AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
33. Rasa nyaman



...Jika aku memilih bahu lain untuk bersandar, jangan salahkan aku karena ada bahu yang lebih nyaman saat kamu juga memilih membaginya dengan orang lain....


...🌺🌺🌺...


Seperti biasa, Dirga selalu pulang dulu sebelum ke kantor usai mengajar di kampus.


Sebenarnya bukan tanpa alasan ia pulang, Dirga bukan orang yang suka menyimpan baju ganti di dalam mobil, saat menjadi seorang dosen ia berpakaian selayaknya seorang dosen, mengenakan kemeja polos atau batik tanpa jas tapi saat ke kantor ia akan berpakaian formal layaknya seorang bos sebuah perusahan, bukan karena ia ingin menunjukkan jati dirinya sebagai seorang bos tapi ia hanya ingin menghormati kliennya saat meeting, salah satunya dengan berpakaian selayaknya seperti mereka.


Mobilnya sudah terparkir di depan rumah, dengan langkah cepat ia menuju ke tangga samping rumah, tapi kembali langkahnya terhenti saat manik matanya menatap pada jendela kaca besar yang terhubung dengan ruang keluarga itu, di sana biasanya saat pulang dari kampus seperti ini ia akan melambaikan tangannya pada dua malaikat kecil yang lucu yang tengah bermain di balik kaca jendela.


Hehhhh ....


Dirga menghela nafas, senyumnya memudar saat mendapati rumah itu sepi,


"Mereka pasti sedang bersenang-senang dengan ayahnya," gumamnya lirih, mengatakan hal itu seperti ada yang mengganjal dalam dadanya.


Semenjak kedekatannya beberapa Minggu lalu dengan anak-anak Nina membuatnya merasa seperti memiliki.


Dengan langkah gontainya Dirga kembali menaiki tangga, semangatnya seperti memudar. Dengan lesu ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa, biasanya ia bisa bercanda dulu dengan anak-anak sebelum kembali bekerja. Setidaknya suara canda tawa anak kecil sudah terbiasa menghiasi rumah yang sunyi itu.


Kemudian netranya terfokus pada sebuah piring yang berada di atas meja, piring yang sama yang selalu ada saat ia kembali dari kampus.


Tiba-tiba sudut bibirnya tertarik ke atas hingga membentuk lengkungan senyum, tangannya dengan cepat terulur untuk membuka tudung yang menutupi piring itu, beberapa potong gorengan sudah tersaji di atas piring lengkap dengan cabe hijau.


Meski sudah tidak lagi hangat, tapi rasa gurih dari gorengan itu selalu bisa memanjakan lidah Dirga.


"Kenapa aku tidak sadar dari dulu, siapa tahu jika rasa gorengan ini nyatanya sama, dan pembuatnya pun sama." tuturnya sambil menertawakan ketidak pekaannya pada hal sejelas itu.


Hingga suara mobil yang berhenti di bawah menghentikan kunyahannya, ia pun bergegas melihat siapa yang datang di jam seperti ini.


"Pria itu," gumamnya saat melihat pria yang turun dari mobil, seketika senyumnya merekah saat melihat siapa yang tengah menyusul turun.


"Sasa," panggilnya spontan membuat dua anak sekaligus pria yang mengantarnya mendongakkan kepalanya ke lantai dua.


"Paman Aga," teriak Sasa sambil melepaskan genggamannya pada tangan sang ayah dan berlari menghampiri Dirga, karena tidak ingin Sasa berlari menaiki tanggal terlalu jauh Dirga pun memilih menghampiri Sasa hingga mereka bertemu tepat di tengah tangga, dengan sigap Dirga mengangkat tubuh mungil Sasa.


"Adek, pelan-pelan," ucap Akmal yang berlari menyusul Sasa.


"Sasa kangen sama paman Aga," ucap Sasa sambil memeluk erat tubuh Dirga seolah-olah tidak ingin melepaskannya.


"Paman juga, paman kesepian tidak ada kalian." ucap Dirga sambil mengusap puncak rambut Sasa, Akmal yang juga mengejar adiknya pun ikut memeluk Dirga tanpa mengatakan apapun.


Menyadari hal itu, Dirga pun kembali jongkok dan menggendong Akmal dengan lengan kanannya sedangkan lengan kiri ia gunakan untuk mengendong Sasa.


"Akmal, apa kalian baik-baik saja?" tanya Dirga dan Akmal pun menganggukkan kepalanya.


Dirga pun membawa anak-anak menuruni tangga sambil bercanda, terlihat sesekali senyum mengembang dari bibir Akmal dan Sasa.


Kamal yang masih berdiri di tempatnya, menatap kejadian itu dengan penuh keheranan, penuh tanya sekaligus perasaan iri. Bahkan saat bersamanya anak-anaknya tidak akan tersenyum sebebas itu.


"Sasa, Akmal, apa yang kalian lakukan!? Sini sama ayah," ucap Kamal sambil berjalan menghampiri Dirga, merebut Sasa dan Akmal dari tangan Dirga dengan kasar.


"Woe santai aja bro, santai." ucap Dirga sambil menyerahkan Sasa dan Akmal meskipun tampak mereka tidak mau.


"Saya ayah mereka, jadi anda jangan macam-macam," ucap Kamal dengan sedikit emosi.


"Itu bukan urusan anda." Kamal pun menurunkan anak-anaknya kemudian menatap ke arah Akmal,


"Katanya mau ambil buku, cepetan masuk ajak Sasa juga, ayah tunggu di sini."


"Baik yah," ucap akmal dengan kepala tertunduk sambil menggandeng tangan Sasa dan mereka pun masuk ke dalam rumah setelah membuka kunci.


Kini di luar rumah tingga Kamal dan Dirga, Dirga pun berbalik dan hendak menaiki tangga,


"Tunggu,"


Karena mendapat instruksi dari Kamal, Dirga pun menghentikan langkahnya, ia pun kembali membalik badannya,


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Anda siapa?" tanya Kamal membuat Dirga mengerutkan keningnya tampak ia tengah berpikir, mencoba mencerna pertanyaan pria di depannya, hingga kamal pun Kembu bertanya,


"Kenapa anda di sini?"


"Saya tinggal di atas," ucap Dirga sambil menunjuk lantai dua yang ia tinggali.


"Jadi kamu ngontrak juga? Baguslah." Dirga tidak berniat menyanggah ucapan Kamal, ia ingin mendengar apa yang ingin Kamal katakan lagi selanjutnya,


"Anak-anak itu anak saya, wanita yang tinggal di bawah itu adalah mantan istri saya, jadi saya harap anda tidak macam-macam dengan mereka apalagi mengambil hati mereka demi mendekati mantan istri saya, mengerti!"


Dirga berdecak, ia tidak menyangka pria di depannya akan berpikir sepicik itu,


"Maaf sebelumnya, tapi saya tidak pernah berpikir seperti itu, jika anak-anak anda memilih dekat dengan saya, mungkin karena mereka tidak mendapatkan kenyamanan dari ayahnya sendiri, permisi."


Dirga pun berbalik dan meninggalkan Kamal yang menahan kesal, tapi ia juga tidak bisa menimpali perkataan Dirga.


Hingga akhrinya sasa dan Akmal kembali keluar dengan membawa sebuah buku tebal di tangannya,


"Sudah?" tanya Kamal.


"Sudah yah,"


"Ya sudah, ayo kita masuk trus pulang ke rumah ayah." ucap Kamal dan Akmal pun masuk terlebih dulu sedangkan Sasa masih mencari-cari sesuatu.


"Sasa, ayo masuk." perintah Kamal,


"Tunggu yah, Sasa pamit om Aga dulu," seketika. Wajah Kamal kembali berubah kesal.


"Dia nggak ada, ayo masuk." dengan wajah kecewa Sasa pun masuk ke dalam mobil, tapi ia terus berusaha menatap ke atas berharap pria itu bisa melihatnya saat pergi, dan benar saja bibirnya langsung mengembang saat melihat pria itu berdiri di balik jendela kaca besar sambil melambaikan tangan, ia juga meminta Sasa untuk tetap tersenyum kemudian memberi dua jempol saat Sasa kembali tersenyum hingga mobil pun melaju meninggalkan rumah besar itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...