
Kedatangan Sasa dan Akmal langsung jadi pusat perhatian, apalagi dengan keberadaan seorang pria yang mengikuti mereka.
Tentu saja acara pernikahan ibu Akmal dan Sasa sudah menjadi konsumsi publik, Dirga bukan orang sembarangan, banyak pencari berita yang mengejar berita mengejutkan itu.
"Belajar yang rajin ya, nanti papa akan jemput lagi saat pulang sekolah."
"Iya pa!" ucap Sasa dan Akmal bersemangat, senyum mereka juga tampak lebar.
Bukan tanpa sebab jika Sasa dan Akmal begitu senang saat di antar Dirga hingga ke depan kelas, karena biasanya Kamal jika mengantar mereka hanya sampai di mobil saja.
"Semangat!" ucap Dirga sambil melambaikan tangannya melepas anak-anaknya untuk masuk ke dalam kelas.
Tampak di sana tidak hanya Dirga saja, beberapa orang tua wali juga baru saja mengantar anak-anak nya.
Ketampanan Dirga benar-benar menjadi angin segar bagi ibu-ibu muda itu, mereka tidak segan untuk mengambil gambar Dirga dari ponsel pribadinya.
"Hallo, selamat pagi."
Sapaan seseorang membuat Dirga mengurungkan kakinya untuk melangkah pergi. seseorang terlihat seperti sosialita berjalan mendekatinya, sepertinya dia salah satu orang tua wali dagi kelas Sasa karena ia baru saja keluar dari sana.
"Iya?" tanya Dirga yang merasa tidak mengenal wanita itu.
"Anda suami baru Bu Nina ya?"
Dirga tersenyum ia berniat untuk tidak menjawab dengan lugas. Lagi pula ia tidak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaan itu.
"Beruntung sekali Bu Nina, dapat suami baru masih lajang, ganteng, sukses. Penyayang anak lagi."
Mendapat begitu banyak pujian membuat Dirga merasa tertarik untuk menjawabnya tapi bukan karena ia menyukai pujian itu tapi ia merasa dirinyalah yang lebih beruntung karena bisa menikah dengan Nina.
"Maaf anda salah jika menduga seperti itu. Justru saya yang beruntung karena saya di pertemukan dengan Nina dan anak-anak. Jadi untuk kedepannya, saya tidak suka ada yang memandang rendah pada istri saya ataupun anak-anak saya. saya permisi."
Dirga pun segera meninggalkan wanita itu yang masih menatapnya tidak percaya.
Di tempat lain, setelah menyelesaikan pekerjaan rumahnya Nina pun segera bersiap-siap untuk ke rumah Mita.
Nina sudah memakai pakaian. Kasualnya lengkap dengan hijab yang menutupi kepalanya. Jika melihat penampilan Nina sehari-hari tidak akan ada yang mengira kalau dia adalah ibu dua anak apalagi di dukung dengan perawakan Nina yang terbilang imut.
Setelah memacu motornya sekitar lima belas menit, akhirnya Nina sampai juga di rumah Mita. Karena rumah Mita ada bayi, seperti kebiasaan orang Jawa Nina meminta ijin ke belakang dulu untuk mencuci tangan dan kakinya, mendekatkan kaki dan tangannya ke perapian atau kompor.
"Mita di dalam kan bi?"
"Iya mbak. Kebetulan mbak Mita sendiri sama dedek bayi. ibuk sama bapak juga mas Bram lagi pergi, ada undangan di luar kota."
"Syukurlah, ya udah Nina temui Mita dulu ya bi."
"iya mbak."
Nina pun bergegas ke kamar Mita,
"Assalamualaikum, baby El."
"Waalaikum salam, Aunty Nina."
Mita segara menyambut kedatangan Nina dan memeluk sahabatnya itu.
"Aunty?" Nina merasa asing dengan panggilan itu.
"Bibi, Tante." ucap Mita menjelaskan sambil tertawa melihat kepolosan Nina.
"Ya Allah, pakek bahasa inggris segala. panggil bibi aja kali."
"Ya nggak pa pa, biar keliatan tetap muda."
"Apa hubungannya!?"
Nina pun segara menggendong baby El dan mengajaknya duduk di sofa, Mita pun menyusulnya.
Cukup lama Nina memangku anak Mita, sesekali memberikan ci Luk ba pada bayi itu seolah-olah sudah bisa di ajak berkomunikasi.
Hingga baby El tertidur setelah menyusu, Nina pun mengembalikan baby El ke ranjangnya.
Bibi yang bekerja di rumah Mita sudah menyuguhkan camilan dan juga jus buah kesukaan Nina juga Mita.
"Makasih ya bi."
"Sama-sama mbak, saya kembali ke belakang dulu ya mbak."
"Iya."
Setelah bibi kembali keluar, Mita pun segera menarik tangan Nina dan mengajaknya duduk di sofa,
"Bagaimana?" tanya Mita, ia mengedipkan matanya beberapa kali, menarik keningnya hingga kedua alis tebalnya hampir saja bertaut,
"Ya ampun," Mita mengetuk kepala Nina,
"Apaan sih, sakit tahu." keluh Nina sambil mengusap keningnya.
Mita menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa di sambung Dnegan helaan nafas panjang,
"Gimana sih Lo, Lo kan pengantin baru masak nggak ngerti juga. Ini bukan pernikahan Lo yang pertama loh."
Nina langsung mengerti Dnegan arah pembicaraan sahabatnya itu,
"Apaan sih, gue yang udah ke dua. Mas Dirga masih yang yang pertama."
"Cie, udah mas aja panggilannya." goda Mita.
"Apaan sih, nggak lucu kali." Nina pura-pura ngambek dengan mengerucutkan bibirnya.
""Okey, okey. Kembali ke pembicaraan awal. Jadi bener Lo sana mas Dirga belum nglakuin itu?" tanya Mita begitu penasaran dengan pembicaraan mereka di telpon tadi pagi. kedatangan Nina ke rumah Mita sengaja ingin membicarakan hal itu.
Nina mengangukkan kepalanya malu-malu.
"Kok bisa? Lo kurang apa coba?"
"Kalau gue tahu, gue nggak bakal jauh-jauh ke sini Ta. Apa ini ada hubungannya dengan pernikahan kita yang mendadak ya? Apa karena belum ada cinta trus mas Dirga nggak mau nyentuh gue ya?"
"Bisa jadi," jawab Mita sambil meletakkan telunjuknya di dagu seperti tengah berfikir, ada keraguan dari jawaban Mita.
"Atau jangan-jangan Lo harus sedikit menggoda deh."
"Apaan sih, mana bisa gue goda. Emang tampang gue tampang-tampang penggoda."
"Nggak gitu maksudnya, penampilan Lo yang kudu di rumah. Pakek baju minim misalnya."
"Astaghfirullah hal azim." Nina benar-benar terkejut dengan saran dari sahabatnya itu. "Lo mau jerumusin gue Ta, ada-ada aja. masak gue harus ngumbar aurat sih. Gue berhijab aja belum tentu baik, apalagi kalau Sampek pakek baju minim bahan kemana-mana, apa kata anak-anak gue."
"Nggak gitu maksudnya, pakek baju minimnya pas tinggal berdua aja sama mas Dirga. Pas mau tidur aja, atau jangan-jangan Lo tidurnya tetep pakek jilbab ya?"
Mendengar pertanyaan dari Mita, Nina terdiam.
"Sudah gue duga .itu mah Lo yang kebangetan, masak suami nggak di ijinin cuma pengen liat rambut Lo doang."
"Mas Dirga nggak minta." jawab Nina Dnegan santainya.
"Astaghfirullah hal azim, Nin. Nggak meski kudu di minta, sekali-kali kita juga boleh agresif sama suami sendiri. Itu cara jitu buat hubungan rumah tangga tetap hangat, jangan Sampek lempeng-lempeng aja. Jangan Sampek ulet keket kayak Silvi Silvi yang lain ngambil hati mas Dirga gara-gara hubungan kalian lempeng-lempeng aja."
"Astaghfirullah hal azim, jangan lah ta, amit-amit kalau Sampek kayak gitu lagi."
"Makanya Lo kalau jadi istri kudu pinter-pinter nyenengin suami. Oh iya, gue masih punya satu kado buat Lo."
Mita pun segera beranjak, ia menuju ke lemari besar di sampingnya dan mengeluarkan sebuah paperbag dari sana kemudian membawanya kembali mendekati Nina,
"Nih buat Lo."
"Ihhh Lo baik banget, kasih kado Sampek dua kali."
"Yang ini khusus buat Lo makanya gue kasih belakangan."
"Emang apa sih kadonya? Jadi penasaran. boleh di buka sekarang kan?"
"Boleh dong, buka aja."
Nina begitu bersemangat mengambil sesuatu dari dalam paperbag itu, tapi matanya langsung membulat sempurna setelah mengeluarkan isi paper bag itu.
"Astaghfirullah hal azim, Ta. Ini apaan? Kayak kurang bahan gini?"
"Sudah nggak usah banyak tanya. namanya lingerie, itu khusus buat Lo pakek pas malam, biar mas Dirga kesemsem setiap hari sama Lo."
"Serius Lo!?" Nina ragu menerimanya.
"Udah, pokoknya Lo kudu bawa. Kalau bukan malam ini, Lo bisa pakek buat malam-malam yang lain, malam romantis misalnya."
Walaupun ragu, akhirnya Nina pun menerima kado dari Mita.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
@tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰