AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
14. Bos yang ramah



Bab 14


Pagi ini setelah mengantar anak-anak ke sekolah, Nina pun langsung menuju ke tempat kerjanya dengan hanya berbekal sebuah alamat yang di berikan oleh Mita, semalam Mita sudah memberitahukan padanya untuk menemui seseorang di sana yang ia bilang sebagai HRD.


“Permisi,” ucap Nina sambil mengetuk sebuah ruangan dengan pintu paca buram tebal hingga ia bisa melihat meskiupun tidak jelas ada seseorang di dalam sana setelah seorang security mengantrakannya ke ruangan itu.


“Masuk!” perintah seseorang yang tengah serius dengan berkas di atas meja itu dengan bolpoin di tangan yang ia garuk-garukan ke pelipisnya yang tidak gatal.


Nina pun masuk dan berdiri berjarak setengah merean dari meja kerja wanita itu, wanita dengan tubuh tambun dan pakaian rapi khas kantoran,


“Saya Nina , bu.”


Wanita itu bergegas mendongakkan kepalanya dan tersenyum, “Jadi kamu yang di rekomendasikan bos buat jadi office girl?”


Nina tampak bingung, ia tidak tahu temannya suami Mita itu bos atau bukan. Yang ia tahu ia di rekomendasikan langsung oleh temannya suami Mita.


“Saya tidak tahu, bu. Tapi saya di rekomendasikan oleh pak_,” Nina kembali memeriksa pesan dari Mita, ia masih ingat jika Mita menuliskan nama seseorang, “ Sama pak Dirga.”


“Ya, ya itu. ya sudahayo ikut aku biar aku tunjukkan apa saja yang harus kamu kerjakan.”


Mendengar hal itu, Nina malah kembali bingung. Ia bahkan masih bergeming di tempatnya saat wanita itu sudah berada di ambang pintu,


“Kenapa masih di situ? Ayo!” ajak wanita itu lagi setelah menyadari Nina masih berdiri di tempatnya.


“Jadi saya sudah di terima, Bu?” tanya Nina ragu.


“Ya pasti lah, kamu kan rekomendasi langsung dari pak Dirga.”


Akhirnya Nina pun mengikuti kemanapun wanita itu pergi, ia bahkan langsung di beri seragam kerja khas office girl. Wanita itu menunjukan apa saja yang harus di kerjakan oleh Nina, tugas utamanya adalah membersihkan ruangan pak Dirga sekaligus menyiapkan segala keperluan bosnya itu karena sang bos tidak punya asisten pribadi seperti bos-bos yang lain. ia hanya memiliki seorang sekretaris yang tugasnya menyiapkan berkas-berkas dan juga menemani bos saat meeting atau ada proyek. Jadi nina bertugas menyiapkan kopi, karena bosnya penyuka kopi juga memesankan makanan saat bosnya meminta karena bos lebih sering lembur dari pada pulang normal seperti pekerja lainnya.


“Tapi bu, saat jam dua siang aku harus ijin untuk jemput anka-anak dari sekolah. Saya harap ibu membaca cv saya,” ucap Nina khawatir, ia khawatir pihak periusahaan tidak akan mengijinkan.


“Jangan khawatir, karena jam segitu bos juga jarang ada di kantor, asal pekerjaanmu selesai kamu bisa pergi, tapi syaratnya harus cepat kembali.”


“baik bu, saya mengerti”


“Ya sudah, untuk hari pertama ini kamu akan di temani sama Mirna.” Ucap wanita itu sambil menunjuk seseorang dengan pakaian yang sama persis seperti yang tengah Nina kenakan saat ini, hanya bedanya warna baju wanita itu tampak sudah memudar tidak seperti miliknya yang masih masih begitu jelas warnanya karena masih baru. Terlihat dari warna bajunya yang memudar, jelas dia seorang senior.


Etelah mendapat pengarahan dari senior Mirna , Nina pun mulai bekerja sendiri. Ia punya tuga sutama yaitu melayani langsung keperluan Bos.


“Ya sudah, satu jam lagi pak bos datang, jadi di meja pak bos harus sudah ada gorengan sama kopi.” Ucap senior Mirna.


“Gorengan mbak?”


“Iya, Ini uangnya.” Senior Mirna menhyerahkan selembar uang lima puluh ribu pada Nina.


“Ini buat apa mbak?”


“Terserah uang ini mau kamu buat beli gorengan atau kamu buat sendiri, sekalian kopinya, sisanya buat jaga-jaga kalau pak bos sepnegn jajanan lain, kalau enggak berarti bonus buat kamu.”


“Serius mbak?”


“Iya, tapi jarang sisa sih. Kalau mau sisa, biasanya yang sebelum kamu buat gorengannya sendiri trus di hitung kayak pas beli di penjual gorengan. Lumayan lah sisanya, sepuluh atau dua puluh ribu buat uang bensin.”


Nina tampak berpikir, jika yang di katakana senior Mirna itu benar. Jika ia beli di penjuual gorengan satu bijinya dua ribu, paling butuhnuya hanya sepuluh atau dua puluh biji. Kalau dia buat sendiri, bukan hanya sisa sepuluh ribu, bisa-bisa sisa tiga pulh ribu. Lumayan uangnya bisa ia tabung untuk biaya sekolah Akmal dan Sasa. Ia tidak mungkin terus bergantung pada mantan suaminya, apalagi sebentar lagi pasti mantan suaminya menikah resmi dengan Silvi.


“Ya udah, aku tinggal nggak pa pa ya. Bisa kan?”


Akhirnya Nina di tinggak sendiri. Tapi ini jadwalnya menjemput anak-anak. Ia pun memilih untuk menjemput anak-anaknya terlebih dulu.


“Titip anak-anak ya Ta,” ucap nina saat menurunkan anak-anaknya bahkan ia tidak turun dari motornya.


“Iya, jangan khawatir. Sudah sana berangkat lagi, ayo anak-anak salim sama ibuk dulu,” ucap Mita dan kedua buah hati Nina pun melakukannya.


“Kalian baik-baik ya di sini, tunggu sampai ibuk jemput.”


“Iya buk,” ucap mereka berdua.


“Jagain adek,” ucap Nina pada Akmal yang memang sudah mulai bisa ia ajak diskusi.


“Iya buk,”


Akhirnya Nina pun benar-benar meninggalkan anak-anaknya dan kembali ke kantor. Seperti intruksi senior Mirna, sebelum naik Nina pun memutuskan mencari penjual gorengan. Ia tidak mungkin membuat sendiri hari ini, mungkin ia bisa mulai besok dan untuk hari ini ia beli.


Ia masih heran karena pemilik perusaan yang cukup besar ini ternyata menyukai gorengan. Ia pikir hanya orang-orang menengah kebawah yang suka gorengan karena menurut ahli gizi tidak baik bagi kesehatan.


Beruntuk penjual gorengan berada tepat di seberang gedung yang menjadi tempat Nina bekerja. Tepat saat ia kembali dari membeli gorengan, ia mendapat kabar dari senior Mirna kalau pak bos baru saja datang. Nina mempercepat langkahnya, ia masuk ke dalam pantry dan memindahkan semua gorengan ke atas piring, tidak lupa ia juga menyalakan kompor dan mulai membuat kopi.


Setelah semuanya selesai, ia meletakkan piring yang berisi gorengan dan secangkir kopi di atas nampan dan membawanya ke ruangan bos. Tepat di depan pintu ia memindahkan tampan pada tangan sbelah kananhya dan menggunakan tangan sebelah kirinhga untuk mengetuk pintu.


“Masuk,”


Setelah mendapat jawaban, Nina pun perlahan membuka pintu yang tidak tertutup sempurna. Seorang pria sudah duduk di kursi kerja dengan tangan yang fokus pada laptop di depannya.


Nina segera meletakkan piring yang berisi gorengan dan secangkir kopi di atas meja, karena pria itu tidak memperhatikannya membuat Nina bingung harus melakukan apa lagi,


“Pak, itu gorengan dan kopinya,” ucapnya sebelum ia memutuskan untuk pergi.


Karena ucapan Nina, rupanya berhasil membuat pria itu mendongakkan kepalanya dan menatap kea rah Nina,


“Kalu office girl yang baru?” tanya pria itu.


“Iya pak, nama saya Nina. Semoga bapak puas dengan pekerjaan saja, jika ada yang kurang mohon bimbingannya.” Ucap Nina dengan sopan.


“Baik, semoga betah kerja di sini ya. Salam kenal nama saya Dirga.”


Nina tidak menyangkan ternyata atasannya begitu ramah, ia juga selalu menyisipkan senyum di sela ucapanya membuat Nina tidak tegang lagi.


“Iya pak, terimakasih banyak.”


“Ya sudah kamu boleh keluar sekarang, nanti kalau saya butuh saya akan panggil kamu,”


“Baik pak.”


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...