AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
29. Keputusan yang tepat



...Bunga yang terlanjur di buang bukankah tidak mungkin bisa kembali lagi, jadi jangan pernah berharap bunga itu akan menghiasi rumahmu kembali karena mungkin akan ada rumah lain yang lebih menghargainya....


...🌺🌺🌺...


Sore hari, seperti biasa Nina memarkir motornya di halaman samping tapi yang membuatnya berbeda, kali ini tidak ada siapapun di rumah itu selain dirinya.


Jika biasanya kedatangannya selalu di sambut anak-anak, sekarang bahkan tidak ada yang membukakan pintu untuknya.


Jika ia tidak ingat akan menyiapkan baju ganti dan beberapa buku untuk anak-anaknya, mungkin saat ini ia memilih menghabiskan waktu di taman atau ke rumah Mita.


Hehhhh


Nina menghela nafas panjang begitu kakinya menapak di dalam rumah yang terbilang sangat besar baginya itu. Ia mengurusi ruangan demi ruangan, tidak ada canda tawa anak-anak.


"Ini hanya dua hari Nina, kamu pasti kuat."


Nina melanjutkan langkahnya ke dapur, mengambil segelas air putih dan meneguknya hingga habis.


Setelah tenggorokannya yang kering kembali basah, ia pun melanjutkan langkahnya ke kamar anak-anaknya, kamar tamu yang ia sulap menjadi kamar anak-anak.


Dengan tangan cekatan ia mengambil seragam yang akan di pakai Sasa dan akmal besok, mengambil buku pelajaran untuk besok dan lusa, juga beberapa baju ganti untuk mereka kemudian memasukkannya ke dalam tas traveling yang terpisah, Akmal berwarna biru dan Sasa berwarna merah muda.


Setelah selesai, Nina pun cepat-cepat mandi agar tubuhnya lebih segar kemudian mengganti bajunya dengan daster panjang rumahan yang biasa ia kenakan.


Karena tidak ada siapapun, ia bencana untuk segera bersih-bersih rumah atas. Ia pun segera memakai jilbab instannya dan mengambil sapu di gudang.


Tapi tangannya urung mengambil saat mendengar sebuah mobil berhenti di depan rumah.


"Jangan-jangan itu mas Kamal," gumamnya dan segera meninggalkan gudang untuk melihat siapa yang datang.


Benar saja, saat ia menyingkap kelambu yang ada di jendela depan, terlihat mobil suaminya itu sudah terparkir di halaman yang cukup luas itu.


Dengan cepat Nina membukakan pintu untuk mantan suaminya itu,


"Assalamualaikum, mas. Silahkan duduk dulu, biar Nina ambilkan tas milik Sasa dan Akmal." ucap Nina dengan cepat bahkan sebelum Kamal sempat menjawabnya.


"Waalaikum salam, kamu tidak mempersilahkan aku masuk?" tanya Kamal yang sebenarnya kedatanganya juga ingin melihat-lihat rumah tempat tinggal mantan istrinya itu.


"Maaf mas, tidak ada siapapun di sini selain kita berdua, jadi rasanya tidak baik juga Nina mengijinkan mas Kamal masuk."


"Kita kan pernah jadi suami istri, apa salahnya."


"Pernah bukan berarti masih mas, jadi Nina harap mas bisa mengerti apa yang Nina maksud.


"Baiklah terserah kamu, aku harus. Boleh kan siapkan segelas kopi atau teh?"


"Baik mas, tunggu sebentar ya mas."


Nina pun segera masuk dan kembali mengunci pintunya dari dalam untuk berjaga-jaga saja, takutnya kamal tetap memaksa maksud meskipun dirinya sudah melarang.


Selang beberapa menit, Nina kembali dengan membawa nampan yang berisi secangkir kopi juga camilan yang berada di dalam sebuah toples.


"Di minum mas, kopinya."


Kamal pun segera meneguk kopi buatan Nina,


"Ternyata rasanya masih sama." ucap Kamal yang selalu memuji kopi buatan Nina.


"Orangnya masih sama mas, tapi mungkin posisinya yang sudah berubah."


"Syukurlah kamu tahu," ucap Kamal dengan santainya. Rasanya Nina ingin sekali menimpali ucapan yang dirasa sangat menyebalkan itu tapi Nina memilih diam karena ia tidak mau kembali ribut dengan mantan suaminya itu.


Kamal kembali meneguk kopinya setelah cukup lama tidak ada tanggapan dari Nina.


"Bukankah rumah ini terlalu besar untuk kalian berdua? Di depan juga ada scurity juga, apa itu artinya kamu juga ikut membayar scurity itu?"


"Yang pertama yang penting anak-anak senang, aku juga senang mas, tidak perduli rumah itu besar atau kecil dan yang kedua, scurity sudah menjadi tanggungan pemilik rumah."


"Ohhh, aku pikir kamu yang membayarnya. Kamu jangan gengsi lah, cari kontrakan yang seperti biasa saja, ya minimal lebih kecil sedikit dari kontrakan aku dan Silvi, jangan malah mengontrak rumah mewah seperti ini."


"Harga kontraknya pasti mahal, jangan hanya gara-gara kamu gengsi trus mengorbankan keperluan anak-anak demi membayar kontrakan."


" Lagi pula teman-teman kamu juga nggak peduli kalaupun kamu pamer rumah mewah, teman-teman akan tetap sama."


" Siapa itu si Ani yang suaminya tukang bakso, Warti yang penjahit keliling, Mimin yang berjualan di pasar, paling yang paling bener cuma Mita, itu pun kalau nggak suaminya yang kaya juga nggak akan kaya seperti sekarang."


Ucap Kamal panjang lebar seperti yang di hasutkan Silvi padanya dan Nina masih diam mendengarkan, ia ingin tahu sampai mana mantan suaminya itu meremehkan dirinya,


Hingga akhirnya Kamal menyelesaikan kata-katanya barulah Nina bergantian bicara.


"Mas, asal mas tahu Nina mengontrak rumah ini bukan karena gengsi."


"Yang kedua, Nina tidak mengambil uang sepeserpun yang mas kasih buat anak-anak buat bayar kontrakan, karena gajiku masih sangat cukup untuk membayarnya."


"Dan yang ke tiga, Nina bersyukur banget karena memiliki teman-teman seperti mereka, meskipun miskin harta, tapi mereka tidak miskin adab."


"Jadi menurut kamu, aku miskin adab?" tanya Kamal kesal karena merasa tersindir dengan ucapan Nina.


"Nina sama sekali tidak bermaksud menyindir mas, tapi jika mas merasa sebaiknya mas instrospeksi diri. Berarti mungkin ada yang salah ada diri anda."


"Terserahlah, itu urusan kamu. Sekarang, mana baju ganti anak-anak?"


Nina pun bergegas meninggalkan Kamal dan mengambil tas milik Sasa dan Akmal.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰