AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
11. kenapa Silvi?



“Kenapa Silvi, mas?”


Kamal bukan tidak tahu jika Silvi adalah teman dekat Nina, mereka bahkan bersahabat saat masih sekolah, kemana-mana mereka selalu bersama. Dan Silvi?


“Kenapa bukan orang lain?” tanya Nina lagi.


“Karena Silvi adalah alasan kenapa aku menerima lamaran bapak kamu,”


Sakit? Apa itu pantas untuk menggambarkan perasaan Nina saat ini, perih? Mengetahui kenyataan jika suaminya telah menyimpan merasaan yang begitu dalam pada perempuan lain. begitu bodohnya hingga dia tidak menyadarinya selama ini.


“Maksud mas Kamal apa?” Nina masih berusaha menekan rasa sakitnya demi mendengar kenyataan yang sebenarnya.


“Maaf karena aku tidak pernah menceritakan ini padamu sebelumnya, sebenarnya aku sudah berpacaran dengan Silvi sebelum kita menikah. Tapi aku benar-benar patah hati saat mendengar jika Silvi ternyata sudah menerima lamarn dari seorang pria kota tepat saat aku hendak melamarnya. Tepat saat itu, bapak kamu melamarku untukmu. Dan saat tahu jika Silvi telah bercerai, aku_,”


“Kalian menjalin hubungan lagi?” dengan cepat Nina memotong ucapan Kamal dengan pertanyaan dan kamal pun menganggukkan kepalanya pasrah.


“Dan bukan enam bulan, tapi dua tahun?”


Sekali lagi Kamal menganggukkan kepalanya,


Ckkkk, Nina berdecak kesal, sakit, merasa di hianati campur manjadi satu. Ia masih ingat sekali, dua tahun yang lalu ia tengah berkabung, bapaknya meninggal dunia dan suaminya dengan tega bermain di belakangnya. Entah kata apa yang pantas untuk menggambarkan semua ini, rasanya ia benar-benar dipermainkan.


“Kamu benar-benar tega, mas.” Ucap Nina sambil beranjak dari duduknya meskipun kini makanannya belum habis, dan dengan cepat Kamal menahan tangannya agar tidak pergi.


“Maafkan aku Nina, aku mengaku salah. Tapi perasaan ini tidak bisa aku bending.”


“Maaf mas, rasanya aku nggak akan bisa maafin kamu. Kamu sudah terlalu dalam menyakitiku mas, lepaskan tanganku mas, aku harus segera pulang.” nina berusaha melepaskan kengganamtangan kamal di lengannya.


“Berjanjilah padaku, jangan jauhkan anak-anak dariku. Aku tidak akan sanggup.”


“Bukan aku mas yang menjauhkan mereka dari mas, tapi mas sadar nggak? Mas sendiri yang sudah membuat mereka jauh.” ucap Nina sambil menghempaskan kasar tangan Kamal hingga membuat genggaman tangan Kamal benar-benar terlepas. “Aku pergi mas, assalamualaikum,”


“Waalaikum salam,” Kamal hanya bisa menatap punggungNina yang semakin menjauh.


Air mata Nina tidak mempu terbendung lagi, sepanjang perjalanan pulang air mata Nina terus menetes seperti tidak ada habisnya meskipun Nina terus menyekanya dan malah membuat pipinya terasa perih, ia sampai tidak berani melajukan motornya dengan cepat. Seharusnya ia bisa sampai dalam seperempat jam, ia sampai di ruah budhenya sampai hampir setengah jam.


“Mata kamu merah, kenapa?” tanya budhe saat menghampiri Nina ke dapur.


“Nggak pa pa budeh, tadi kena debu.” Ucap Nina sambil pura-pura sibuk mengeluarkan barang-barang belanjaannya. Merskipun budhenya tahu alasan sebenarnya bukan itu tapi ia tidak mau bertanya terlalu banyak, “Anak-anak sudah bangun budhe?” tanyanya kemudian.


“Sudah, mereka sudah mandi dan sarapan juga.”


“Syukurlah, Nina rencananya kembali ke kiota siang ini juga budhe.”


“Kenapa buru-buru sekali?”


“Nggak pa pa budhe, besok anak-anak sudah harus masuk seolah kan. Jadi lain kali kalau libur panjang pasti Nina ajak meteka ke sini.”


“baiklah, tapi sarapan dulu ya. Biar Tato yang antar kalian ke kota pakek pick up.”


“tapi kan Nina bawa motor, budhe.”


“Nggak pa pa, motornya di taruh di belakang.”


Budhe Nina tahu saat ini Nina sedang tidak baik-baik saja apalagi untuk berkendara sendiri ke kota dengan jarak yang lumayan jauh. Tato adalah salah satu pekerja budehnya Nina yang biasa mengirimkan barang hasil panen ke kota jadi dia sudah lumayan hafal dengan jalan-jalan ke kota.


Setelah berpamitan dengan budhenya, Nina pun mengajak anak-anaknya pulang. terlalu lama berada di desa membuat luka Nina semakin besar, ia juga masih mempunyai tanggu jawab untuk memperbaiki suasana hati anak-anaknya. Mungkin dengan kembali ek kota suasana hati mereka akan lebih baik.


“Terimakasih ya mas Tato, beneran nggak mau mampir?”


“Nggak usah mbak, takut kemalaman sampainya nanti.”


“Sama-sama mbak, kalau begitu saya permisi.”


Nina meninggu hingga pick up berlalu dari hadapannya, saat ia berbalik ia melihat mobil pemilik rumah sudah terparkir di halaman.


“Tidak biasanya dia pulang jam segini.” Gumamnya lirih sambil mendongakkan kepalanya menatap ke arah lantai dua, lampu di lantai dua sudah menyala itu tandanya penghuninya ada di dalam.


“Buk, ayo masuki. Akmal sudah ngantuk.” Ucap Akmal sembari mengucek matanya yang memang sudah tampak memerah.


“Iya sayang, bentar ya kalian.”


Nina pun segera mengajak anak-anaknya masuk ekd alam rumah dan menyalakan lampu. Ini masih jam lima sore tapi tetap saja jika tidak di nyalakan rumah akan terasa gelap.


“Boboknya nunggu sholat sekalian ya kak.” Ucap Nina karena sebentar lagi magrib dan Akmal pun menganggukkan kepalanya.


Meskipun badan dan hatinya benar-benar capek, Nina masih menyempatkan makan malam untuknya dan anak-anak. Bagaimanapun keadaanya saat ini, ia tidak bisa mengabaikan anak-anaknya.


“Akmal boleh tidur sama ibuk ya mala mini? Sama Sasa juga?” tanya Akmal yang sudah berdiri di ambang pintu kamarnya membuat Nina tersenyum, saat ini ia memang tengah membutuhkan mereka.


“Iya sayang, boleh banget. Sinin.” Nina meregangkan kedua tangannya , Akmal dan Sasa pun berlari ke arahnya dan menyusupkan tubuh mereka ke pelukan Nina.


Nina pun membacakan dongeng untuk anak-anaknya sebelum tidur, hingga Sasa terlelap. Dan ia pikir Akmal pun semikian hingga ia mengakhiri dongennya.


Suasana kembali hening saat ia meletakkan buku dongeng itu di atas nakas, tangannya masih memeluk kedua anaknya. Mengusapn punggung Akmal dan Sasa. Ingin menangis tapi tidak bisa ia lakukan di depan anak-anaknya.


“Bu,”


“Kak, kamu belum tidur?”


Akmal menganggukkan kepalanya tapi ia tidak membuka matanya, “Ibuk jangan khawatir ya, ada Akmal dan Sasa. Akmal yang akan jaga ibuk dan adek.”


Nina mengeratkan pelukannya, air mata yang sedari tadi ia simpan harus kembali tumpah, “Terimakasih sayang, kalian kekuatan ibuk.”


“Jangan menangis buk,” akmal kembali duduk dan menghapus air mata Nina.


“Enggak, ibuk hanya terharus sayang. Ibuk nggak nyangka ternyata putra ibuk ini sudah besar. Terimakasih ya sayang.” Nina kembali memeluk Akmal dengan begitu erat.


“Sudah, kakak tidur ya. Ibu akan baik-baik saja kalau kakak dan Sasa juga.”


Akhirnya Akmal kembali tidur dan Nina mengusap rembut Akmal hingga ia benar-benar terlelap. Higga suara deringan ponselnya membuatnya sedikit terkejut. Dengan perlahan ia turun dari tempat tidur dan menerima telpin itu. itu dari Mita.


“Hallo Ta, ada apa?”


“Lo udah pulang belum?”


“Udah tadi sore, ada apa?”


“Besok gue ke rumah lo ya, ada yang pengen gue bicarain sama lo.”


“Baiklah, gue tunggu.”


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...