
Nina duduk termenung di dalam kamar sambil menatap ke arah dua buah hatinya yang tengah tertidur pulas. Ucapan dari atasannya beberapa menit yang lalu telah mengisi otaknya saat ini.
Ada perasaan tidak percaya sekaligus begitu terkejut. Semuanya masih seperti mimpi, tidak pernah terpikirkan sebelumnya atau bahkan dalam mimpi pun tidak pernah ada niatan untuk menjadi istri seorang Dirga Wikrama.
Di lihat dari arah mana saja, jelas mereka jauh berbeda. Dirga adalah seorang dosen, pengusaha sukses dan yang baru ia tahu pria itu juga punya sertifikat sebagai pengacara sedangkan dirinya hanya seorang wanita biasa, seorang ibu rumah tangga yang tidak berpendidikan. Ia bahkan bisa bekerja karena kebaikan hati sahabatnya dengan posisi bisa di bilang paling rendah di kantor, sungguh jauh berbeda.
"Kayaknya pak Dirga hanya becanda." gumamnya sambil menggelengkan kepalanya mencoba berpikir positif.
"Tapi yang pak Dirga katakan benar, aku harus menikah tapi nggak mungkin kan sama pak Dirga? Mana bisa?"
Nina membenarkan pendapat Dirga, tapi ia tetap tidak bisa berharap untuk menikah dengan pria nomor satu di kantor tempatnya bekerja itu.
"Aku, mana bisa jauh dari mereka ya Allah. Aku nggak yakin."
Nina beberapa kali menutup matanya berharap bisa sejenak melupakan semua masalah yang terjadi dalam hidupnya.
Berbeda di lantai bawah, di lantai atas Dirga malah terlihat mondar mandir kembali memikirkan ucapanya pada Nina.
"Kira-kira Nina akan salah faham nggak ya?"
"Ahhh, gimana kalau dia sampai berpikir macam-macam tentang aku? Apa aku akan terlihat memanfaatkan kesempatan?"
"Ahhhhh!" Dirga mengusap kasar kepalanya hingga membuat rambutnya yang biasanya rapi berubah berantakan.
***
"Mas tadi ketemu Nina?" pertanyaan itu berhasil membuat Kamal menghentikan kunyahannya dan menatap wanita yang telah berstatus sebagai istrinya itu.
"Kamu tahu dari mana?"
"Hehhh, jadi benar mas Kamal ketemu." Silvi berubah kecewa.
"Nina yang datang ke dermaga."ucap Kamal agar Silvi tidak salah faham.
"Pak Mada mengatakan kalau Nina sewa pengacara juga," ucap Silvi dan kali ini kembali berhasil membuat Kamal meletakkan sendoknya di atas piring, ia mengambil segelas air dan segera meminumnya. Meskipun makanannya belum habis, tapi tidak berniat menghabiskannya. nafsu makannya telah hilang mendengar ucapan istrinya.
"Apa kamu yakin?"
"Kata pak Mada begitu. Pengacaranya masih cukup muda seumuran lah katanya sama mas Kamal."
"Nina nggak akan menang."
"Mas yakin sekali? Bagaimana kalau Nina mengungkap perselingkuhan mas dengan aku?"
"Dia nggak punya bukti apapun, jadi jangan khawatir."
Silvi tersenyum manis pada suaminya sedikit di bubuhi dengan senyum manja, "Syukurlah kalau begitu mas, aku jadi lega."
"Oh iya mas, kayaknya rumah ini terlalu kecil deh mas kalau anak kita lahir. Mas nggak punya rencana buat cari kontrakan baru yang lebih besar? Apa lagi nanti kalau Akmal dan Sasa tinggal sama kita, rumah ini terlalu sesak mas, kamarnya hanya ada dua." ucap Silvi lagi sambil mengelus perutnya yang sudah lebih berisi.
"Kita pikirkan nanti ya, saat urusan persidangan selesai."
***
Dirga sudah menunggu kedatangan seseorang, tapi wanita itu tidak terlihat sedari tadi. hingga suara ketukan di pintunya membuatnya segera berdiri.
"Permisi pak," seorang office girl masuk setelah mengetuk pintu, tapi bukan yang tengah ia tunggu.
"Iya, masuklah. Ada apa?"
"Saya mau ngantar kopi buat bapak," ucap office girl itu sambil meletakkan secangkir kopi di atas mejanya, hari ini juga tidak ada gorengan.
"Nina nggak masuk kerja?" tanyanya kemudian, "Maksudnya, bukankah ini tugas Nina. Jadi apa Nina tidak masuk?"
"Tidak pak, hari ini Nina juga tidak ijin pak."
Nggak biasanya ....., tiba-tiba perasaan Dirga tidak enak. Ia khawatir ini ada hubungannya dengan yang kemarin.
"Kalau sudah tidak ada yang harus saya kerjakan, saya permisi pak."
"Ah iya, pergilah."
"Jangan-jangan dia bawa anak-anak pergi!?" gumamnya lirih. Ia pun tiba-tiba berdiri dan menyambar jas yang tergantung di sandaran kursi dan segara keluar dari ruangannya.
"Mau ke mana pak?" tanya Radit yang kebetulan hendak masuk ke ruangannya untuk menyerahkan laporan bulan ini.
"Ada hal yang penting, kamu handle meeting hari ini ya."
"Tapi pak Dirga mau ke mana?" tanya Radit lagi meskipun Dirga sudah menjauh dari hadapannya. Dirga hanya melambaikan tangannya tanpa berniat membalik badannya.
***
"Makasih ya Nin, Lo udah baik banget sama gue."
"Ini nggak seberapa di banding kebaikan yang telah Lo dan keluarga Lo buat gue dan anak-anak."
Mita menatap anak-anak Nina yang begitu bahagia melihat adik bayi yang berada di box bayi itu.
"Bagaimana sidang kemarin? Berjalan lancar nggak?" tanya Mita kemudian.
"Gitu deh," tiba-tiba mimik wajah Nina berubah sedih.
"Maaf ya, gue nggak ada pas Lo butuh banget dukungan gue."
"Nggak pa pa, ada pak Dirga."
"Ah iya, gue lupa nanya. Kok bisa sih Lo pergi ke persidangan sama mas Dirga?"
"Nggak tahu, pak Dirga ternyata seorang pengacara ya?"
Mita menggelengkan kepalanya ragu, "Gue nggak tahu sih, tapi memang ams Dirga ngajar di fakultas hukum. Entar deh gue tanya mas Bram."
"Pantes," Nina mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Oh ya, kemarin Lo kemana aja sampai mas Dirga kebakaran jenggot nyariin Lo?"
"Nyariin?"
"Iya, dia tempon ke gue, ke mas Bram, nggak cuma sekali. Tapi Sampek beberapa kali. Emang setelah dari rumah sakit, Lo mampir kemana dulu sih?"
"Gue nemuin mas Kamal."
"Buat apa lagi?"
"Gue masih berharap mas Kamal bakal berubah pikiran Ta, dia bakal nyabut berkasnya."
"Nggak akan mungkin Nin, dia itu sudah kerasukan racunnya dari si Silvi. Lo mau nangis tujuh hari tujuh malam nggak bakal ngubah keputusannya. Jalan satu-satunya Lo harus bisa ngalahin mereka. Gimana Lo sudah punya senjata belum buat sidang Minggu depan?"
Nina menggelengkan kepalanya, tapi ia juga ingin bercerita pada mota soal ucapan Dirga kemarin malam.
"Lo ada yang mau di ceritain sama gue?" tanya Mita saat melihat ekspresi wajah Nina, selama ini tidak ada yang di sembunyikan Nina dari Mita.
Baru saja hendak bercerita, tiba-tiba pintu kamar Mita terbuka dari luar. Seorang pria berdiri di ambang pintu dengan nafas yang memburu.
"Mas Dirga,"
"Pak Dirga?"
Nina dan Mita berucap bersama-sama.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani.5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...