
Kini mobil Dirga sudah terparkir di depan sebuah rumah mewah ala eropa, meskipun rumah Dirga sudah terbilang besar tapi rumah ini lebih besar dari yang ditinggali Dirga saat ini. Rumah dengan nuansa putih, serta pilar-pilar yang menjulang tinggi di bagian depan membuat rumah ini terkesan sangat mewah ditambah dengan tata ruang yang epik juga perkakas mahal.
Mobil yang di pakai saat ini benar-benar tidak menggambarkan kalau dirinya adalah pewaris utama perusahaan besar yang tengah di kelolah keluarga Wikrama. Dirga tetap datang dengan penuh kesederhanaan, bahkan pakaian yang di kenakan saat ini begitu sederhana, sebuah Hem berwarna coklat susu lengan pendek dengan bawahan celana hitam, sendal slop produksi dalam negri ikut menghiasi kakinya,
Kedatangannya langsung di sambut oleh beberapa menjaga dan juga pelayan rumah itu,
"Selamat datang mas Dirga." sapa pelayan dengan pakaian yang lebih menonjol di banding dengan pelayan-pelayan lainnya.
"Terimakasih, bi. Apa mama sama papa sudah datang?"
"Sudah ma, mas Remon juga sudah datang dari tadi," sambung pelayan itu tanpa Dirga bertanya.
"Baiklah, makasih bi."
Dirga pun segera masuk, sebenarnya rumah ini adalah milik Dirga karena ia adalah anak tertua. Tapi karena merasa dituakan membuat Dirga merasa tidak nyaman apalagi setelah Remon memutuskan untuk menikah muda, Dirga pun memilih tinggal di rumahnya sendiri.
Rumah besar itu lebih sering di tinggal karena papa dan mamanya jarang di rumah, sedangkan Remon juga memilih memboyong keluarga kecilnya untuk tinggal di apartemen miliknya.
"Paman Aga!" teriak Dava saat melihat kedatangan Dirga, ia juga segera berlari menghampiri Dirga dan memeluk tubuh pamannya itu.
Dirga pun segara berjongkok dan mengusap kedua pipi Dava,
"Jagoan paman, bagaimana basketnya? Paman dengar kemari tim Dava menang ya?"
"Iya paman, Dava yang berhasil masukin bola ke keranjang beberapa kali, Dava juga BLA BLA BLA, bla bla bla .....," Dava begitu antusias bercerita dan Dirga mendengarkannya tanpa merasa bosan sampai mereka tidak menyadari seseorang yang berdiri tidak jauh di belakang Dava.
"Selamat datang, mas Dirga."
Sapaan itu mengalihkan perhatian Dirga dari Dava, ia menatap ke sumber suara, seorang wanita berdiri dengan anggun di sana, dress hitam selutut begitu pas di tubuhnya.
"Terimakasih," jawabnya. Dan Dirga pun berdiri dengan tangan yang mengusap kepala Dava.
"Dava, sudah jangan ganggu paman," ucap wanita itu dan berhasil membuat Dava mengerucutkan bibirnya.
"Iya ma," ucapnya dengan sangat tidak ikhlas, ia pun berlalu meninggalkan Dirga dan wanita yang di panggilnya mama itu.
Wanita itu adalah Wulan, dia istri adik tirinya, Remon.
Sebelum menikah dengan Remon, Wulan sudah berkencan dengan Dirga lebih dari dua tahun, tapi ternyata Wulan lebih memilih mengkhianati Dirga dengan mengandung anak dari Remon.
"Bagaimana kabar mas Dirga? Wulan denger-denger mas Dirga baru buka resto baru ya, selamat ya mas." ucap Wulan dengan nada hangat, seolah mereka masih akrab seperti beberapa tahun yang lalu.
"Alhamdulillah, terimakasih atas ucapanya."
"Boleh dong mas sesekali traktir Wulan di sana," ucap Wulan lagi sambil tersenyum lebar hingga menampakkan gigi putih rapinya.
"Boleh," ucap Dirga dengan pasti lengkap dengan senyum tipisnya kemudian mengubah ekspresi wajahnya menjadi begitu dingin, "Asal kamu ajak juga suami dan anak kamu," ucapnya sambil berlalu meninggalkan Wulan.
Wajah Wulan seketika berubah masam, masih tersirat penyesalan dalam dirinya karena telah memilih berkhianat.
Dirga langsung menghampiri pria yang tengah duduk di sofa ruang keluarga sambil membaca beberapa berkas di tangannya, pria dengan rambut yang sudah di penuhi uban itu masih sangat semangat bekerja,
"Assalamualaikum, pa." sapa Dirga membuat pria bernama lengkap Adi Wikrama itu tersenyum padanya dan meletakkan begitu saja berkas yang ada di tangannya,
"Waalaikum salam, " ucapnya sambil menyambut uluran tangan Dirga,
"Alhamdulillah, sedikit demi sedikit pa."
"Papa bangga sama kamu," ucap Adi sambil menepuk-nepuk punggung putranya itu hingga tanpa mereka sadari ada tatapan tidak suka dari ujung tangga yang mengarah kepada mereka. Dia adalah Remon, meskipun Remon selalu menuruti apapun yang di perintahkan papanya, Remon tidak pernah bisa menggantikan posisi Dirga di hati Adi. Dirga tetaplah anak yang membanggakan baginya.
"Re, bergabunglah." ucap Mia, mama Dirga yang baru datang dari dapur saat melihat Remon berdiri tidak jauh dari putra dan suaminya. Meskipun secara sikap ia memperlakukan Remon sama seperti Dirga tapi tetap saja di hatinya yang paling dalam ia tidak bisa menerima penghianatan suaminya hingga tumbuh Remon.
Sudah bertahun-tahun yang lalu tapi rasanya masih sama, perasaan di hianati itu masih begitu sakit.
Remon pun tersenyum dan berjalan menghampiri Dirga dan juga Adi,
"Mas, sudah lama?" tanyanya berbasa-basi kemudian duduk di sofa lain yang lebih panjang dari sofa yang saat ini di duduki Dirga dan papanya.
"Baru saja, kata papa kamu berhasil mendapatkan proyek besar dari perusahaan di Thailand ya, selamat ya." ucap Dirga yang memang tidak mempermasalahkan jika akhirnya papanya mewariskan kerajaan bisnisnya pada Remon.
"Itu bukan apa-apa mas jika di bandingkan dengan mas Dirga yang sudah berhasil membuka resto baru, dan yang luar biasanya lagi kata teman-teman Remon, resto baru mas Dirga sangat ramai."
"Kamu berlebihan, tidak seperti itu juga,"
Selagi Dirga makan malam dengan keluarganya, Nina yang baru saja selesai membantu anak-anak nya mengerjakan tugas sekolah di kejutkan dengan suara ketukan dari luar.
Nina menatap ke arah jam dinding, masih jam delapan malam, tapi cukup malam untuk ukuran bertamu apalagi ia tidak merasa punya janji dengan seseorang.
Meskipun sedikit waspada Nina pun membukakan pintu, ia ingat di depan masih ada scurity, jadi jika ada yang mencurigakan ia akan segera berteriak minta tolong.
"Mas Kamal!?" Nina bertambah terkejut saat mendapati pria yang berdiri di depan pintu dengan wajah merah padam menahan amarah.
"Duduk mas," ucap Nina lagi setelah berhasil mengendalikan perasaan terkejutnya.
Beruntung Kamal bersedia untuk duduk, Nina pun mengambil kan air putih kemasan dari dalam rumah,
"Minum dulu mas,"
Kamal pun segera aku meminumnya, sebelum Kamal berbicara Nina kembali bertanya.
"Bukannya mas Kamal sudah berangkat kerja, kenapa masih ke sini?"
Mendapat pertanyaan itu, Kamal pun menatap tajam pada Nina membuat Nina segera menundukkan pandangannya,
"Ini semua gara-gara kamu!" ucapnya dengan nada tinggi.
"Kenapa Nina?" tanya Nina cepat karena ia tidak merasa bersalah sama sekali.
"Karena kamu mengembalikan uang yang aku berikan pada Akmal dan Sasa."
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...