
Akhirnya mereka sampai juga di depan sebuah rumah, memang tidak terlalu besar tapi ini juga lebih besar dari kontrakan lamanya.
“Ta, lo yakin benar? Nggak salah informasi?” tanya Nina sambil menahan tangan Mita saat hendak memasukkan kunci ke lubang kunci yang ada di pintu utama.
“Apanya?”
“Rumah sebagus ini gue hanya nyewa lima juta satu tahunnya?”
“Iya Na. Sebenarnya kalau lo mau sekalian bersih-bersih, ibu pemilik rumah ini ngasih gratis dari pada dia nyewa tukang bersih-bersih.”
“Yang benar?” mata Nina berbinar tidak percaya membuat Mita mengerutkan keningnya.
“Jangan bilang lo setuju?”
“Ya iya lah Ta, bodoh nanget gue kalau nggak setuju. Dapat tumpangan gratis cuam di suruh bersih-bersih, apa susahnya coba,”
“Itu artinya lo jadi pembantu loh Na, jangan deh.”
“Nggak pa pa Ta, itung-itung ngirit.”
“Lo yakin?” Mita masih sangsi, ia merasa tidak enak jika membiarkan sahabatnya itu harus bersusah payah seperti itu.
“Iya Ta. Ini juga tidak begitu besar hingga akan membuang waktu gue, Ta.”
“Baiklah, entar gue bilang sama mas Bram ya.”
“Siap.”
***
Akhirnya hari pindahan itu tiba juga. Akmal dan Sasa yang sudah di beritahu sebelumnya juga tampak bersemangat membantu Nina mengemas barang-barang.
“Nanti kalau ayah ke sini trus cari kita gimana buk?” tanya Akmal saat Nina sudah selesai menaikkan semua barang-barang ke atas pick up.
Nina mengusap puncak kepala Akmal dan tersenyum, “ayah pasti tahu nak. Ibuk kan sudah kasih tahu ayah.”
“Jadi ayah nanti nyusul kita ya buk?” tanya Akmal lagi.
“Iya sayang, ya sudah cepetan panggil adek, nanti keburu petang. Kasihan bibi Mita kalau nunggunya kelamaan.”
“Siap, ibuk.”
Sembari menunggu Akmal kembali, Nina memilih menhubungi Mita dan mengatakan kalau mereka siap untuk berangkat. Walaupun berat rasanya meninggalkan rumah yang sudah menyimpan banyak kenangan bersama kelyarga kecilnya yang utuh itu, tapi nina sadar ia tidak bisa hiduo di dalam bayang-bayang masa lalunya. Ia harus bangkit demi anak-anaknya.
Butuh waktu setengah jam untuk sampai di rumah kontrakan barunya. Ia sengaja memilih kontrakan itu karena jaraknya juga cukup dekat dengan sekolah anak-anaknya jadi saat ia bekerja nanti dan tidak bisa menjemput anak-anaknya, mereka bisa jalan karena bisa di tempuh dengan jalan kaki.
“Ta, kok banyak orang sih?” tanya Nina saat melihat orang-orang yang di bawa sahabatnya itu.
“Sengaja Na , gue bawa sopir, satpam gue buat bantuin lo mindahin barang, Jadi sekarang lo duduk aja biar mereka yang masukin barang-barangnya.”
“Barang-barang gue nggak banyak, Ta.”
“Tetep aja, sudah sini duduk. Ada yang mau gue omongin,” Mita menarik tangan Nina dan mengajakanya duduk di teras. Sebelum memulai pembicaraan, Mita memanggil salah satu orang bawaanya, “ Nanti di tarus di kamar aja ya pak barangnya.”
“Semuanya mbak?”
“Yang agak besar di taruh di ruang keluarga itu ya.”
“Baik mbak.” Akhirnya urusan barang-barang selesai Mita kembali fokus pada Nina. Baru saja hendak berbicara tiba-tiba Akmal dan Sasa menghampirin mereka.
“Buk,” panggilnya.
“Iya kak, ada apa?”
“Akmal sama Sasa main di belakang ya Buk, di belakang ada kolam yang besar buk sama tamannya juga, ada pohon manga, jeruk, anggur, anggurnya juga ada buahnya buk.” Akmal begitu antusias bercerita bahkan tangannya sampai bergerak ke sana kemari seolah menggambarkan betapa luar biasanya rumah itu.
“Boleh, tapi nggak boleh petik apapun ya kalau belum ijin sama pemiliknya.”
“Siap ibuk,”
“Siap ibuk,”
“Anak pintar,”
Akhirnya Akmal dan Sasa meninggalkannya, kini Nina kembali fokus pada sahabatnya ,
“Ada apa Ta?”
“Ini juknis selama lo tinggil di sini,”
“Ce ilehhh, pakek juknis segala,” Nina pun mengambil kertas yang di bawa Mita dan mulai membacanya satu persatu point yang ada di kertas itu.
“Dari semua point itu yang paling penting yang point lima, pokoknya lo kalau mau bersihin rumah atas harus nunggu penghuninya keluar dulu, ngerti kan?”
“Gimana gue tahunya kalau penghuninya keluar?”
“Ya allah Na, nih rumah nggak gede loh. Pemiliknya parkir mobilnya di bawah, lo kan juga bakal denger kalau mobilnya pergi.”
“Trus orangnya kalau turun lewat mana?”
Mita tiba-tiba memutar kepala Nina dan meniringkannya hingga ia bisa melihat tangga di sana, “Tuh kelihatan kan, dia bakal turun dari sana.”
“gue kok jadi takut ya, Ta.”
“Takut apa lagi nih? Jangan aneh-aneh ya,”
“Gue kan bentar lagi janda, trus pemilik rumah ini pria dewasa juga. Nggak takut jadi omongan tetangga apa?”
“Kan lo kedaftar sebagai penghuni kontrakan, lagi pula ini bukan lo yang pertama.”
“Maksudnya sudah pernah di kontrak sebelumnya?”
“Iya, lo penghuni ke lima kalau nggak salah.”
“Jadi bener kan nggak pa pa?”
“Nggak pa pa, jangan parnoan gitu deh,”
***
Hari-hari Nina ia lalui seperti biasanya. Selama belum mendapatkan pekerjaan, ia dan anak-anaknya hidup dengan sisa tabungannya, Kamal juga masih mengiriminya uang satu minggu sekali.
Keseharian Nina tidak jauh beda dengan kesehariannya di rumah lama, ia akan bangun pagi-pagi sekali, mengurus anak-anak, mengantar ke sekolah dan kembali lagi ke rumah, membersihkan rumah, memastikan penghuni rumah atas sudah pergi dan membersihkan rumah atas.
Penampakan rumah atas tidak jauh beda dari hunian para pria biasanya, tidak ada pajangan apapun selain gambar pemandangan dan jam dinding.
Selama dua minggu tinggal di rumah itu, ia sama sekali tidak pernah melihat penghuni atas karena dia pulang saat Nina dan anak-anaknya sudah terlelap dan akan berangkat saat ia sedang mengantar anak-anaknya ke sekolah dan hal itu pun berlaku di hari libur. Ia hanya akan mendengar mobil datang atau pergi persis seperti yang di gambarkan oleh Mita. Ia cukup bersyukur karena meskipun hidup satu atap dengan orang asing sama sekali tidak berpengaruh dengan kehidupan pribadinya.
***
Hari ini tepat satu bulan setelah malam menyakitkan itu. Kini Nina tengah melangkahkan kakinya ke gedung yang sebelumnya bahkan hanya dalam mimpi pun ia tidak berminat masuk ke dalamnya, ini adalah pengadilan agama dan ia tengah menunggu seseorang.
Akhirnya sebuah mobil yang begitu familiar memasuki halaman parkir yang ada di depan gedung, bukannya merasa lega karena orang yang sudah ditunggunya selama setengah jam ini datang tapi jantungnya malah bertalu tidak karuan, ia benar-benar tidak suka berada dalam keadaan seperti ini.
“Maaf ya aku terlambat.” Ucapnya dan suara itu terasa masih begitu membuat jantungnya bergetar, suara yang ingin selalu ia dengar setiap ia ,membuka mata hingga terlelap kembali. Tapi keberadaannya di depan gedung ini membuat harapannya pupus, suara itu akan semakin menjauh dari kehidupannya.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...