
Dengan kecepatan tinggi ia memacu laju mobilnya, hingga akhirnya sampai juga di depan rumah yang sudah di sulap menjadi tempat hajatan.
Tampak rumah itu masih ramai, meskipun tidak seramai tadi tapi beberapa tamu masih hilir mudik keluar masuk. Beberapa penjaga juga berkata di luar tenda hajatan, sepertinya sengaja diperintah Dirga untuk mengamankan pernikahannya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
Dengan wajah gusar ia hendak menerobos masuk, tapi langsung di cegah oleh para penjaga di depan.
"Saya ingin masuk, biarkan saya masuk!" ucap Kamal kesal karena terus di cegah untuk masuk oleh anak buah Dirga.
"Anda tidak di persilahkan masuk sebelum mendapat ijin dari pak Dirga."
"Kalian siapa hingga berani melarang saya. Biarkan saya masuk atau kalian tahu akibatnya." ancam Kamal tapi nyatanya semua ancaman itu tidak berlaku bagi mereka.
"Anda jangan keras kepala, atau kami akan menyeret paksa anda keluar dari sini."
Sebenarnya melarang Kamal dan Silvi untuk datang adalah permintaan Nina, Nina tidak mau mereka di undang. Nina sengaja melakukan hal itu agar anak-anaknya tidak merasa sedih.
Mendengar ada keributan di depan, Dirga yang tengah mengobrol dengan para tamu pun segera ijin keluar.
"Silahkan nikmati hidangannya, saya permisi ke depan dulu." ucap Dirga sebelum akhirnya meninggalkan para tamu dan pergi keluar. Wajahnya berubah dingin saat melihat Kamal di sana. Dengan langkah pasti Dirga segera menghampiri Kamal dan anak buahnya.
"Lepaskan dia!" perintahnya pada anak buahnya yang tengah mengandung Kamal.
Kamal pun tersenyum dan memperbaiki bajunya yang sedikit berantakan,
"Ada urusan apa kamu ke sini?" tanya Dirga.
"Memang saya perlu alasan untuk datang ke sini? Di dalam ada anak-anak saya."
"Bukankah ini bukan jadwal aku untuk menemui anak-anak? Lagi pula sebelum sidang di putuskan, kamu tidak diperbolehkan menemui anak-anak."
"Kamu tidak berhak melakukan ini."
"Benarkah? Jika anda lupa maka akan Aya ingatkan kembali, saya adalah pengacara Nina dan sekaligus suami dari Nina, jelas saya punya hak untuk menentukan siapa yang boleh berkunjung dan tidak boleh berkunjung ke rumah saya."
Mendengar penuturan panjang lebar dari Dirga, Kamla semakin emosi, "Pernikahan ini tidak sah, saya tidak menyetujui pernikahan ini terjadi."
Dirga menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyum smirt,
"Atas dasar apa?"
"Karena Nina ibu dari anak-anak saya, saya yang harus menentukan dia boleh menikah atau tidak."
"Begitukah? Apa saat kamu menikah dulu kamu pernah meminta pendapat Nina? Apa saat kamu memutuskan untuk bercerai dengan Nina, kamu pernah menanyakan bagaimana perasaanya?"
Kamal terdiam mendengar pertanyaan seperti itu dari Dirga, hingga Dirga kembali bicara,
"Sekarang Nina hanya ibu dari anak-anak kamu, dia bukan istri kamu lagi, jadi kamu tidak punya hak lain salain menjadi ayah dari anak-anak kamu. Tapi saat mereka melihat kelakukan kamu yang seperti ini, saya jadi ragu mereka masih bisa menerima kamu sebagai ayahnya atau tidak."
"Brengsek kamu!?"
"Saya sedang tidak ingin berdebat atau berkelahi dengan siapapun saat ini karena suasana hatiku sedang baik jadi jangan merusaknya dengan perkataanmu yang tidak berfaedah, jadi sebelum kamu di seret keluar oleh anak buah saya, sebaiknya kamu pergi sekarang."
Dirga pun meninggalkan Kamal, tapi Kamal tidak terima. Ia kembali berusaha menerobos masuk tapi kembali di cegah oleh para penjaga.
"Awas kau, tunggu saja pembalasanku nanti."
Kamal menyerang dan memilih masuk kembali ke dalam mobilnya dengan penuh kekesalan.
Kamal tidak kembali ke tempat kerja, ia memilih pulang ke rumah. Tepat saat ia sampai di rumah, Silvi juga baru sampai dari sekolah.
"Kila masuk dulu ya, mama kau bicara sama ayah dulu." ucap Silvi pada Sakila yang baru saja turun bersama Silvi.
"Iya ma,"
Silvi pun segera mendekati Kamal, dan memeluknya. Ia tahu suasana hati suaminya sedang tidak baik.
"Bagaimana mas?" tanya Silvi lembut.
"Pria sombong itu sudah mengusirku,"
Kamal pun menggelengkan kepalanya,
"Kita duduk dulu mas," ajak Silvi dan Kamal pun menurutinya.
Mereka pun duduk di teras rumah, Silvi segera mengambilkan air putih dari dalam rumah.
Kamal segera menghabiskan air putih yang baru saja ia ambilkan, perlahan suasana Kamal sedikit membaik hingga Silvi pun kembali bicara.
"Sepertinya Nina sengaja menikah dengan pria itu agar bisa memenangkan sidang mas, mas Kamal harus cari cara untuk melawan mereka. Aku cuma khawatir mas kalau mereka menang, mereka akan menggunakan kekuasaannya untuk menjauhkan mas Kamal dari anak-anak." Silvi sengaja mempengaruhi Kamal agar semakin membenci Nina.
***
Suasana semakin gelap, langit senja sudah memudar dan berubah menjadi gelap, beberapa bintang mulai menampakkan sinarnya satu per satu muncul membuyarkan kegelapan.
Nina sudah mengganti bajunya dengan baju rumahan begitu juga dengan Akmal dan Sasa, mereka begitu senang bertemu dengan pakdhe nya hingga tidak berhenti mengajar kakak laki-laki dari ibunya itu untuk terus mengobrol menanyakan banyak hal.
Kini tiba saatnya mas Bowo berpamitan. Sudah tidak ada lagi tamu yang tersisa, bahkan tenda hajatan pun sudah bersih dari halaman. Sengaja Dirga menyewa dengan biaya dua kali lipat agar saat acara selesai rumahnya langsung bisa kembali seperti sedia kala.
Mungkin karena terlalu sibuknya Dirga, hingga sepanjang hari ini Nina bahkan belum bertegur sapa dengan pria yang sudah berstatus sebagai suaminya itu.
Hingga saat kakak Nina berpamitan untuk pulang Dirga baru kembali,
"Mas Bowo beneran nggak nginep di sini?" tanya Nina lagi memastikannya.
"Mas nggak bisa ijin lebih dari satu hari, maaf ya. Semoga lain waktu mas bisa lebih lama di sini."
Bowo seorang abdi negara dan ia hanya mendapat dispensasi satu hari saja karena beberapa waktu lalu ia baru saja libur panjang untuk menjaga istrinya yang baru melahirkan.
"Insyaallah mas usahakan akan sering ajak istri dan anak mas ke sini ketemu kamu, doakan mas punya rejeki untuk itu."
"Amiin."
"Jaga diri kamu dah anak-anak kamu ya, baik-baik sama suami kamu. Mas yakin Dirga adalah orang yang tepat buat kamu."
"Terimakasih ya mas."
Awalnya Dirga yang hendak mengantar ke bandara tapi Bowo menolak,
"Biar saya antar sampai di bandara."
"Tidak perlu, kamu pasti capek."
Akhirnya Dirga meminta Fajar untuk mengantarnya.
Kini di rumah itu hanya ada mereka berempat. Awalnya masih biasa saja saat Dirga menemani anak-anak bermain dan membuka kado pernikahan satu per satu.
Hingga tiba saatnya anak-anak mengantuk dan bersiap untuk tidur.
"Sasa mau temenin papa Aga tidurnya."
"Baiklah, papa akan temenin tidur sambil bacakan dongen. Bagaimana apa Akmal juga mau?"
"Mau!" Akmal pun langsung berhambur memeluk papa barunya itu. Dirga pun membawa anak-anak ke kamar, di bagian punggung ada Akmal dan depan ada Sasa. Dirga menggendong mereka ke kamar.
Kini Dirga tidur di antara Sasa dan Akmal.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
@tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰