AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
51. Surat dari mengadilan



Hari ini Akmal sudah mulai sekolah lagi setelah satu Minggu lebih harus istirahat di rumah setelah kepulangannya dari rumah sakit. Karena meskipun sudah di perbolehkan pulang, ia masih terus mendapat pantauan dari dokter yang di tunjuk oleh Dirga.


Nina pagi ini mengantar kedua buah hatinya ke sekolah, seperti biasa setelah mengantar anak-anak nya ia akan menyempatkan waktunya sejenak untuk pulang menyiapkan gorengan yang akan di bawanya ke kantor dan juga membersihkan rumah atas.


Tepat jam delapan kurang seperempat ia bersiap berangkat ke kantor. tangannya begitu cekatan meletakkan barang bawaannya di bagian depan motornya dan mengaitkan pengait helm di dagunya. Saat semuanya sudah siap, ia pun bersiap untuk menghidupkan mesin motornya.


Baru saja menstater motornya, tiba-tiba sebuah motor dengan warna khas berikut dengan jaket pemiliknya yang berwarna orange.


"Betul dengan Bu Nina Widyawati?"


"Iya, saya mas. Ada apa ya?"


"Ini ada surat buat Bu Nina."


Setelah Nina mengucapkan terimakasih, pak pos pun segera meninggalkan Nina.


Nina menatap amplop berwarna coklat itu, ada kop pengadilan agama di bagian depan membuat penasaran Nina memuncak.


Masih ada waktu lima belas menit untuk sampai di kantor tempatnya bekerja, Nina pun memilih kembali melepas helmnya dan duduk di beton pembatas taman.


Dengan cepat Nina membuka amplop itu dan menarik kertas putih yang terlipat di dalamnya. Perlahan tangannya membuka lebar lembaran kertas itu.


Dunia Nina seakan runtuh begitu membacanya,walaupun hanya sepintas ia bisa mengetahui tujuan datang surat itu.


"Apa-apaan sih mas Kamal ini, apa coba maunya. Kenapa dia tidak henti-hentinya menyiksa aku dan anak-anak." air mata Nina sudah tidak bisa di bendung lagi. Hanya membayangkan saja sudah cukup membuat hatinya hancur apalagi jika mereka berhasil membawa anak-anak nya pergi dari sisinya.


***


Di tempat lain, Dirga tidak tengah berada di kampus tapi ia Berau saja mengikuti rapat besar yang di hadiri dewan direksi, mereka merapatkan mengenai gosip yang baru saja beredar. meskipun pihak mereka sudah berhasil mencabut kembali berita itu, tetap saja ingatan masyarakat akan kembali lagi ke berita itu jika suatu saat ada masalah yang menimpa keluarga Dirga.


"Dewan direksi hanya memberimu waktu satu bulan dari perjanjian, tadi sudah dengan sendiri kan." Mia begitu menggebu menjelaskan pada putranya itu. Sebenarnya ini caranya untuk mendesak sang putra agar segera menikah. Usianya sudah kepala tiga dan sebentar lagi kepala empat, empat atau lima tahun bukanlah waktu yang lama. Jika dia terus menunda untuk menikah bukan tidak mungkin jika putranya akan melajang meskipun usianya sudah kepala empat.


"Ma, Aga sudah mengatakan sejak awal jika Aga tidak peduli, Aga sudah punya perusahaan sendiri." Dirga paling tidak suka dipaksa untuk menikah, meskipun itu mamanya.


"Aga, jangan egois." tapi ternyata sang mama tidak mudah menyerah, ia sampai mengikuti terus langkah sang putra.


"Aga egois dari mana ma? Justru Aga kasih kesempatan Remon buat berkembang. Dia berhak punya kesempatan itu."


Mia menghentikan langkahnya, ia tidak suka dengan pendapat putranya,


"Ayolah tapi tidak sekarang, papa kamu juga tidak akan setuju." sekali lagi sang mama menggunakan senjata suaminya untuk menekan putranya.


"Aga pikirkan lagi."


***


Silvi mendatangi tempat kerja Nina. Sepertinya Nina sudah terlalu hafal dengan kedatangan Silvi, tidak ada lagi selain membuat masalah dengannya apalagi setelah surat yang datang tadi pagi.


"Duduklah!" perintah Silvi saat mereka sudah berada di sebuah kafe yang ada di depan kantor tempat Nina bekerja.


Nina pun ikut duduk dan Silvi memesan dua gelas orange jus.


"Aku tidak suka basa basi," ucap Nina segera. Lagi pula ia juga tidak punya banyak waktu hanya untuk menanggapi Silvi. Ia harus segera menjemput anak-anak.


Silvi tersenyum, "Sepertinya kamu sudah menerima suratnya?" tanyanya memastikan. tapi melihat ekspresi wajah kesal Nina, Silvi sudah bisa menduganya.


Hehhhh ....


Nina menghela nafas, ia berusaha keras untuk mengendalika. Emosinya, meskipun begitu dengan tangan mengepal dan mata yang belebat sempurna ia pun mulai bicara dengan Silvi.


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan? Aku tidak pernah bermasalah denganmu kenapa kamu selalu cari gara-gara denganku?" Nina sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya. Nafasnya terlihat naik turun meskipun ia dalam keadaan duduk.


Tapi Silvi tidak kalas emosi, ia mengeluarkan jari telunjuknya, meletakkannya tepat di depan wajah Nina,


"Sepertinya kamu lupa, kamu sudah membuat aku hidup menderita selama delapan tahun ini,"


"Kamu jangan sok polos Nina dan kamu tahu, kamu harus menggantinya. Aku tidak akan membiarkan kamu bahagia setelah apa yang kamu lakukan padaku. Itu sungguh tidak adil bagiku."


"Maksud kamu apa? Menderita apa?" Nina yang awalnya begitu kesal berubah bingung.


"Sudahlah, setelah ini kamu bersiap-siap saja kehilangan hak asuh anak-anak kamu dan pria itu pasti akan menjauh darimu."


Nina benar-benar tidak mengerti dengan apa yang di lakukan oleh Silvi. Ia malah bertambah kesal saat harus menanggapi tingkah Silvi. Ia pun memutuskan untuk undur diri.


***


Nina kembali dengan wajah kesalnya, tampak sekali dengan langkah cepat dan tanpa senyum sedikitpun itu. Bahkan ia tidak menyapa orang-orang yang dia temui saat berjalan menuju ke kantornya.


"Ibuk,"


Tapi panggilan itu mengalihkan perhatiannya, Nina segera mendongakkan kepalanya saat telinganya menangkap suara yang begitu ia kenali.


Dan benar saja, senyum sumringah menunggunya di depan sana. Nina pun seketika mengubah ekspresi wajahnya yang suntuk menjadi tersenyum dan mempercepat langkahnya menghampiri anak-anak.


"Kalian, kalian kok bisa di sini? Padahal ibuk baru mau berangkat buat jemput kalian."


"Nggak pa pa buk, hari ini pulang cepat. Kata paman Aga, ibuk satu kantor sama paman Aga, jadi sekalian paman Aga ajak kami ke sini. Ibuk nggak marah kan?" Akmal segera bicara banyak pada ibunya berharap sang ibu tidak akan marah.


Dirga yang baru saja memarkir mobilnya pun segera menghampiri mereka,


"Maaf ya Nin, kebetulan tadi saya sedang mengisi materi di sekolah Sasa dan Akmal, karena mereka harus pulang cepat jadi saya berinisiatif buat bawa mereka sekalian." Dirga pun segera menjelaskan pada Nina.


"Justru saya yang harusnya terimakasih pak, bapak sudah mau menjemput anak-anak."


"Baguslah kalau kamu tidak marah." ucap Dirga dengan santainya.


"Baiklah, kalau begitu saya mau ijin buat membawa mereka pulang dulu ya pak!?" ia tidak mungkin bekerja sambil membawa anak-anak. Ia khawatir teman-teman yang lainnya akan merasa iri.


"Kenapa harus pulang?" tanya Dirga tapi dia segera memberi penjelasan tentang pertanyaannya, "Maksud saya, saya tidak keberatan jika di sini dulu sampai nanti waktu pulang. Lagi pula mereka bisa bermain di ruangan saya, di sana kan luas dan cukup nyaman untuk bermain." ucap Dirga panjang lebar, terlihat sekali kalau dia tidak terima jika anak-anak Nina di bawa pulang.


"Jangan pak, mereka pasti akan menggangu bapak." ucap Nina merasa tidak enak.


"Mereka tidak akan menggangu saya, iya kan anak-anak?" Dirga meminta persetujuan anak-anak. Ia tahu Nina pasti tidak bisa menolak jika itu yang meminta anak-anak.


"Iya paman." jawab Sasa dan Akmal serentak dan Dirga pun tersenyum.


"Baiklah, ayo anak-anak siapa yang mau ikut paman?" ajak Dirga.


Akmal dan Sasa pun menoleh pada sang ibu, ia meminta persetujuan pada ibunya sebelum ikut dengan paman Aga nya.


"Boleh ya buk?" tanya Akmal.


"Boleh ya buk, Sasa janji Sasa nggak akan nakal." rayu sasa.


"Baiklah, boleh!" ucap Nina sambil mengangukkan kepalanya.


Ternyata kedekatan mereka cukup menarik perhatian karyawan lainnya. Awalnya mereka mengira berita yang sempat viral kemarin hanya sebuah kebetulan, tapi saat melihat pemandangan hari ini mereka jadi yakin jika gosip itu benar adanya.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...