
Dirga pulang pagi buta setelah memastikan keadaan papanya sudah stabil. Sudah jam 2 malam, jalanan begitu lenggang hingga ia bisa mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata saat ia berkendara di siang hari.
Dirga memarkir mobilnya sendiri karena tidak ingin menggangu fajar yang tengah istirahat.
setelah memarkirkan mobilnya ia begitu terkejut saat Nina membukakan pintu untuknya.
"Nin, kamu belum tidur?" tanyanya setelah Nina mencium punggung tangannya.
"Enggak kok mas, Nina baru bangun. "
Nina dan Dirga pun masuk ke dalam rumah, Nina kembali mengunci pintunya karena subuh masih lama.
"Mas Dirga mau makan dulu? Biar nina siapkan makana buat mas."
"Nggak usah, tadi sudah makan di rumah sakit." ucap Dirga sambil memijat pangkal hidupnya, ia bahkan sudah menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang keluarga.
"Capek banget ya mas?, tidurlah sebentar nanti kalau sudah terdengar azan biar Nina bangunin."
"Baiklah, aku memang capek banget." ucap Dirga sambil beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar
Dirga pun memutuskan untuk tidur sejenak sembari menunggu azan subuh. Sedangkan Nina kembali melanjutkan sholat tahajudnya. Hingga suara azan pun mulai berkumandang dan ia pun segera menghampiri sang suami yang tengah tertidur.
Nina pun mencondongkan tubuhnya mendekati Dirga, senyumnya melebar saat menatap wajah tampan Dirga. Kembali ia tidak percaya telah menjadi istri dari pria itu.
"Mas, sudah azan." ucapnya sambil menepuk pelan bahu Dirga.
Srekkkk
Bukannya membuka matanya, Dirga malah menarik tubuh Nina hingga tubuhnya jatuh tepat di pelukan Dirga.
"Mas," sentak Nina terkejut.
"Biarkan begini sebentar saja." ucapnya sambil mendekatkan hidungnya ke lekuk leher Nina.
Akhirnya Nina pun memutuskan untuk membiarkan Dirga memeluknya. sebenarnya di lubuk hatinya yang paling dalam, ia juga menikmati pelukan itu.
Perlahan mata itu terbuka dan kini manik mata hitam Dirga menatap sempurna ke bibir Nina yang berwarna merah jambu, tampak begitu segar meskipun di lagi hari.
Hingga perlahan ia mendekatkan bibirnya ke bibir tebal Nina.
cup
Awalnya mereka hanya saling diam hingga perlahan Dirga mulai memainkan bibirnya. Sepertinya itu adalah nalurinya sebagai seorang lelaki yang membuatnya berani melakukannya.
Nina yang memang sudah mengharapkan hal itu terjadi pun mengikuti setiap permainan bibir yang dilakukan oleh Dirga. Dan ternyata ciuman yang awalnya tiba-tiba itu kini berubah menjadi panas dan penuh gairah.
Kini bahkan Dirga sudah merubah posisi mereka, kini Nina sudah berada di bawah Kungkungannya. Bahkan tangan Dirga susah berhasil menarik hingga lepas mukena yang di kenakan oleh Nina.
Perlahan tapi pasti mereka melakukannya.
"Maaf ya, aku tidak bisa mengendalikannya." ucap Dirga sambil menutup tubuh polos Nina dengan selimut, ia merasa bersalah karena tidak meminta ijin terlebih dulu pada Nina sebelum meminta haknya.
Nina pun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, tangannya terulur dan menyentuh pipi Dirga.
"Ini hak mas Dirga. Nina akan sangat berdosa jika sampai menolak keinginan mas Dirga."
"Jadi kamu tidak marah?"
"Hmmm," Nina menggelengkan kepalanya dengan begitu mantap. "Mandilah dulu mas, Nina belakangnya." ucap Nina lagi.
"Baiklah."
Dirga pun segera melilit tubuh bawahnya dengan selimut tipis yang berada di atas tempat tidur dan berjalan cepat ke kamar mandi. Ia tidak menyangka di pagi buta ini ia bisa melakukan hal gila.
Dirga masih terus tersenyum tidak percaya, membayangkan kembali detik demi detik waktu yang baru saja mereka lalui. Ia tidak menyangka Nina bisa seganas itu saat di ranjang.
Ia pun mengguyur tubuhnya di bawah shower, hingga air membasahi seluruh tubuhnya. Ia tidak berlama-lama di kamar mandi karena waktu subuh cukup singkat.
Tapi saat melilitkan handuk kecil di pinggangnya, manik matanya menangkap pantulan bayangan dirinya di cermin besar yang ada di kamar mandi, terlihat dari pantulan dirinya di cermin kini kulit bersihnya penuh dengan totol-totol merah hasil karya Nina. Senyumnya kembali lebar, ia jadi merasa sayang kalau semua tanda itu harus tertutup dengan baju.
Tok tok tok
Suara pintu kamar mandi di ketuk dari luar membuat Dirga tersadar.
"Mas, masih lama ya? Aku mandi di kamar mandi kamar tamu aja ya." itu suara Nina.
"Enggak, aku sudah selesai kok. Bentar ya."
Dengan cepat Dirga pun keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya. Dirga sengaja ingin menunjukkan tanda itu pada si pembuat karya.
"Masss, itu." Nina sampai menutup mulutnya karena melihat bercak merah-merah di tubuh Dirga, ia tahu betul itu ulahnya membuatnya semakin malu.
"Aku suka ini." ucap Dirga Dnegan santainya sambil melenggang begitu saja meninggalkan Nina yang masih dengan hasil karyanya sendiri.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
@tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰