AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
69. Canggung



Malam semakin larut tapi pengantin baru itu masih tampak sibuk dengan urusannya, ada saja yang mereka kerjakan untuk menghilangkan rasa canggung. mulai dari merapikan kado, mengemasi sisa kue hajatan yang masih berserakan di meja dan karpet ruang tamu, melipat karpet. Sebenarnya jika Dirga mau, ia bisa meminta anak buahnya untuk melakukannya esok hari atau malam ini juga. Tapi Dirga dengan sengaja meminta semua pekerjanya untuk meninggalkan rumah setelah pembongkaran tenda hajatan selesai. Ia tidak mau kebersamaan dengan keluarga barunya terganggu dengan keberadaan orang lain di rumah mereka. yang tersisa hanya pak Tama yang menggantikan fajar malam ini karena Fajar harus mengantar Bowo ke bandara.


"Sudah selesai semua," ucap Dirga sambil meregangkan tubuhnya sambil duduk di sofa ruang keluarga.


"Terimakasih ya, mas." ucap Nina membuat Dirga menoleh padanya dan mengerutkan keningnya.


"Kenapa terimakasih?"


Nina yang masih berdiri pun terlihat bingung harus menjawab apa saat mendapat tatapan yang tidak biasa dari sang suami.


"Karena mas Dirga mau membantu Nina, ini pekerjaan Nina."


"Siapa bilang, ini pekerjaan kita bersama. Jika kamu saja bisa bekerja, saya akan merasa malu jika tidak bisa membantu pekerjaanmu di rumah, jadi kedepannya biarkan saya membantu pekerjaanmu juga di rumah jika kamu masih ingin bekerja di kantor, bagaimana apa kamu setuju?" ucap Dirga sambil mengacungkan jari kelingkingnya membuat Nina tersenyum dan menautkan jari kelingkingnya pada jari Dirga.


"Setuju, jadi biarkan saya tetap bekerja sampai saya sendiri yang meminta untuk berhenti, bagaimana?"


"Sepakat." ucap Dirga, ia pun segera berdiri dari duduknya .


"Baiklah, sudah sangat malam jadi aku akan kembali ke atas." ucap Dirga dan seketika Nina tersentak, ia menatap tidak percaya pada perkataan pria itu.


"Mas Dirga mau tidur di atas?" tanya Nina memastikan apa yang baru saja ia dengar itu benar.


"Emm," Dirga tampak ragu untuk melanjutkan ucapannya, "Apa kamu tidak keberatan kalau aku tidur di bawah?" tanyanya kemudian, sebenarnya ia menunggu kesempatan untuk membicarakan ini hingga selarut ini.


"Ini rumah mas Dirga, mas Dirga bebas tidur dimana aja." ucap Nina ambigu, Dirga tidak bisa mengartikan dengan pasti ucapan Nina ini hingga ia harus kembali berpikir keras untuk kembali bicara, rasanya pembicaraan ini begitu sensitif hingga ia tidak bisa bicara sembarangan.


"Kamu benar tidak merasa keberatan?"


"Tidak," Nina menjawab dengan cepat dan dengan cepat lagi Dirga kembali bertanya.


"Meskipun saya tidur di mana saja?"


"Ya,"


"Di kamar yang sama denganmu?"


"Ya_," tapi kali ini jawaban Nina menggantung, sepertinya ia baru menyadari sesuatu.


"Ya?" Dirga memastikan jawaban Nina yang terakhir.


"I_ya," jawab Nina malu-malu. Ia tidak mau terlihat begitu berharap apalagi mengingat kembali posisinya dan alasan mereka menikah rasanya tidak pantas jika dirinya meminta hal lebih.


"Baiklah, ayo!" tiba-tiba Dirga berjalan mendahuluinya Nina membuat Nina semakin tercengang dibuatnya, ia tidak menyangka Dnegan reaksi Dirga saat ini.


Dirga kembali berhenti saat menyadari Nina bahkan belum beranjak dari tempatnya,


"Hallo, apa ada masalah?" tanyanya kemudian sambil berbalik menatap Nina dan dengan cepat Nina tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Tidak,"


Mereka pun akhrinya menuju ke kamar yang sama. Dirga tampak mengedarkan pandangannya, menatap sekeliling kamar itu. Tidak ada yang berubah, Bahkan Nina tidak memajang satu pun foto dirinya di kamar itu.


"Kenapa tidak ada foto kamu di sini?" tanya Dirga yang masih sibuk mengamati sekeliling, meskipun itu rumahnya tapi ia sudah tidak lagi melihat kamar itu hampir satu tahun semenjak rumah itu di sewakan pada Nina dan anak-anak nya.


Nina yang tengah merapikan tempat tidur pun menoleh pada Dirga dan tersenyum,


"Saya hanya penyewa, jadi rasanya tidak pantas jika memasang banyak foto di sini."


"Setelah ini kamu bebas memasang banyak foto di sini. Karena rumah ini sekarang rumah kamu dan anak-anak."


Mendengar jawaban dan Dirga, Nina malah terdiam. Ia tidak tahu harus senang atau sedih, meskipun bibirnya tersenyum tipis tapi ia tidak tahu dengan perasaannya.


"Sepertinya kita harus mencetak foto pernikahan kita yang ada anak-anak dengan ukuran besar dan menempelnya di sini!" ucap Dirga lagi mencairkan suasana sambil menunjuk pada dinding yang terlihat kosong.


"Tidurlah dulu, saya harus cuci muka dulu di kamar mandi." ucap Nina lagi saat ia sudah selesai merapikan tempat tidur.


"Hmmm,"


Nina pun segera masuk ke kamar mandi, mencuci wajahnya sedangkan Dirga segera naik ke tempat tidur.


Seharian ini ia tidak membuka email dari Radit, begitu banyak motif masuk yang ia abaikan. Sebari menunggu Nina keluar dari kamar mandi, Dirga pun memberikan memeriksa email yang masuk.


Sedangkan Nina, ini pernikahannya yang ke dua. Tapi tetap saja, ia tidak bisa mengatur detak jantungnya agar tidak berdetak berlebihan. cukup lama ia berdiri di depan cermin yang ada di kamar mandi, menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Setelah ini ia akan membuka hijabnya di depan rapi yang beberapa bulan ini menjadi atasannya.


"Hehhhhh, semua akan baik-baik saja Nina." Nina berusaha menyemangati dirinya sendiri.


Setelah mengatur nafasnya beberapa kali akhrinya Nina memutuskan untuk keluar dari kamar mandi.


Dirga menoleh sebentar pada Nina dan kembali sibuk dengan layar tabnya.


Hingga Nina duduk di ranjang kosong di sampingnya barulah Dirga kembali menoleh pada Nina.


"Tidurlah dulu, aku akan menyelesaikan pekerjaanku. matikan lampunya jika kamu tidak nyaman tidur dengan lampu menyala."


Apa yang Nina persiapkan sedari tadi tiba-tiba menguap begitu saja dengan perkataan dari Dirga.


Ah mungkin aku terlalu berharap lebih ....


"Iya," jawab Nina. Ia pun segera merebahkan tubuhnya dan menutup tubuhnya dengan selimut.


Nina memilih memiringkan tubuhnya membelakangi Dirga. sedangkan Dirga, ia melihat sebentar ke arah Nina.


Sebenarnya sibuk yang Dirga lakukan hanya untuk mengalihkan sesuatu. Ia tidak ingin membuat Nina merasa tidak nyaman.


Ceklek


Dirga mematikan lampu kamarnya membuat Nina membalik tubuhnya.


"Kenapa di matikan?"


"Tidak pa pa, saya juga biasa bekerja di tempat gelap. Jadi jangan merasa tidak enak, tidurlah kembali. Atau kamu tidak bisa tidur karena saya terlalu berisik?"


"Tidak perlu, saya akan tidur." ucap Nina pasrah dan ia pun kembali berbalik kembali memejamkan matanya berusaha untuk tidur.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


@tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰