamal. Ia terus menatap sinis pada Silvi yang masih terus berdiri di samping Kamal.


“Tenangkan batinmu nduk, yang lalu biarlah berlalu. Jika ini memang sudah takdirmu sama Kamal berakhir, maka ikhlaskan ya nduk.” Ucap pak Dipo menengankan Nina. Kini Lastri pun juga tengah memeluk tubuhnya seolah tengah menyalurkan kekuatan untuk Nina.


“Nina ngerti pak, insyaallah Nina akan berusaha untuk ikhlas.” Meskipun begitu sakit, tidak ada yang bisa Nina lakukan selain mencoba untuk ikhlas dengan semua penghianatan yang di lakukan oleh suaminya.


***


“Nduk, kamu benar nggak nginep di sini saja?” bu Sarmi terus menahan Nina, apalagi saat ini Sasa sudah terlelap dalam gendongannya.


“Enggak buk, maaf. Nina akan menginap di rumah budhe mala mini, insyaallah besok Nina kembali ke kota.”


“Maafkan ibuk ya nduk, ibuk nggak bisa mendidik Kamal dengan baik.”


“Bukan salah ibuk, buk.”


Setelah berpamitan pada keluarga besar Kamal, Nina pun membawa anak-anaknya ke rumah budhenya yang berada di desa sebelah. Sasa sudah terlelap , beruntung ia membawa gendongan jadi ia bisa menggendong depan Sasa dan membungkusnya dengan jaketnya sedangkan Akmal duduk di belakang, rintik hujan sepanjang jalan seolah mendukung perasaannya. Tapi tak masalah, karena air hijan yang membasahi wajahnya kini menyembunyikan air matanya yang juga membasahi wajahnya.


Bohong jika dia sama sekali tidak terluka, seharusnya memang semuanya sudah berakhir tapi sebuah penghianatan membuat luka itu semkain dalam dan menganga, semakin perih hingga ia khawatir tidak akan pernah bisa menyembuhkan luka itu.


Akmal tidak secerewat saat ia berangkat tadi, tiba-tiba ia menjadi anak pendiam. Entah apa yang tengah di pikirkan oleh anak itu, meskipun sesekali Nina mengajaknya bicara akmal hanya menjawabnya sekedarnya tidak seperti biasanya yang banyak bertanya.


***


“Akmal sudah tidur nduk?” tanya wanita paruh baya dengan secangkir the hangat di tangannya,


“Sudah budhe,”


“Minumlah, biar sedikit hangat.” Wanita yang di panggil budhe oleh Nina itu menyerahkan the hangat itu padanya, hujan tidak juga reda malah semakin deras membuatr udara semakin dingin.


Nina menggeser duduknya saat wanita itu hendak duduk di sampingnya, saat ini mereka tengah duduk di teras, hujan yang semakin lebat sepertinya tidak berpengaruh bagi Nina. Bahkan mungkin hujan di hatinya saat ini jauh lebih lebat dari pada itu.


“Kamu nggak pa pa kan, nduk?” tanyanya sambil menggengam tangan Nina yang tidak memegang cangkir.


“Seperti yang budhe lihat,” Nina tidak mau membohongi dirinya sendiri, ia tidak sekuat itu hingga mengatakan kalau dirinya tengah baik-baik saja sedangkannya hatinya benar-benar remuk.


“Buhde juga sangat terkejut mendengar perceraian kalian, budhe juga nggak nyangka kalau Silvi yang di pilih Kamal.”


Mengenai Silvi, ia belum pernah mendnegar ceritanya setelah pernikahannya dan merantau ke luar daerah. Nina menatap budhenya, budhenya tidak mungkin tidak tahu sesuatu.


“Bagaimana dengan suami Silvi, budhe?”


“Yang budhe dengar, Silvi sudah bercerai dengan suaminya semenjak dua tahun yang lalu. Ia dan suaminya di karuniai seorang putri seumuran dengan Akmal.”


Nina terdiam, ia sungguh tidak tahu berita tentang hal itu. ia bahkan tidak tahu jika dirinya dan Silvi tinggal di kota yang sama.


“Sudah malam, segeralah tidur. Kamu pasti capek kan,” ucap budhe sambil berdiri dari duduknya dan mengusap bahu Nina.


“Budhe tidur dulu aja nanti Nina nyusul.”


“Iya budhe,”


Setelah budhenya masuk rumah, Nina kembali menatap hujan. Ia tidak menyangka jika hidupnya akan serumit dan sekacau ini. Dalam benaknya masih banyak sekali pertanyaan yang belum sempat terjawab.


***


“Biar Nina aja budhe yang ke pasar, kebetulan Nina juga pengen beli sesuatu.” Ucap Nina sambil mengambil alih tas rengkot yang berada di tangan budhenya.


“Baiklah, catatan dan uangnya ada di dalam.”


“Siap budhe. Titip Akmal sama Sasa ya budhe.”


“Iya, jangan khawatir.”


Nina sudah memanasi motornya sedari pagi, ia segera memakai jilbab bergo warna mintnyadan juga jaket, udara masih sangat dingin karena semalam hujan. Karena pasarnya tidak begitu jauh, Nina sengaja tidak memakai helmnya.


Hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai di pasar, nina membeli semua yang ada di catatan budhenya dan keperluan yang ingin ia beli. Setelah memastikan semua belanjaannya lengkap, Nina pun menuju ke tempat ia memrkir motornya.


“Nina,”


Suara seseorang terpaksa menghentikan langkahnya, meskipun di tempat keramaian ia masih bisa mengenali suara itu.


“Belanja ya?” tanyanya lagi begitu sudah berada di dekat Nina.


“Iya mas,”


“Sudah lama nggak makan pecel punten favorit kita yang ada di depan sana, gimana mau temani aku ya?”


Nina hanya bisa menganggukkan kepalanya, kebetulan sekali ada yang sedang ingin ia tanyakan pada pria yang sudah mengisi hatinya selama delapan tahun ini.


Tempatnya luas hingga mereka bisa leluasa mengobrol, mereka seolah tengah memutar moment-moment indah bersama. Setiap kali pulang kampung mereka tidak pernah absen menikmati pecel punten yang ada di depan pasar itu.


“Boleh aku bertanya sesuatu mas?” tanya Nina setelah mendapatkan kesempatan.


Kamal menghentikan kunyahannya dan menatap Nina, “Tanyakan, aku akan menjawabnya.”


“Apapun?”


“Apapun asal aku bisa menjawabnya.”


“Kenapa Silvi, mas?”


Kamal bukan tidak tahu jika Silvi adalah teman dekat Nina, mereka bahkan bersahabat saat masih sekolah, kemana-mana mereka selalu bersama. Dan Silvi?


“Kenapa bukan orang lain?” tanya Nina lagi.


“Karena Silvi adalah alasan kenapa aku menerima lamaran bapak kamu,”


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...