AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
82. Berbanding terbalik



Baru saja suaminya mengubungi dan mengatakan jika akan membawa anak-anak ke kantor sekalian karena ia sudah ada di sekolah anak-anak. Sebenarnya Nina sedikit curiga karena suaminya ada di sekolah anak-anak sedangkan tadi pagi sang suami mengatakan kalau ada meeting penting. Di tambah Radit sudah kembali dari meeting setengah jam lalu, sedangkan ia tahu suaminya meeting dengan pria itu.


Nina pun menyiapkan makanan untuk suami dan anak-anaknya di pantry kantor saat tiba-tiba Radit datang hendak membuat kopi.


"Eh, ada Bu Nina." sebenarnya ia merasa tidak enak tapi sudah terlanjur masuk terpaksa Radit melanjutkan langkahnya.


"pak Radit, masuk pak. Mau Nina bikinin kopi sekalian? Ini Nina sedang buat kopi untuk pak Dirga."


"Nggak deh, biar aku racik sendiri, minta air panasnya aja." ucap Radit yang masih m3rada tidak enak.


Suasana di dalam pantry menjadi begitu canggung, awalnya tidak begitu sebelum Nina menyandang status sebagai istri bos muda itu.


"Pak Radit, boleh Nina bertanya?" akhrinya Nina mengesampingkan rasa canggungnya demi menjawab rasa penasarannya. sejenak terlihat tangan Radit berhenti meracik kemudian ia lanjutkan lagi.


"boleh, katakan!"


"Bukannya pak Dirga pergi meeting dengan pak Radit, tapi kenapa pak Radit sudah kembali?"


Mendengar pertanyaan dari Nina, Radit cukup terkejut ternyata Nina tidak tahu kalau Dirga menghadiri rapat wali murid.


"Kamu serius nggak tahu?" seketika rasa canggung itu mencair. Dan Nina pun menganggukkan kepalanya.


"Pak Dirga ninggalin meeting penting loh demi menghadiri acara wali murid untuk putra kamu."


Seketika Nina tercengang, ia bahkam tidak tahu menahu soal itu. Akmal tidak pernah bercerita tentang itu sebelumnya. Seketika pikirannya tertuju pada meeting yang sudah di tinggalkan oleh suaminya itu.


"Bagaimana meetingnya?"


"Beruntung pak Dirga bisa mengendalikan semuanya."


Nina merasa lega meskipun ia masih begitu merasa bersalah karena ia tidak tahu tentang anaknya.


Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, kini Nina sudah berada di dalam ruangan suaminya. Ia tidak sabar ingin segera bertanya pada sang suami.


Benar saja, dua malaikat kecilnya masuk lebih dulu dan memeluk Nina.


"Sasa seneng deh buk, papa Aga datang ke sekolah. Semua teman Sasa deketin Sasa, katanya papa Aga ganteng banget." celoteh Sasa dan Nina pun tersenyum, kini tatapan Nina beralih pada sang putra.


"Kak, ibuk perlu penjelasan kakak." mendapat tatapan serius dari sang ibuk, Akmal pun langsung menundukkan pandangannya merasa bersalah.


Ceklek


Dirga masuk ke dalam ruangan, ia tahu dari Radit jika Nina baru saja mengetahui darinya.


"Anak-anak, di lantai atas papa sudah buat Playground buat kalian, ke sanalah sama paman Radit." ucap Dirga dan Sasa langsung bersorak h menarik tangan sang kakak, tapi Akmal bergeming di tempatnya.


"Kak, biar papa yang bicara sama ibuk." ucap Dirga lagi dan akhrinya Akmal setuju. mereka pun meninggalkan ruangan itu dan Radit sudah menunggu mereka di depan ruangan.


Kini di dalam ruangan itu tinggal mereka berdua. Dirga tersenyum dan berjalan mendekati Nina, tangannya langsung meraih pinggang Nina hingga kini tubuh mereka begitu dekat.


"Mas, Nina mau bicara."


"Kita bicarakan nanti ya." ucap Dirga dengan suara berbisik di telinga Nina, bibirnya terus mencumbu wajah sang istri.


"Mas, Nina serius."


"Baiklah, tapi tetap begini." ucap Dirga dengan enggan melepas pelukannya. Dan Nina pun akhirnya menyetujuinya.


"Jadi aku yang minta Akmal untuk tidak mengatakannya padamu."


"Kenapa?"


"Karena undangannya untuk para ayah yang tampan. Atau mungkin kamu mau ikut ya tadi, tahu gitu aku ajak." Dirga malah membalasnya dengan becandaan hingga membuat sebuah cubitan mendarat tepat di pinggang Dirga.


"Maaassss."


Dan mereka pun hanya Salang tertawa, Dirga semakin melancarkan ciumannya hingga sebuah langkah kaki yang tertahan menghentikannya. Mereka pun menoleh ke arah pintu.


Nina yang melihat siapa yang datang hendak mendorong tubuh sang suami agar terlepas dari pelukan sang suami tapi Dirga malah menahannya.


"Maaf, aku lupa kalau mas Dirga sudah menikah. Baiklah, aku akan keluar dulu." ucap wanita itu.


"Tidak perlu, masuklah." ucap Dirga menanggapi.


Wanita itu adalah Wulan, sepertinya ia masih begitu penasaran dengan pernikahan Dirga dan nina. Ia menggangao pernikahan itu hanya sebuah perjanjian saja, tapi setelah melihat kemesraan mereka hari ini. mungkin dia akan berubah pikiran.


Dirga pun meminta Nina duduk dan membiarkan dirinya tetap berdiri di sampingnya karena tangannya kini berada di bahu Nina.


"Duduklah." perintah Dirga pada Wulan.


"Tidak perlu, saya ke sini hanya ingin mengantar Dava. kata mama mas Dirga telah membuat sebuah Playground di sini, aku pikir mas Dirga membangunnya untuk Dava. Jadi aku mengantarnya ke sini." ucap Wulan sambil melirik pada Nina, ia hendak mencari kemenangan untuk dirinya sendiri.


"Tidak! Aku membuatnya untuk kedua anakku, tapi kalau Dava mau ikut main silahkan, pasti Sasa dan Akmal juga senang."


Seketika wajah Wulan bertambah pias, tangannya mengepal sempurna hingga buku-buku jarinya terlihat. Ingin sekali menarik Nina dan membawanya menjauh dari Dirga tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa saat ini.


***


"Ini udah satu Minggu loh mas, mas Akmal nggak dapat kerja juga?" Silvi sudah mulai kesal saat melihat suaminya yang beberapa hari ini menganggur, apalagi setiap hari selalu ada saja pengeluaran yang tidak sedikit, mulai dari bayar listrik hingga bayar air, wifi juga. beruntung rumah yang mereka sewa sudah di bayar satu tahun ke depan.


"Ini juga lagi tanya-tanya Vi. Lagi pula aku ngganggurnya juga baru beberapa hari."


"Tetap aja mas, tiap hari kita butuh makan."


"Kan masih ada gaji kamu."


"Nggak bisa dong mas, gaji aku khusus buat Sakila, sekolah Sakila, jajan Sakila, lesnya, belum lagi Allah tiba-tiba ada acara di sekolah."


"Kamu kok jadi perhitungan gini sih sama aku. kamu nggak ingat siapa yang udah membantu biaya kuliah kamu hingga kamu bisa mendaftar jadi PNS!?"


"Mas kok jadi ungkit-ungkit yang sudah lalu. Atau gini aja deh mas, mas kan punya kebun sama sawah di kampung, kenapa nggak di jual aja buat biaya hidup kita selama mas Kamal belum kerja, lumayan mas bisa untuk beberapa tahun ke depan."


"Nggak!" dengan cepat Kamal menolaknya,


"Kenapa?"


"Tanah itu aku beli jauh sebelum aku menikah sama kamu, tanah itu hak Akmal dan Sasa. Aku dan Nina yang membelinya."


"Masih aja mikirin mereka, memang mas pikir mereka mikirin nasib mas Kamal saat ini? Suami Nina sudah kaya, nggak butuh tanah yang nggak seberapa itu."


Bersambung


Maaf ya teman-teman, kakak-kakak, lama nungguin up nya. Aku lagi nggak baik-baik saja😭, semangat nulis nya ilang gara-gara baru saja dapat kabar nggak masuk 80 bab terbaik. Maaf ya, ini lagi ngumpulin semangat lagi buat nulis, mungkin bab selanjutnya nggak akan banyak, jadi kalau pengen baca karya aku yang lain yang lagi on going bisa buka aplikasi sebelah warna orange judulnya ' Terjebak pernikahan dengan ustad tampan'


Makasih karena terus menunggu karya ini, walaupun sering nggak up🙏🙏🙏🙏


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


@tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰