
Dirga maupun Nina menyadari semua itu. Membuat Nina merasa tidak nyaman, ia ingin sekali segera masuk kembali ke dalam mobil tapi Dirga mencegahnya.
"Tunggu!" ucap Dirga lirih dan Nina pun mengurungkan niatnya, ia menoleh pada pria yang untuk pertama kalinya memegang pergelangan tangannya itu.
Menyadari arah tatapan Nina, dengan cepat Dirga pun melepaskan genggaman tangannya.
"Mohon maaf minta waktunya sebentar ibu-ibu semua, kebetulan ada yang ingin saya sampaikan." ucap Dirga kemudian pada ibu-ibu itu.
Seketika ucapan Dirga membuat ibu-ibu yang sebelumnya saling berbisik menjadi diam dan tengah tidak sabar menunggu pengumuman dari Dirga, pria yang terbilang cukup tertutup itu. Atau lebih tepatnya hampir tidak pernah bergaul dengan para pria di tempat itu. Meskipun begitu Dirga tidak pernah absen memberi iyuran lingkungan, bahkan kerap lebih, bahkan tidak jarang memberi sumbangan setiap kali ada warga lain yang menbutuhkan.
"Assalamualaikum semuanya, insyaallah besok jam sembilan pagi kami akan melangsungkan pernikahan secara sederhana di rumah kami, jadi kami harap kehadiran ibu-ibu semua ke rumah. Silahkan berita ini di lanjutkan ke tetangga yang lain agar besok juga bisa menyaksikan pernikahan kami,"
Tentu pengumuman ini tidak hanya membuat para tetangga tercengang, bahkan Nina dan anak-anak nya pun ikut tercengang.
"Terimakasih atas perhatian, wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatu." ucap Dirga mengakhiri ucapnya sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada sambil sedikit membungkuk.
Dirga pun mengajak Nina dan anak-anak nya untuk masuk ke dalam mobil.
***
"Jadi paman Aga akan jadi ayah Sasa, buk? Iya ya paman Aga?" tanya Sasa dengan wajah polosnya. Ini sudah pertanyaan ke sekian selama berada di dalam mobil.
"Iya sayang." Nina sengaja mewakili Dirga untuk menjawabnya
"Trus kalau paman aga jadi ayah Sasa dan kak Akmal, trus ayah Kamal jadi ayahnya siapa?"
"Tetap jadi ayahnya adek sama kakak." sekali lagi Nina yang membantu menjawab.
"Kalau begitu ayah Sasa dan kak Akmal dua dong, trus panggilnya gimana?"
Nina terdiam, Nina bingung harus menjelaskan bagaimana pada anak perempuannya itu, beruntung Dirga menyadarinya.
"Gimana kalau kalian panggil paman Aga, papa saja." kali ini Dirga yang memberi jawaban.
"Wahhhh keren, Sasa punya papa dan punya ayah." ucap Sasa sambil bertepuk tangan kecil.
Berbeda dengan Sasa, kali ini Akmal lebih diam. Hal itu tentu di sadari oleh Dirga, berkali-kali Dirga melirik ke arah Akmal melalui cermin kecil yang menggantung di kaca depan. Akmal terlihat hanya terus memilih baju kokonya dan sesekali tersenyum tipis, seperti ada yang tengah di pikirkan oleh anak itu.
***
Akhirnya Meraka sampai juga di rumah. Meskipun jarak antara masjid dan rumah tidak begitu jauh tapi Dirga sengaja memperlambat laju mobilnya agar ia bisa lebih lama berbincang dengan anak-anak.
Nina begitu terkejut saat melihat rumah sudah ramai. Banyak sekali mobil yang terparkir di depan, ada sekitar tiga atau empat mobil dan semuanya mobil pik up yang bak belakang penuh dengan barang-barang.
Orang berlalu lalang tengah sibuk memasang tenda dan segala pernak perniknya.
"Mereka siapa pak?" tanya Nina yang segara turun. Ia tidak menyangka ada secepat ini datangnya. Padahal mereka baru membicarakan pernikahan itu sekitar satu setengah jam lalu.
"Orang yang akan mengurus pernikahan kita." ucap Dirga bahkan tanpa menatap ke arah Nina. Ia masih sibuk dengan ponselnya, sepetinya Nina baru menyadarinya jika pria itu sedari tadi terus mengetikkan pesan singkat pada seseorang.
"Maksudnya?"
"Besok pagi rumah ini sudah harus di sulap menjadi tempat hajatan. Aku juga sudah meminta Radit untuk mengirim undangan online pada anak-anak lain. Aku juga sudah meliburkan kantor untuk dua hari ke depan."
"Hahh!" mulut Nina membulat sempurna, sedangkan Sasa sudah berlarian ke sana kemari mengikuti orang-orang yang tengah bekerja itu.
"Dan lagi, surat-surat sudah aku urus jadi kamu jangan pikirkan hal itu."
Tidak pernah terpikirkan sebelumnya jika pria yang menjadi atasanya itu akan seantusias itu melakukan pernikahan ini. Nina pikir Dirga menikah dengannya hanya untuk formalitas saja dan semua yang di lakukan Dirga mematahkan semuanya.
"Tapi dari mana pak Dirga dapat surat-surat Nina? Nina kan belum memberikannya sama bapak."
"Kamu pernah mengirimkan CV ke perusahaan. Jadi tidak sulit bagi Radit untuk mengaturnya, apalagi Radit punya saudara di kantor urusan agama."
"Sekarang tidurlah. Oh iya, aku boleh kan bicara sama Akmal sebentar?"
Nina mengangukkan kepalanya. Ia meninggalkan Akmal bersama Dirga.
Dirga mengajak Akmal ke bicara di taman belakang. Ia duduk berjongkok di depan Akmal yang tengah duduk di kursi rotan.
Akmal menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Lalu kenapa Akmal diam saja sedari tadi?"
Akmal terlihat ragu untuk mulai bicara hingga Dirga kembali meyakinkannya.
"Katakan saja. Paman tidak akan marah."
"Akmal hanya takut."
"Takut apa?"
"Apa paman Aga bisa janji sama Akmal?" tanya Akmal dan Dirga menatap Akmal dengan tatapan serius.
"Janji apa?"
"Ibu tidak pernah memikirkan Kebahagiaanya sendiri, selama ini ibu hanya akan bahagia kalau ayah, Akmal dan Sasa bahagia."
Dirga terpaku dengan ucapan Akmal, selama ini ia menganggap Akmal layaknya seperti anak biasanya, ia tidak pernah menyangka jika Akmal punya pemikiran sedewasa ini di usianya yang masih begitu kecil.
Dirga pun tersenyum dan menakup kedua bahu Akmal,
"Paman janji. Paman janji akan meletakkan kebahagian ibu kalian dan kalian di atas kebahagiaan paman. Ini janji paman sebagai sesama laki-laki."
***
Di dalam kamar yang terkunci dari dalam itu, Wulan berteriak-teriak seperti orang gila saat sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya. Itu pesan dari Radit. Sebuah undangan online di sana.
Srekkkk
Semua barang-barang yang berada di atas meja rias berjatuhan kelantai dan sebagian pecah hingga isinya berserakan di lantai.
"Nggak, mas Dirga nggak boleh melupakan aku."
"Nggak, aku nggak terima ini."
"Mas Dirga hanya milikku, Wulan."
Remon yang baru saja datang begitu terkejut mendengar keributan dari dalam rumah.
"Ada apa?" tanyanya pada pelayan.
"Nyonya sepertinya tengah mengamuk tuan."
Remon pun segera berlari menaiki tangga.
"Wulan, buka pintunya!" teriaknya sambil menggedor-gedor pintu itu, karena tidak ada respon dari dalam Remon meminta kunci cadangan pada penjaga.
Hingga akhrinya pintu pun berhasil di buka.
"Apa yang kamu lakukan?"
Mendapat pertanyaan itu, bukannya reda kemaran Wulan semakin menjadi. Ia menghampiri Remon dengan penuh kemarahan. Ia memukul dada Remon dengan kedua kepalan tangannya.
"Ini semua gara-gara kamu, jika saja malam itu kamu tidak mengajakku minum-minum, semua ini tidak akan pernah terjadi."
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰