AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
81. Surat di bawah tempat tidur



"Mas, ini apa?" tanya Silvi saat melihat sebuah amplop yang tanpa sengaja ia temukan di bawah tempat tidur.


Dengan cepat Kamal merebut surat itu dan menyembunyikan di balik tubuh kekarnya.


"Bukan apa-apa." ucap Kamal dengan wajah panik.


"Aku sudah melihatnya mas!" ucap Silvi lagi berhasil membuat Kamal menghela nafas. Ia kira tidak akan secepat ini Silvi mengetahui.


"Mas Kamal di pecat? Kenapa?" Silvi segera memberondongnya dengan banyak pertanyaan. Tentu ini berita yang begitu buruk untuk mereka. Apalagi uang tabungan Kamal hampir habis karena untuk membayar pengacara.


"Ada pengurangan karyawan." ucap Kamal dengan masih pura-pura tenang.


Silvi yang masih begitu syok pun menjatuhkan tubuhnya ke sofa, tenaganya tiba-tiba hilang karena pagi-pagi harus mendapat berita yang tidak mengenakkan.


"Trus bagaimana selanjutnya kita mas? Bagaimana sekolah Sakila? Nasib bayi kita?" tanya Silvi sambil memijat pelipisnya yang terasa begitu sakit.


Kamal pun ikut duduk dan menggapai punggung Silvi, "tenanglah, kasihan bayi kita."


"Bagaimana aku bisa tenang mas, mas Kamal di pecat."


"Jangan khawatir, aku akan mencari pekerjaan lain." ucap Kamal masih berusaha untuk menenangkan Silvi.


"Silvi nggak mau tahu, pokoknya pas lahiran nanti mau lahiran di rumah sakit yang terbaik di kota. Sakila juga mas, masak adiknya harus ambil jalur BPJS sih mas,"


Mendengar rengekan Silvi, membuat pikiran Kamal semakin terasa pusing, ia memilih pun memilih berdiri dan hendak berlalu. Ia semakin pusing mendapat tuntutan dari Silvi.


"Mas, mau ke mana?" tanya Silvi dengan cepat menyusul suami yang baru dua tahun ini ia nikahi.


"Cari angin." ucap Kamal cepat dan kembali melanjutkan langkahnya.


Ternyata Silvi tidak menyerah, ia mengejar Kamal hingga ke depan.


"Mas harus cari kerja."


"Nanti aku pikirkan." ucapnya sambil masuk ke dalam mobil yang baru saja ia matikan mesinnya sekembali dari mengantar Sakila ke sekolah.


Silvi hanya bisa mendesah kesal saat suaminya malah memilih pergi saat ada masalah. Ia jadi khawatir jika Kamal akan mencari kenyamanan di luaran sana, mengingat mereka menikah karena Kamal yang merasa nyaman dengan dirinya saat Kamal bermasalah dengan Nina sebagai istrinya saat itu.


Hehhh ....


Silvi menghela nafas dengan harapan bisa mengurangi rasa kesalnya pagi ini.


***


Kamal menghentikan mobilnya di bahu jalan, tepat di samping taman kota. Di pagi seperti ini, bahkan taman tidak terasa sejuk .


Setelah memarkir mobilnya, Kamal memilih sebuah bangku yang berada di bawah pohon besar untuk duduk.


Di saat seperti ini, ia kembali teringat saat pandemi beberapa tahun lalu. Ia bahkan tidak bekerja hampir dua tahun dan untuk makan sehari-hari mereka mengandalkan tabungan yang masih tersisa. Demi bisa memperpanjang tabungannya untuk biaya hidup, Nina rela untuk memaksa seadanya. Ia bahkan sampai mencuci baju tanpa menggunakan mesin cuci untuk menghemat listrik.


Tapi kini Silvi jelas jauh beda dari Nina. Silvi begitu keberatan jika harus hidup sederhana.


"Ya Allah, kenapa aku malah membandingkan mereka? Nina bukan lagi istriku, Silvi yang istriku."


***


Di sebuah ruang meeting, terlihat Dirga dan Radit tengah sibuk meeting Dnegan Klein penting dari Malaysia.


Berkali-kali Dirga melirik jam tangannya memastikan saat ini belum jam sembilan.


Meskipun di depan ada yang tengah mengajaknya bicara, tapi konsentrasi Dirga terpecah di tempat lain. Waktunya tinggal seperempat jam lagi.


Sedangkan di sekolah, Akmal sudah mondar mandir di depan gedung pertemuan. beberapa ayah temannya sudah berdatangan tapi papa Aga belum juga muncul.


Seorang guru memberitahu dalam pengeras suara jika lima menit lagi acara akan di mulai.


"Papa kamu belum datang?" tanya salah satu teman sekelas Akmal.


Akmal hanya menggelengkan kepalanya tapi sesekali kepala itu mendongak ke arah pintu gerbang tapi hasilnya nihil.


"Kayaknya papa kamu nggak datang deh, masuk aja yok. kamu duduk sama aku, biar papa aku yang mewakili."


Akmal menggelengkan kepalanya, "Enggak, aku di sini lima menit lagi. nanti kalau papa nggak datang juga, aku akan masuk."


"Baiklah, kalau begitu biar aku sisakan satu tempat duduk untukmu."


"Makasih ya, Kenzo."


Lima menit pun berlalu, acara benar-benar akan di mulai. Akmal tidak bisa menunggu lagi. Ia pun memutuskan untuk masuk.


Beruntung Kenzo begitu pengertian hingga menyisakan kursi untuk Akmal.


Baru saja ia duduk tiba-tiba ia merasakan seseorang dari belakang,


"Maaf papa terlambat." ucap Dirga mengejutkan Akmal, Akmal yang begitu senang langsung berdiri dan memeluk sang papa.


"Akmal kira papa nggak datang."


"Papa kan sudah janji."


Melihat kedatangan Dirga, papa Kenzo pun memberi tempat untuk Dirga,


"Silahkan duduk pak Dirga." ucap papa Kenzo dengan begitu hormat.


"Terimakasih."


Dirga pun duduk tepat di samping Akmal, Akmal yang begitu senang sampai tidak bisa berkata-kata apa-apa. Baru kali ini ia bisa memamerkan kalau ia juga punya papa seperti teman-teman lainnya.


Demi untuk datang ke araca wali murid ini, Dirga rela meninggalkan meeting lebih cepat dan naik ojek agar bisa sampai ke sekolah tepat waktu. beruntung kliennya bisa mengerti dengan keadaan Dirga setelah Dirga mengatakan alasan kenapa ia harus meninggalkan meeting lebih cepat dari seharusnya.


"Akmal senang banget pa." ucap Akmal sambil melingkarkan tangannya di lengan kekar sang papa.


Melihat sang papa kenal dengan papa baru Akmal, Kenzo pun keheranan.


"Papa kenal papanya Akmal?"


"Pak Dirga itu CEO perusahaan jasa pengiriman tempat papa kerja, sayang."


"Jadi atasan papa?"


"Ya begitulah. Jadi kamu harus baik-baik ya sama Akmal."


***


Setelah menyelesaikan pekerjaan rumahnya, Nina pun berangkat ke kantor. Ia memakai sepeda motor maticnya untuk pergi ke kantor. sebenarnya Dirga sudah menyediakan mobil serta sopir untuk Nina, tapi Nina menolaknya mengingat posisinya di perusahaan.


Sesampai di perusahan, Nina cukup di buat terkejut dengan perlakuan teman-temannya yang begitu hormat terhadapnya, bahkan mereka tidak mengijinkan Nina melakukan pekerjaan selain mengurus urusan Dirga.


"Aku harus apa sekarang!?" gumamnya sambil mendudukkan bokongnya di atas kursi yang ada pantry.


"Trus kalau aku hanya duduk begini, sama.aja dengan makan gaji buta dong."


Ceklek


Seseorang membuka pintu pantry, ternyata beberapa rekan cleaning service nya. Mereka tampak terkejut mendapati keberadaan Nina.


"Mbak Nina butuh sesuatu? Biar aku carikan." ucap salah satu dari mereka, sebenarnya senior Nina.


"Mas Agung apa-apaan sih. Biasa aja kali mas, duduk aja sini. Kita ngobrol bareng."


Akhrinya pria yang di panggil agung itu pun duduk di kursi yang sama seperti yang di duduki Nina, dua rekan lainnya juga ikut duduk.


"Kenapa sih sikapnya jadi beda gini? Kan nina.jadi nggak enak."


"Kami yang nggak enak mbak."


"Nina, cukup Nina aja kalau manggil." protes Nina.


"Ya, kami nggak enak Nin. nggak mungkin lah nyuruh istri bos buat bersihin kaca atau ngepel. karyawan lain juga sungkan kalau nyuruh kami ambil fotocopyan misalnya, atau belikan kopi. Ya nggak mungkin lah."


Hehhhh ....


Nina menghela nafas, ia memaklumi sikap mereka mengingat posisi suaminya saat ini.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


@tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰