
Dirga berjalan cepat hendak menuruni tangga tapi langkahnya segera terhenti saat melihat sebuah sepeda motor masuk ke halaman rumahnya, dengan cepat Dirga berbalik dan kembali masuk ke dalam rumah.
Dari balik jendela ia bisa melihat Nina menurunkan anak-anaknya, mereka masuk ke dalam rumah dan selang beberapa menit Nina kembali keluar dengan motornya meninggalkan anak-anak nya, Dirga sudah tahu kemana saat ini Nina pergi, Nina pasti kembali ke tempat kerjanya.
Seharusnya saat ini ia sudah berada di kantor untuk melakukan meeting dengan kliennya, tapi ia urungkan saat manik matanya menemukan bungkusan mainan yang sempat ia beli beberapa hari lalu.
Dirga malah meletakkan kembali tas kerjanya dan memilih mengambil bungkusan mainan itu, ia berjalan cepat menuruni tangga, punggung tangannya segera beradu pada pintu kaca yang ada di samping rumah yang langsung terhubung dengan ruang tengah.
"Paman Aga," teriak Sasa kegirangan di sambut gembira juga oleh Akmal, mereka sampai loncat-loncat ringan membuat hati Dirga semakin menghangat.
"Tebak, paman bawa apa buat kalian!?"
"Apa paman?" tanya akmal.
"Tebak dulu dong." ucap Dirga yang masih menyembunyikan bungkusan besar itu di balik punggung.
Sasa dan Akmal tampak berpikir sambil menepuk-nepuk dagunya.
"Baiklah, paman akan kasih tahu. Taraaaaa," Dirga mengeluarkan mainan itu dari balik punggungnya tapi malah membuat Sasa dan Akmal terdiam di tempatnya.
"Kenapa malah diam? Ini buat kalian, ambillah!"
"Benar paman, itu buat Akmal dan Sasa?"
"Iya sayang, kalian suka?"
Akmal dan Sasa bukannya langsung mengambil mainan itu malah berhambur memeluk Dirga sambil menangis sesenggukan membuat Dirga terdiam menikmati pelukan mereka yang begitu hangat.
Selama ini ia bingung, ia selalu bertanya-tanya tentang apa yang ia inginkan dalam hidup, hidupnya hanya ia habiskan untuk bekerja dan bekerja, setelah bertemu Sasa dan Akmal, kini Dirga tahu bagaimana rasanya di hargai dengan hal-hal kecil.
Rasa di butuhkan itu membuat Dirga semakin nyaman berada di dalam hidup kedua anak itu, rasa di butuhkan membuatnya tidak ingin berpisah dari mereka.
Dirga pun mengajak Sasa dan Akmal duduk di kursi yang berada di tepi kolam renang, ia berjongkok dan menggengam kedua bahu anak itu,
"Kenapa kalian menangis?"
"Boneka itu jauh lebih bagus dari boneka milik Kila, paman." ucap Sasa yang masih sesenggukan, ia masih sangat ingat bagaimana saat ayahnya menolak untuk membelikan boneka yang sama dengan yang ayahnya belikan untuk putri barunya itu.
"Ini sangat mahal paman, biar Akmal ganti nanti saat tabungan Akmal terkumpul ya," ucap Akmal dengan polosnya sambil membolak-balik mobil-mobilan yang ada di tangannya.
Dirga pun menakup pipih Akmal, "Bagaimana kalau kalian berjanji saja sama paman,"
"Apa?"
"Ujian bukan depan kalian bisa dapat nilai bagus, bagaimana apa kalian setuju?" ucapnya sambil mengacungkan dua jari jempolnya dan Sasa juga Akmal menyatukan ujung jari jempol mereka.
"Setuju," ucap mereka bersamaan.
"Tapi paman, ibuk pasti marah kalau Akmal dan Sasa bawa mainan ini ke rumah." ucap Akmal, ia tahu bagaimana ibunya.
"Kalian boleh meletakkanya di atas. Jadi kalian bisa mainkan kalau ibuk kalian tidak ada, bagaimana?"
Akhrinya Sasa dan Akmal pun setuju.
"Hari ini paman pengen makan di luar, apa kalian mau menemani paman?"
Terlihat keraguan di wajah kedua anak itu. Pasalnya mereka tidak pernah pergi keluar tanpa sang itu.
"Mau ya, sebentar saja." ucap Dirga lagi memohon.
"Iya, Akmal setuju. Tapi Akmal tanya ibuk dulu ya."
"Setuju."
***
Nina tengah menunggu seseorang di ruangannya saat tiba-tiba ponselnya berdering. Telpon dari anak-anak nya.
"Assalamualaikum, kak. Apa ada masalah?"
"Waalaikum salam, ibuk. Ini ada paman Aga, paman Aga mau ngajak Sasa dan Akmal jalan-jalan sebentar, apa boleh?"
"Boleh paman bicara sama ibuk?" pertanyaan itu mampu Nina dengar dari seberang sana.
Dan akhirnya suara salam itu terdengar jelas di telinganya,
"Assalamualaikum, ibuknya Akmal."
Deg
Suara itu terdengar tidak asing di telinga Nina membuat Nina terdiam hingga beberapa detik,
"Wa_ Alaikum salam ," jawabnya terbata. Ia masih mencoba untuk mengingat suara itu.
"Saya yang tinggal di atas. Kebetulan hari ini saya tidak sibuk jadi saya ingin mengajak anak-anak jalan-jalan sebentar, kalau ibuknya Akmal khawatir, saya akan mengajak Fajar juga untuk menemani kami, bagaimana apa ibuknya Akmal setuju?" tanya pria di seberang sana panjang lebar.
"Iya," jawab Nina pelan.
"Terimakasih, saya janji akan segera menghubungi ibuknya Akmal saat kami kembali, assalamualaikum."
"Waalaikum salam,"
Sambungan telpon terputus dan Nina masih belum bergerak bahkan benda pipih itu masih menempel di balik jilbab segi empatnya.
"Suara itu," gumamnya pelan, manik mata Nina menerawang ke arah kursi kerja yang kosong yang berada di depannya itu.
"Nggak, nggak, nggak mungkin dia." ucapnya sambil menggelengkan kepalanya. Dia pun memilih keluar dari ruangan itu dan menuju ke pantry.
"Pak Dirga belum datang?" tanya rekan kerjanya saat ia memilih duduk di salah satu kursi yang ada pantry.
Nina menggelengkan kepalanya,
"Heran aku sama pak Dirga, belakangan ini suka banget bolos. Papa pak Dirga ada masalah ya?" tanya wanita dengan seragam yang sama dengan yang di kenakan oleh Nina saat ini.
****
"Sibuk banget Sil, nongkrong yuk." ajak seseorang yang menghampiri Silvi yang baru saja keluar dari gerbang sekolah.
"Gimana ya," Silvi terlihat ragu.
"Ayolah, sudah lama banget kan nggak ke kafe."
Setelah berpikir keras akhrinya Silvi pun menyetujuinya, ia juga merasa suntuk di rumah terus apalagi jika harus memikirkan keputusan suaminya untuk mengambil hak asuh anak-anaknya.
Akhrinya mereka sudah sampai di sebuah kafe tidak jauh dari tempat Silvi mengajar.
"Semenjak pindah ke kota, Lo malah jarang nongkrong sih Sil. Ada apa?" tanya wanita yang berpenampilan tidak kalau sosialita di banding Silvi. Dia adalah teman SMA Silvi di desa, teman Nina dan Mita juga. Karena ia menikah dengan pengusaha gula, membuat hidupnya sedikit Hedon.
"Pusing aku, Ren."
"Pusing apa sih? Cerita dong!"
"Jadi suami gue tuh ....," Silvi menceritakan semua masalah keluarganya pada temannya itu, sekaligus masalahnya dengan Nina.
"Seharusnya Lo setuju aja Sil sama ide suami Lo. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui."
"Maksudnya?"
"Coba deh pikir ya, kalau suami Lo dapat hak asuh anak-anaknya, uang belanja Lo nggak akan berkurang dan yang paling utama, Lo bisa memberi Nina pelajaran. Gue juga nggak suka banget sama Nina dari dulu. Lihat dulu dia itu anak orang kaya di kampung, ternyata sekarang cuma jadi cleaning service kan. Itu karma tahu nggak sih."
"Bener juga ya, kenapa gue nggak kepikiran ya." Silvi mengangguk-anggukkan kepalanya setuju dengan saran dari temannya itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...