AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
46. Selalu ibu yang salah



Sepanjang perjalanan menuju ke sekolah Sasa hanya ada celoteh Sasa yang terdengar sedangkan dua manusia dewasa itu tengah berada di dunianya masing-masing. Atau mungkin mereka tengah menunggu waktu untuk mengendalikan emosi masing-masing, karena jelas tidak baik jika berdebat di depan Sasa.


Setelah mengantar Sasa, akhrinya terpaksa Nina berada dalam satu mobil dengan Kamal.


Setelah sekian lama saling diam, akhirnya Akmal pun mulai bicara,


"Sejak kapan?"


"Hahh?" Nina yang kurang fokus pun tidak terlalu mendengar dengan jelas pertanyaan Kamal.


"Sejak kapan Akmal sakit? Dan sakit apa?"


"Memang penting buat mas Kamal?!" ucap Nina dengan sinis dan enggan menatap ke arah mantan suaminya itu.


"Jangan mulai ya, aku sedang tidak ingin berdebat sama kamu." Kamal tidak kalah kesal, sebenarnya ada sedikit rasa sesal di dalam dirinya. seandainya saja ia menjawab telpon Nina semalam sekali saja, ia tidak akan melewatkan hal ini.


Hehhhh ....


Nina hanya bisa menghela nafas, untuk saat ini ia harus bisa mengesampingkan rasa kesalnya pada pria yang berstatus sebagai ayah dari anak-anaknya itu.


"Akmal terkena demam berdarah,"


"Demam berdarah?" tampak Kamal begitu terkejut.


"Iya,"


"Kamu ini gimana sih jaga anak-anak? Pasti kamu jorok ya, nggak jaga kebersihan. Sembrono sekali sih, kalau begini siapa yang rugi,"


Selalu dan akan selalu, sepertinya sudah menjadi hukum alam jika anak-anak terluka ataupun kenapa-kenapa yang selalu di salahkan adalah sang ibu dan Nina tidak bisa menolaknya, hati nuraninya sebagai seorang ibu seolah membenarkan hal itu.


Meskipun semua yang terjadi adalah takdir, tetap saja kata seandainya itu seolah selalu menghantui dan meminta pertanggung jawabannya sebagai seorang ibu yang baik.


"Mas, berhenti menyalahkan Nina. Memang mas sendiri sudah berdedikasi apa pada anak-anak hingga terus menyalahkan Nina?" ucap Nina yang tak mampu lagi Manahan air matanya yang merembes begitu saja.


"Aku tuh sudah bekerja keras untuk menghidupi kalian, memastikan seluruh kebutuhan kalian terpenuhi. Bisa-bisanya kamu masih mempertanyakan apa yang aku berikan padamu dan anak-anak."


Jika saja mas tidak menghormati pernikahan kita, mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi, jawab Nina dalam batinnya.


"Kenapa diam? Nggak bisa jawab kan? Harusnya kamu tuh lebih banyak bersyukur karena aku masih menanggung seluruh kebutuhan kalian. Rugi kamu berhijab kalau masih tidak bisa bersyukur."


Bukannya merasa bersalah, Kamal malah sibuk menyalahkan Nina sepanjang jalan. Bertemu dengan Kamal bukan membuat bebannya berkurang tapi malah semakin bertambah.


Hingga akhirnya mobil mereka sampai juga di tempat parkir rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka pun memasuki gedung rumah sakit.


"Nina,"


Panggilan itu berhasil menghentikan langkah Nina dan Kamal, Nina pun menoleh ke sumber suara. Ternyata Mita tengah berjalan cepat menghampirinya dengan Kamal.


"Mita,"


"Aku masuk dulu!" ucap Kamal dingin kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Nina tanpa menunggu jawaban dari Nina.


"Bagaimana keadaan Akmal?" tanya Mita saat sudah sampai di depan sahabatnya itu tapi matanya masih terus melirik pada pria yang berjalan menjauhi mereka.


"Alhamdulillah sudah melewati masa kritisnya, kamu datang sama siapa?" tanya Nina sambil melihat ke belakang Mita.


Mita pun menoleh ke belakang seolah pandangannya bisa tembus jauh ke belakang,


"Tadi sama mas Bram, tapi maaf ya mas Bram harus ke kampus karena ia harus menggantikan Dir_," Mita mengehentikan ucapanya begitu menyadari sesuatu.


"Pak Dirga?"


"Kamu tahu?" tanya Mita sambil mengerutkan keningnya memastikan sesuatu.


"Pak Dirga yang sudah bawa Akmal ke rumah sakit. Aku sudah tahu kalau pak Dirga juga yang menjadi pemilik rumah yang aku sewa."


"Oh, jadi lo sudah benar-benar tahu!?" ucap Mita dengan nada lemas, ia khawatir sahabatnya itu akan marah padanya karena tidak memberitahukannya dari awal,


"Lupakan aja, bukan salah Lo juga."


"Eh Nin, itu tadi kayaknya si Kamal. Bagaimana bisa barengan sama Lo?"


****


Ceklek


Langkah Kamal terhenti di depan pintu saat melihat putranya tengah bercanda dengan seseorang sambil memakan sarapannya.


Pria itu ....


Ini bukan pertama kalinya Kamal bertemu dengan pria itu, walaupun hanya sebentar tapi perdebatan waktu itu cukup membuat Kamal mengenali wajah tegas pria itu.


"Akmal, ayah datang." ucap Kamal sambil berjalan mendekati Akmal dari sisi samping, bersebrangan dengan tempat Dirga.


Karena kedatangan Kamal, kini sendok Dirga yang sudah berisi makanan hanya menggantung di udara dan ia kembalikan lagi ke piring.


Kamal memeluk Akmal dan mencium kening Akmal.


"Maaf ya ayah baru datang. Ayah sibuk banget kemarin. Biar ayah suapi ya," ucap Kamal sambil mengambil paksa dari tangan Dirga.


Ia mengulurkan sendok yang sudah berisi makanan itu ke mulut Akmal tapi Akmal malah menggelengkan kepalanya,


"Kenapa kak? Kamu nggak suka makanannya? Biar ayah cari gantinya."


Sekali lagi akmal menggelengkan kepalanya, "Akmal mau di suapi sama paman Aga." ucap Akmal membuat Kamal menatap kesal pada Dirga.


Dirga yang mengerti arti tatapan Kamal pun akhirnya memilih beralasan agar bisa meninggalkan ruangan itu,


"Maaf Akmal, paman harus ke kampus sekarang juga. Akmal makan sama ayah dulu ya, nanti sore paman janji akan ke sini lagi."


"Janji ya paman!"


"Janji! Janji sebagai sesama laki-laki,"


Dirga pun menautkan jari kelingkingnya kemudiaan di susul dengan jari jempolnya pada Akmal.


Akhirnya Dirga pun meninggalkan ruangan itu tanpa menunggu Nina kembali.


"Sekarang makan sama ayah ya kak." ucap kamal sambil kembali menyuapkan makanan pada akmal dan perlahan Akmal pun akhirnya menurut hingga makanan benar-benar habis.


Tidak berapa lama Nina datang bersama dengan Mita, Nina tidak bisa menemukan Dirga di sana,


"Sayang, paman Dirga mana?"


Akmal terlihat tengah berpikir hingga Mita menyahutnya,


"Paman Aga sayang?"


"Oh, paman Aga katanya mau ke kampus sebentar. nanti sore janji mau ke sini lagi."


Saat membicarakan Dirga, Kamal benar-benar dibuat kesal apalagi saat Akmal membanggakan pria yang di panggil paman Aga itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...