
"Mas maaf ya sudah membuat mas Kamal gagal menunggui Akmal." ucap Silvi yang sudah berbaring di atas tempat tidurnya.
"Nggak pa pa, di rumah sakit sudah ada Nina. sedangkan di sini kamu sendiri, jadi jangan khawatir ya." ucap Kamal sambil mengusap manja kepala Silvi.
Silvi tersenyum puas, nyatanya sayang yang ia punya dari Kamal masih sama. Perasaan bangga itu muncul tak kala Kamal lebih mementingkan dirinya di bandingkan anak-anaknya sendiri.
Sebenarnya Kamal sudah bersiap-siap hendak berangkat lagi ke rumah sakit, tapi segera Silvi berpura-pura pingsan agar sang suami tidak meninggalkannya.
Ia benar-benar tidak rela jika perhatian sang suami terbagi apalagi jika harus berduaan dengan mantan istrinya.
"Ya sudah kamu istirahat ya, biar mas hubungi Nina agar ia tidak pulang."
"Iya mas," ucap Silvi sambil pura-pura memijat kepalanya.
Kamal pun memilih keluar dari kamar untuk bicara dengan Nina. Baru saja hendak menghubungi Nina, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Tepat sekali," gumam Kamal dan segera menggeser tombol terima.
"Assalamualaikum, mas." suara di seberang sana.
"Waalaikum salam,"
"Mas ini sudah malam loh, Sasa sudah mengantuk_." belum sampai Nina menyelesaikan ucapannya, Kamal sudah lebih dulu memotongnya.
"Aku nggak jadi ke rumah sakit, Silvi habis pingsan."
Segera Nina terdiam, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Maaf? terimakasih? Atau tetap memaksa? Apa dia masih punya hak itu untuk anak-anaknya?
"Kamu masih di sana?" tanya Kamal saat tidak ada lagi jawaban dari Nina.
"Ya mas, assalamualaikum." Nina segera mematikan sambungan telponnya tanpa berniat menunggui jawaban dalam dari pria yang pernah mengisi perjalanan hidupnya itu.
***
Meskipun tidak masuk, tapi Dirga juga tidak berniat meninggalkan rumah sakit. Entah ikatan apa yang telah terjalin antara dirinya dan anak-anak itu hingga ia merasa bersalah saat harus mengabaikan mereka.
Mengetahui Kamal dan istrinya tidak kunjung kembali, Dirga pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah sakit, tapi sebelum itu ia menghubungi seseorang.
"Hallo, tolong ke rumah sakit."
"Baik mas,"
Dirga segera mematikan sambungan telponnya, ia pun berjalan menuju ke ruang perawatan Akmal.
Tok tok tok
Pelan Dirga mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali dan membuat penghuninya menoleh ke arahnya.
"Paman Aga," meskipun mengantuk Sasa masih bisa bersorak gembira sambil berlari menyambut paman Aga nya.
"Hai Sasa," Dirga pun mengendong Sasa dan membawanya mendekat pada Nina dan Akmal.
"Kenapa paman baru datang?" pertanyaan itu lebih mirip protes yang di lontarkan oleh Akmal.
"Iya, maaf ya. Sedari tadi paman banyak sekali pekerjaan. Bagaimana keadaan kamu? Sudah lebih baik?" tanyanya dan Akmal pun menganggukkan kepalanya. kemudian Dirga menoleh pada Nina yang tentu ekspresi nya berbeda dari kedua anaknya.
"Maaf ya, aku kebetulan lagi ada urusan di sini. Jadi sekalian lihat keadaan Akmal." ucap Dirga lirih dan Nina mengangguk pelan.
"Terimakasih, bapak sudah sangat perhatian pada anak-anak Nina. Maaf ya Nina harus bolos dua hari ini."
Dirga pun menganggukkan kepalanya, Sasa masih tetap dalam gendongannya dan mereka pun lanjut mengobrol. Dirga dan Akmal begitu akrab membuat Nina merasa tidak enak sendiri.
Akhrinya karena melihat Sasa yang sudah mengantuk, Dirga pun meminta Nina untuk mengajak Sasa pulang.
"Tapi pak_," Nina tidak mungkin merepotkan pria itu lebih banyak lagi.
"Saya sudah minta pak Munir untuk jemput di depan, kasihan kalau pak Munir harus tunggu lama."
"Pak..., tapi_," Nina jelas tidak bisa menerima kebaikan pria itu terlalu banyak.
"Nanti kalau ayahnya anak-anak datang, aku akan hubungi kamu."
Dia tidak akan datang pak ..., batin Nina mengingat kembali bagaimana mantan suaminya baru saja menghubungi.
"Jangan sungkan begitu. Saya lakukan ini juga karena saya sayang sama Sasa dan Akmal. Jadi kamu jangan_,"
"Mana berani saya berpikir seperti itu," dengan cepat Nina menyambarnya, ia tidak mau pria itu berpikir macam-macam.
***
Setelah sampai di rumah, Nina segera mengganti baju dan bersih-bersih , begitu juga dengan Sasa, kemudian ia menemani Sasa tidur.
Barus aja memejamkan matanya, tiba-tiba ponselnya berdering, setelah melihat siapa yang melakukan panggilan, Nina pun segera mengeser tombol terima.
"Assalamualaikum, Ta. Ada apa?"
"Waalaikum salam, Na. Gimana Lo jadi pulang? Kamal yang nungguin Akmal? Gue kok nggak tega ya, apa aku minta pak Hanif buat temenin Akmal ya."
"Nggak perlu Ta, nih gue lagi di rumah sama Sasa. Yang nungguin Akmal bukan mas Kamal, Ta. Tapi pak Dirga."
"Hahhhh, syukurlah."
"Kok syukurlah sih Ta?"
"Ya gimana lagi, gue lebih percaya sama mas Dirga di banding ayahnya sendiri. Apalagi sama si ulet bulu itu, kalau nggak hamil pengen banget ngulek lambenya yang lower itu."
"Astaghfirullah Ta, ingat kamu lagi hamil."
"La iya, makanya aku masih ingat, nggak bertindak sekarang. Ntar aja gue tahan sampai lahiran."
Nina hanya bisa tertawa mendengar celotehan pedas dari sahabatnya, setidaknya setiap kali ia ngobrol dengan sahabatnya bisa mengurangi rasa sakit hatinya.
***
Siang ini seharusnya Akmal sudah boleh keluar dari rumah sakit, tapi Nina malah termenung di depan meja resepsionis, tatapannya kosong dengan tangan yang memegang erat selembar kertas berisi tagihan rumah sakit.
Biayanya hampir tembus seratus juta, padahal Akmal hanya tiga hari di rumah sakit. Jika saja Akmal tidak masuk ruang VIP, dan buka obat mahal yang di sodorkan kepada Akmal, sudah pasti biaya yang harus di keluarkan Nina tidak lebih dari sepuluh juta.
Di tangan kanannya juga memegang sebuah kartu asuransi kesehatan dari pemerintah, tentu asuransi itu tidak berlaku untuk ruang VIP.
Srekkkk
Kertas yang ia pegang tiba-tiba di tarik oleh seseorang, tapi orang itu bukan orang yang sangat ia harapkan kedatangannya. Nina begitu berharap Kamal datang setelah ia berhasil menghubunginya, setidaknya Kamal bisa menggadaikan mobil atau apapun yang dia punya, tapi ternyata yang datang malah bosnya.
"Biar saya yang melunasinya!"
",Tapi pak_,"
Nina nyatanya kalah cepat meskipun ia menyusul Dirga dengan setengah berlari.
Setelah menscan barcode, pembayaran pun selesai dan petugas resepsionis pun memberikan bukti pelunasan pembayaran.
"Pak, insyaallah saya akan menggantinya nanti dengan gaji saya." ucap Nina sambil mengejar pria itu.
Dirga berhenti dan tersenyum pada Nina,
"Tidak perlu."
"Tapi saya tidak mau punya hutang Budi terlalu banyak sama bapak." ucap Nina keras kepala, ia sudah terlalu banyak berhutang Budi pada pria yang bukan siapa-siapanya itu.
"Baiklah, bagaimana jika kamu membalasnya dengan Budi baikmu juga, bantu saya saat saya membutuhkan bantuanmu."
"Bagaimana kalau tidak sepadan? Saya akan tetap merasa berhutang pada pak Dirga, dan itu sama saja harga diri saya yang saya pertahankan agar tetap bisa di banggakan anak-anak saya hilang pak."
"Saat saya butuh bantuanmu yang sepadan baru saya akan memberitahu."
Nina tidak menyangka pria itu jauh lebih keras kepala dibanding dirinya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...