
Di tengah kebahagiaan keluarga Nina, kebersamaan nina dengan anak-anak dan suami barunya, ternyata menyimpan luka di keluarga lain.
Malam ini menjadi malam penuh ketegangan bagi keluarga Kamal, bagaimana tidak tiba-tiba pengacaranya datang dan menyatakan bahwa dia tidak berniat untuk melanjutkan kembali kasusnya.
"Besok sudah waktunya sidang. Bagaimana bisa anda berhenti di tengah jalan seperti ini!?" keluh Kamal kesal.
"Dari pada membuang waktu anda, lebih baik sidang besok tidak perlu di lanjutkan dan anda mengakui kesalahan anda. Jika dari awal saya tahu anda yang bersalah dalam perceraian ini, sudah pasti saya akan memilih mundur sejak awal karena sudah jelas anda yang akan kalah."
"Tapi kemarin anda masih begitu yakin kita akan menang, tapi kenapa sekarang anda malah ingin mundur?" tanya Silvi yang juga tidak mau kalah.
"Karena sekarang saya yakin sudah jelas pihak Bu Nina yang akan memenangkan persidangan ini. Apalagi setelah pernikahan mereka dan bukti-bukti perselingkuhan yang dilakukan oleh kalian."
Setelah menyerahkan berkas-berkas pengadilan, pengacara Kamal pun meninggalkan rumah mereka.
"Sial!?" umpak Kamal kesal dan melempar begitu saja map yang baru saja di serahkan oleh pengacara, beruntung berkasnya tidak sampai berserakan di lantai.
"Bagaimana mas? Kita sudah habis uang banyak untuk membayar pengacara itu."
"Kamu malah sibuk memikirkan uang di saat seperti ini!" bentak Kamla kesal dan langsung meninggalkan Silvi begitu saja.
Kamal masuk ke dalam mobil dan hendak pergi, Silvi pun segera berlari mencegah sang suami.
"Mau ke mana mas?"
"Mau cari angin, jangan ganggu aku sampai besok pagi." ucap Akmal bahkan tanpa berniat membuka pintu mobilnya dan ia pun segera pergi dengan mobilnya meninggalkan Silvi yang tengah kesal.
"Semua ini gara-gara Nina, kenapa harus selalu ada dia sih dalan hidupku. Dia benar-benar pengacau kehidupanku!" umpak Silvi kesal, ia seolah-olah menyalahkan Nina atas apa yang terjadi pada kehidupannya.
Selagi Kamal dan Silvi yang tengah uring-uringan, di tempat lain Nina tampak ragu untuk keluar dari kamar mandi. Ia terus saja mondar-mandir di kamar mandi, dari depan pintu balik lagi ke depan cermin. Entah sudah berapa kali ia melakukannya.
Berkali-kali dia tengah menetralkan detak jantungnya yang semakin malam semakin tidak karuan, sedangkan Dirga masih sibuk dengan layar datarnya. Ia baru saja mendapatkan email dari Radit tentang hasil meeting pagi tadi.
Setelah menghela nafas panjangnya, perlahan Nina pun meyakinkan diri sendiri bahwa ia bisa.
Nina pun perlahan membuka pintu kamar mandi, meskipun begitu pelan tapi tetap saja menimbulkan suara decitan, dan decitan itu berhasil mengalihkan perhatian Dirga dari layar datarnya.
Dirga begitu terpesona saat melihat Nina tanpa menggunakan hijab manik mata Dirga bahkan tidak mampu berkedip melihat pesona Nina. Mungkin ini yang di namakan janda semakin menggoda.
Nina tersenyum dengan rambutnya yang terurai sebahu hitam dan lurus, beberapa anak rambutnya tampak menutup sebagian wajah Nina karena hembusan angin dari jendela yang belum tertutup sempurna.
"Mas,"
Ini sudah kesekian kali Nina memanggil Dirga, dan Dirga baru tersadar,
"Iya?"
"Maaf ya mas, Nina nggak pa pa kan nggak pakek hijab?" melihat respon Dirga yang seperti itu, Nina jadi tidak enak. Ia khawatir jika Dirga tidak menyukainya.
Dirga pun menggelengkan kepalanya dengan reflek, "Eh, maksudnya enggak. Saya suka!" kembali Dirga berbicara dengan nada formalnya.
Nina pun perlahan mendekat dan Dirga segera menyudahi pekerjaannya, ia pun meletakan tab nya di atas meja nakas.
Nina pun naik ke atas tempat tidur, apapun yang Nina lakukan tidak terlepas dari perhatian Dirga,
"Enggak, cantik. Maksudnya, pakek hijab juga cantik,"
"kalau nggak pakek hijab?" tanya Nina yang sengaja mendekatkan wajahnya pada Dirga agar pria itu tergoda. meskipun ia sendiri merasa risih dengan yang dia lakukan, tapi ia harus sedikit agresif seperti yang di sarankan oleh Mita.
Jantung Dirga semakin tidak karuan saat wajah Nina begitu dekat dengannya,
"Cantik, tapi hanya untuk aku saja." dari kata-kata Dirga, sepertinya pria itu sudah lebih berani. Ia mulai membalas sikap Nina, ia pun mendekatkan bibirnya pada bibir nina hingga kini berjarak sekitar satu inci saja, hanya satu inci dan sebentar lagi menempel.
Tok tok tok
"Papa, ibuk. Sasa mau tidur sama papa!!"
Dengan cepat Nina dan Dirga menjauhkan tubuh mereka dan tersenyum kikuk.
"Iya bentar, ibuk buka pintunya ya."
Nina pun bergegas turun dari tempat tidur dan membukakan pintu untuk Sasa.
"Sayang, kebangun ya?" tanya Nina sambil mengendong putrinya itu.
Sudah menjadi kebiasaan Sasa, saat ia terbangun ia akan segera mencari ibunya.
"Mas, maaf ya Sasa tidur di sini. Atau biar Nina ajak Sasa kembali ke kamarnya?"
Dirga segera menggelengkan kepalanya dan menepuk tempat kosong di sampingnya,
"Enggak. Sasa mau tidur sama papa ya. Sini papa bacakan dongeng buat Sasa." ucap Dirga.
"Asyik!" Sasa dengan cepat merosot dari gendongan Nina dan berlari naik ke atas tempat tidur, Mai segera tidur menempel pada Dirga.
"Aku mau dongengnya putri dan si buruk rupa."
"Baiklah tuan putri papa, papa akan bacakan untuk tuan putri."
Nina pun tersenyum melihat kedekatan Dirga dan Sasa, ia pun ikut naik ke atas tempat tidur . Kini Sasa berada diantara Nina dan Dirga.
Dirga begitu telaten membacakan dongeng untuk Sasa, bahkan kini Nina pun ikut tertidur karena mendengar dongeng yang di bacakan oleh Dirga.
Melihat Sasa sudah tertidur, Dirga pun menutup bukunya dan meletakkannya di atas meja nakas. Ia tersenyum saat melihat Nina yang juga ikut tertidur.
Dirga mengecup kening Sasa dan membetulkan letak selimutnya. kemudian ia menatap wajah Nina yang juga begitu dekat dengan Sasa, tiba-tiba tubuhnya tertarik, bibirnya ia dekatkan ke arah kening nina dan meninggalkan kecupan juga di sana.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
@tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰