AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
47. Akting Silvi



"Papa pulang dulu ya, nanti papa janji akan kembali temani Akmal." ucap Kamal berpamitan saat waktu menunjukkan sudah pukul satu siang, ini waktunya untuk menjemput sang istri.


Meskipun ia sudah memberitahu sang istri jika Akmal masuk rumah sakit tapi ia tidak yakin kalau Silvi tidak akan marah saat ia terlambat menjemput.


"Ibuk antar ayah ke depan ya kak," Nina pun mengikuti mantan suaminya itu hingga ke depan pintu.


"Makasih ya mas sudah mau datang," ucap Nina kemudian setelah sampai di depan pintu.


Bukannya senang mendapat ucapan terimakasih dari Nina, Kamal malah menatap Nina aneh,


"Kamu sengaja menyindir aku ya?"


Yahhhh, salah lagi ...., Nina hanya bisa mengelus dada. Jika dulu saat masih berstatus sebagai istrinya makan Nina akan segera meminta maaf agar Kamal tidak marah, agar rumah tangganya tetap harmonis. Tapi jika sekarang, tidak ada alasan baginya untuk terus mengalah.


"Maksudnya?" tanya Nina segera dengan nada yang lebih rendah agar Akmal tidak sampai mendengar perdebatan mereka, tidak lupa Nina juga menutup pintu kamar Akmal.


"Ya kamu sengaja buat aku terlihat jahat di depan anak-anak, dan pria itu, siapa namanya?"


"Pak Dirga?"


"Ya siapalah itu, aku nggak suka ya anak-anak dekat sama dia. Dia bisa bawa pengaruh buruk sama anak-anak. Lihat kan bagaimana perlakuan Akmal, dia lebih membanggakan pria itu di banding ayahnya sendiri."


Ya itu sih salah mas Kamal sendiri, kenapa nyalahin orang, Nina hanya bisa membatin.


"Kenapa diam saja? Bisa kan jangan biarkan anak-anak dekat sama dia?"


"Itu hak anak-anak mas, asal anak-anak nyaman dan orangnya baik, Nina tidak pernah melarang anak-anak buat bergaul sama siapa saja."


Kamal mengerutkan keningnya, "Atau jangan-jangan kamu juga merasa nyaman ya? Sudah di kasih apa saja kamu sama dia?" tanya Kamal curiga.


"Itu urusan Nina, mas Kamal sudah tidak punya hak lagi mencampuri urusan Nina, apapun itu kecuali berhubungan dengan anak-anak." jawab Nina tegas.


Ckkkk ...


Kamal berdecak, "Jadi benar? Kalian punya hubungan khusus? Atau jangan-jangan malah kalian sudah melakukan hubungan terlarang? Kalian tinggal di rumah yang sama kan!?"


Plakkkkk


Rasanya Nina sudah membayangkan bagaimana tangannya mendarat di pipi pria di depannya itu, tapi kini tangannya hanya bisa menggenggam erat di bawah kemeja yang ia kenakan. Jika tidak berada di rumah sakit, mungkin saat ini ia sudah melakukannya tapi ia masih bisa mengontrol emosinya.


"Terserah bagaimana mas Kamal berpikir. Jika delapan tahun ini mas Kamal mengenali siapa saya, mas Kamal tentu tidak akan bicara seperti itu tentang saya, assalamualaikum," ucap Nina dengan nada formalnya kemudian tanpa menunggu jawaban salam Kamal, Nina sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar Akmal.


Melihat sang ibu bersandar di pintu sambil memegangi letak jantungnya, Akmal pun merasa curiga,


"Ibuk nggak pa pa?" tanyanya membuat Nina sadar jika ada Akmal di sana, Nina segera menghapus air matanya yang hendak tumpah dan menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyum.


"Nggak pa pa sayang, kamu tidak jadi tidur?" tanya Nina sambil berjalan mendekati Akmal.


***


"Malam ini aku ke rumah sakit ya." ucap Kamal pada sang istri yang tengah berbaring di atas pangkuannya.


"Kan ada Nina, mas. Silvi nggak mau ya mas berduaan sama Nina."


"Nggak akan ada apa-apa sayang."


"Kalau gitu Silvi ikut ke rumah sakit."


"Kamu kan sedang hamil, nggak usah ya. Kasihan bayi kita kalau di ajak bergadang semalaman."


"Nggak pa pa mas. lagi pula Kila juga nggak di rumah, Silvi takut di rumah sendiri."


"Baiklah kalau kamu memaksa."


Akhirnya Kamal dan Silvi pun ke rumah sakit,


Melihat kedatangan Silvi dan Kamal, Nina pun segera menyambutnya.


"Hai Nina, gimana kabar kamu?" tanya Silvi sambil bergelayut manja di lengan sang suami.


"Baik,"


"Kamu terlalu sibuk ya belakangan ini, sampai lupa jaga anak!?" ucap Silvi yang begitu menyakitkan tapi di kemas dengan nada yang begitu manis.


"Itu bukan urusan kamu." jawab Nina sinis.


"Nina, Silvi bicara baik-baik dan BENAR, jadi kalau jawab juga yang benar. Jangan asal gitu." protes Kamal karena tidak terima istrinya di bentak.


"Sudah nggak pa pa mas, Silvi juga nggak sakit hati."


Nina hanya bisa memutar bola matanya kesal, Silvi pun mendekat dan duduk di kursi yang ada di seberang tempat duduk Nina hingga membuat Mereka berhadapan di antara Akmal, sedangkan Kamal lebih memilih mendekati Sasa yang tengah duduk di sofa sambil bermain bungkar pasang yang sengaja ia bawa dari rumah.


"Biar ayah temani main ya." ucap Kamal dan Sasa begitu senang.


"Sayang, bagaimana apa masih ada yang sakit?" tanya Silvi kemudian pada Akmal setelah beberapa saat saling diam, dan Akmal pun menggelengkan kepalanya.


"Enggak bi," jawab Akmal dengan suara lemah. "Buk, paman Aga nggak jadi datang ya?" tanya Akmal kemudian pada Nina membuat Kamal yang mendengarnya seketika menoleh ke arah Akmal,


"Kan sudah ada ayah sayang, ayah sama mama Silvi yang akan temani Akmal malam ini." sahutnya kemudian membuat Akmal terdiam.


Sebenarnya Dirga bukannya tidak datang, ia sudah datang sedari tadi tapi melihat Kamal dan Silvi yang memasuki gedung rumah sakit membuat Dirga urung memarkir mobilnya.


Kini sudah jam sembilan malam, sebenarnya jika Sasa harus menginap di rumah sakit setiap hari, Nina merasa tidak tega. Ia pun berencana untuk pulang karena ada Kamal dan Silvi yang akan menunggu Akmal.


"Nggak pa pa ya mas kalau aku titip akmal?" tanya Nina merasa tidak enak.


"Nggak pa pa, Akmal itu anak saya. Jadi jangan khawatir."


Belum selesai berunding, tiba-tiba Silvi berlari cepat ke kamar mandi.


Hoekss hoekss hoeksss


Kamal dengan cepat menyusul sang istri ke kamar mandi,


"Ada apa sayang?" tanyanya sambil memijat lembut tengkuk Silvi.


"Kayaknya aku masuk angin deh mas, atau mungkin gara-gara aroma obat yang terus menyengat di hidung Silvi ya mas? Badan Silvi rasanya nggak enak banget, Silvi kayaknya nggak kuat jika harus menginap di sini." ucap Silvi dengan manja.


"Kamu mau aku antar pulang dulu?"


"Nggak usah mas, Silvi pakek taksi aja."


"Mana bisa seperti itu," Kamal terlihat bingung hingga membuat Nina menghampiri mereka.


"Nggak pa pa mas, mas Kamal antar Silvi saja dulu."


Tiba-tiba tubuh Silvi oleng, dan Kamal dengan sigap mengangkat tubuh istrinya itu,


"Maaf ya mas, kepala Silvi pusing sekali." ucap Silvi dengan lemah.


"Baiklah, mas akan antar kamu pulang." ucap Kamal kemudian.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...