
Seluruh undangan sudah berbisik-bisik tidak enak karena Dirga yang tidak kunjung datang, padahal acara akan segera di mulai lima menit lagi.
Tampak Nina pun merasa cemas, begitu juga dengan Radit yang berkali-kali menghubungi seseorang, dia juga tampak beberapakali mengusap peluhnya yang selalu muncul di keningnya setiap kali sedang panik.
Hingga sebuah mobil berhenti tepat di depan tenda hajatan. Radit dan Nina pun merasa lega karena ia mengenali mobil itu.
Dirga keluar dari mobil itu tapi senyum Nina sirna saat melihat seseorang yang juga keluar bersama Dirga.
Seseorang yang sudah lama sekali ingin Nina lihat. Dia adalah Bowo, kakak laki-laki Nina yang bekerja di luar pulau sebagai seorang anggota polisi.
"Mas,"
Pria yang bersama Dirga tersenyum penuh haru, ia segera berjalan cepat menghampiri Nina dan memeluk adik perempuannya itu.
"Mas kangen, dek." ucapnya yang tengah memeluk Nina.
"Nina juga mas, bagaimana bisa mas Bowo sampai di sini? Sama siapa?"
"Mas sendiri, mbak kamu baru saja melahirkan, jadi maaf nggak bisa bawa mereka ikut serta." ucapnya sambil melepas pelukan Nina,
"Mas tidak tahu siapa dia hingga tiba-tiba meminta mas untuk kembali ke sini. Dia yang menjemput mas dari bandara." ucap Bowo lagi sambil menunjuk ke arah Dirga yang berdiri di samping Nina.
Dirga pun membungkukkan badannya dan tersenyum,
"Kenalkan mas, saya calon suami Nina."
Pria itu menoleh ke adik perempuannya itu, awal datang ke tempat itu ia tidak tahu alasan apa hingga ia harus datang, yang ia tahu ia hanya di minta pulang untuk menemui adik perempuannya, bahkan ia tidak tahu jika Dirga akan membawanya ke kota bukan ke kampung tempat kelahirannya.
Bukan tanpa alasan ia sangat terkejut, pasalnya adik perempuannya itu belum genap satu tahun bercerai.
"Kamu yakin?" tanyanya tidak percaya, mungkin sebagian besar orang yang hadir di sana juga akan berpikir sama seperti Bowo.
Entah kenapa saat Bowo bertanya seperti itu, perasaan Nina kembali sedih. Ia juga tidak bisa mengendalikan pikiran orang lain, tapi saat saudaranya sendiri yang mengatakan seperti itu rasanya begitu sakit,
"Nina yakin pak Dirga bisa menjaga Nina, mas." ucap Nina asal karena ia sendiri tidak yakin tentang alasan pernikahan mereka. Yang ia tahu, ia menikah dengan Dirga untuk membalas semua kebaikan Dirga, ia tidak mau Dirga terus dimanfaatkan oleh orang-orang di sekitarnya.
Sebenarnya Bowo menyadari keraguan di wajah sang adik, tapi melihat sekelilingnya sudah banyak tamu yang hadir, dekorasi yang luar biasa dan banyak kamera yang menyorot, Bowo pun menyerah.
"Apapun itu alasannya, asal kamu bahagia mas akan merestui."
Dirga sengaja mendatangkan mas Bowo untuk menjadi wali bagi Nina karena ia tahu jika bapak kandung Nina sudah meninggal dan bapaknya tidak punya saudara laki-laki.
Akhrinya acara ijab Qabul pun di mulai, Nina dan Dirga sudah duduk berjejer di depan sebuah meja dan di samping kiri dan kanan mereka ada Sasa juga Akmal dan di depan mereka ada Bowo juga penghulu.
"Saya nikahkan engkau Dirga Wikrama dengan adik saya Nina Rahmawati binti Slamet Riyadi dengan mas kawin uang sebesar seratus juta di bayar tunai."
"Saya terima nikahnya Nina Rahmawati binti Slamet Riyadi dengan mas kawin uang sebesar seratus juta dibayar tunai."
"Gimana saksi, sah?"
SAH
Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih
Kalimat doa di lantunkan oleh penghulu dan di Amini oleh semua tamu.
Kini giliran Nina mencium punggung tangan Dirga. untuk pertama kalinya mereka benar-benar bersentuhan dan Dirga mencium kening Nina, terdengar pria itu membacakan doa untuk sang istri membuat hati Nina bergetar, seperti ada yang mengalir di sekujur tubuhnya rasanya begitu sejuk. Dan para pembawa kamera mulai mengabadikan berbagai momen, mereka juga melakukan sesi foto bersama Sasa dan Akmal juga.
Setelah ijab Qabul selesai, Dirga pun mempersilahkan tamu untuk menikmati hidangan yang tersedia. Sedangkan ia dan Nina kembali melanjutkan sesi foto Dnegan berbagai pose romantis.
Selang beberapa saat keluarga Dirga datang dengan mobil iring-iringan, tentu hal itu cukup menjadi perhatian bagi para tetangga. Selama ini para tetangga mengira jika Dirga hanya dosen biasa, mereka tidak pernah menyangka pria itu punya keluarga yang luar biasa.
"Selamat ya atas pernikahan kalian, kami mewakili mama dan papa. mereka harus terbang ke KL hari ini jadi tidak bisa menghadiri pernikahan kalian." ucap Wulan dengan senyum yang di buat semanis mungkin.
"Terimakasih, seharusnya kalian tidak perlu repot-repot untuk ini." ucap Dirga tetap Dnegan wajah dingin.
Selagi Dirga mengobrol dengan Wulan dan Remon, Nina memilih menghampiri rekan kerjanya yang duduk di satu meja tengah menikmati hidangan pernikahan.
Beberapa rekan kerja Nina masih tidak percaya Nina benar-benar menikah dengan bosnya, merasa bergantian memberi pelukan dan selamat pada Nina.
"Masih nggak nyangka, tapi selamat ya. Pak Dirga memang the best pokoknya."
"Aku tahu," jawab Nina malu-malu, "Eh tapi nikmati makanannya ya, jangan terus memperhatikan Nina, nanti Nina malah besar kepala."
"gimana lagi, hari ini kamu sama pak Dirga yang jadi pusat perhatian."
"Ehhh ada lagi dong," ucap salah satu dari mereka lagi membuat yang lain menoleh padanya.
"Apa?"
"Anak-anak Nina juga begitu luar biasa, mereka sepertinya mewakili cantiknya kamu dan ganteng gagahnya mas mu, nggak nyangka mas kamu seorang polisi."
Nina benar-benar senang hari ini, tapi masih ada yang kurang. Sayangnya Mita tidak bisa datang karena keadaannya paska melahirkan belum stabil. Meskipun begitu ucapan selamat sudah datang lengkap dengan kadonya.
Hingga tiba saat Wulan dan Remon hendak berpamitan pulang. Radit pun memanggil Nina saat mereka berdua hendak berpamitan.
"Ya udah aku ke sana dulu ya, kalau. Nikmati jamuannya."
"Okey!"
Wulan bersikap begitu manis seolah-olah ia benar-benar senang dengan pernikahan ini hingga tiba saatnya ia berpamitan pada Nina.
"Ini masih awal, jadi jangan merasa kamu sudah menang. nikmatin aja pestanya hari ini dan kamu akan menangis besok." bisik Wulan sambil memeluk Nina.
"Jangan khawatir, saya pasti akan senang bermain dengan anda, adik ipar." ucap Nina lirih, ia tidak suka di ancam apalagi hendak di intimidasi.
Wulan begitu kesal karena ternyata Nina menimpali ucapannya, ia pun kemudian bergantian pada Dirga,
"Selamat ya mas, semoga kamu bahagia. Jika mas Dirga butuh bantuan untuk mengerti tentang wanita, mas Dirga bisa minta saran sama Wulan." berbeda saat berhadapan dengan Nina, saat berhadapan dengan Dirga, ia tersenyum begitu lembut tanpa dosa.
"Nggak perlu, saya sudah cukup puas dengan cara saya mencintai istri saya, jadi tidak perlu saran siapapun untuk hal itu." ucap Dirga dingin dan berhasil membuat Wulan mencelos. Ia tidak menyangka pria yang pernah begitu mencintainya menjadi begitu dingin padanya.
Kini giliran Remon, ia bersalaman pada Dirga.
"Selamat ya mas, semoga jadi keluarga yang bahagia." Remon sebenarnya senang sekaligus khawatir. Setidaknya dengan pernikahan ini istrinya tidak lagi berharap cinta dari kakak tirinya itu, tapi ia juga khawatir jika Dirga menikah maka posisinya di perusahaan akan terancam.
"Terimakasih,"
"Kami pamit."
Dan Dirga pun hanya mengangukk.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
@tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰