AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
68. Salah tingkah



Selagi Dirga menidurkan anak-anaknya Nina memilih membersihkan diri, merapikan bungkus kado dan membuangnya, menyimpan kado-kado pernikahan yang sudah sempat di buka oleh anak-anak dan Dirga sedangkan yang belum sempat di buka, Nina sengaja menyusunnya kembali di ruang keluarga agar saat anak-anak nya hendak membukanya kembali ada tempat yang luas.


Hanya butuh waktu setengah jam hingga anak-anak benar-benar tidur. perlahan Dirga menutup buku cerita dan meletakkannya di atas nakas.


Dengan begitu hati-hati ia menggeser tubuhnya hingga benar-benar turun dari atas tempat tidur kemudian menutup tubuh Sasa dan Akmal dengan selimut hingga sebatas dada.


Dirga mematikan lampu kamar sebelumnya hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kamar dan menutup pintu kamar perlahan.


Ia melihat Nina masih sibuk menyusun kado yang tampak berserakan di lantai karena ulahnya dan anak-anak.


Dirga pun menyusul Nina dan ikut memungut kado yang jaraknya paling dekat dengannya.


"Aku bantu ya?"


Pertanyaan itu menyadarkan Nina kalau ada orang lain di sana, Nina pun menoleh ke sumber suara.


"Pak Dirga. Nggak usah pak biar Nina aja. Pak Dirga istirahat aja." ucap Nina dengan cepat. Ia tidak mau merepotkan Dirga terus.


"Nggak pa pa, biar aku bantu."


"Jangan pak, nggak usah."


"Nggak pa pa,"


Akhirnya tanpa sadar mereka malah berebut kotak kado,


"Biar Nina aja pak, pak Dirga istirahat saja."


"Nggak pa pa, aku bantu. Biar cepet selesai."


Perebutan kotak kado masih berlangsung hingga karena terlalu bersemangat membuat kaki Nina tersrimpet karpet di bawahnya dan ....


srekkkk


Tubuh Nina mendarat sempurna di tubuh Dirga, Dirga yang sedang tidak siap pun akhirnya ikut terjatuh.


Kini posisi tubuh Nina tepat mendarat di atas tubuh Dirga, hingga membuat bibir Nina menempel sempurna di atas pipi Dirga.


Bersambut dengan tumpukan bungkus kado yang kembali berjatuhan karena tersenggol oleh tubuh mereka.


Dengan cepat Nina menjauhkan bibirnya tapi lagi-lagi mata mereka saling bertemu.


Suasana menjadi begitu hening, seolah waktu tengah berhenti sejenak.


Hemmmm


Hingga Dirga mengeluarkan suara deheman itu membuat Nina tersadar dan segera beranjak dari tubuh Dirga.


"Maaf ya pak, sungguh Nina tidak sengaja." ucap Nina dengan gugup sambil membantu menarik tangan Dirga.


"Iya nggak pa pa."


"Sungguh pak, saya minta maaf." Nina berkali-kali membungkukkan badannya meminta maaf saat Dirga sudah berhasil bangun.


Srekkkk


Tiba-tiba sebuah telunjuk menempel sempurna di kening Nina hingga menahan kepala Nina untuk menunduk lagi.


"Sudah selesai kan, jangan minta maaf terus!"


"Iya pak, maaf."


"Lagi kan."


"Nggak lagi."


"Dan lagi,"


"Kok masih lagi pak?"


"Ini beda."


"Apa ya pak?"


"Jangan panggil pak lagi, kesannya kalau kamu baru menikah dengan bapak kamu. Tua banget aku." ucap Dirga dengan sedikit bercanda untuk mencairkan suasana.


"Iya pak."


"Tuh kan, pak lagi."


"Maksudnya, iya mas."


"Itu jauh lebih bagus. Tapi kalau ada panggilan yang lebih bagus, aku mau. Tapi mas juga lumayan." ucap Dirga sambil tersenyum dan kembali melanjutkan menyusun kotak kado yang kembali berantakan karena ulah mereka berdua.


Nina masih terpaku di tempatnya hingga Dirga kembali bicara.


"Mau bantu atau mungkin mau buatkan aku kopi?!"


"Baik pak, maksudnya mas, Nina buatkan kopi."


Dengan langkah tergopoh Nina pun segera meninggalkan Dirga dan menuju ke dapur untuk membuatkan secangkir kopi untuk Dirga.


Jantung Nina tengah tidak baik-baik saja hingga tangannya ikut gemetaran, beberapa kali Nina harus mengibaskan tangannya agar kembali normal.


Ya ampun Nina, ini apa-apaan sih. Kayak anak ABG yang baru jatuh cinta aja, jangan norak Nina ...., Nina berusaha mengendalikan perasaannya.


Hingga air sudah mendidih dan Nina pun kembali mematikan kompornya, menuangkan air ke dalam gelas yang sudah berisi racikan kopi dan gula.


"Ini pak, eh mas, kopinya." ucap Nina sambil meletakkan secangkir kopi lengkap dengan tatakannya di samping Dirga,


Nina pun ikut menyusul duduk di lantai,


"Jangan ikutan duduk di lantai, nanti masuk angin." cegah Dirga sebelum Nina benar-benar duduk.


"Nggak pa pa_, mas. Nina usah biasa duduk di lantai begini." ucap Nina, "Maaf ya mas, Nina belum terbiasa." Nina perasa bersalah karena terus memanggil Dirga pak.


"Nggak pa pa, semuanya memang butuh proses."


Dirga pun mulai menyeruput kopinya, karena masih panas ia kembali meletakkan secangkir kopi itu di atas lantai.


Mereka hanya saling diam dan bingung harus bicara apa, ternyata bukan hanya Nina, sepertinya Dirga lebih salah tingkah saat hanya duduk berdua seperti ini.


Tampak berkali-kali Dirga hanya memegangi cangkirnya tanpa berniat meminumnya. Ia tidak tahu harus melakukan apa lagi sekarang,


"Apa mas Dirga lapar?" tanya Nina kemudian untuk mencairkan suasana.


Dirga tampak berpikir, ia sebenarnya memang lapar karena sedari pagi perutnya belum kemasukan apapun, sepertinya Dirga terlalu sibuk dengan acara hingga lupa mengisi perutnya.


"Nina buatkan makanan sebentar!" ternyata meskipun Dirga belum menjawabnya, Nina sudah faham dari mimik wajah Dirga.


Dengan cepat nina kembali ke dapur, mencari sesuatu yang ia bisa masak. Karena hanya dengan bahan seadanya, Nina pun memasak seadanya asal bisa di makan dan yang paling penting adalah cepat.


Hanya butuh waktu lima belas menit Nina sudah kembali dengan sepiring makanan.


"Silahkan di makan."


Dirga mengerutkan keningnya, pasalnya ia tidak pernah melihat masakan seperti yang di masak Nina ini dimanapun,


"Ini namanya apa?"


"Apa aja mas, terserah mas mau menamai apa."


"Maksudnya?"


"Nina hanya masak dengan bahan seadanya, maaf ya mas kalau nggak enak."


Dirga pun segera mengambil sendok nya, menyanggah piringnya dengan satu tangan sedangkan tangan yang lain ia gunakan untuk menyiapkan makanan itu ke mulutnya, perlahan mulut Dirga mengunyah dan mengunyah menikmati setiap kunyahan yang ada di mulutnya.


"Em, enak."


"Benarkah?"


"Iya, bagaimana kalau ini aku namakan hot noodle egg roll meat ."


"Issttt, keren sekali namanya. Artinya apa mas?"


"Artinya mie pedas toping telur gulung daging."


"Ya Allah, jadi keren banget."


Nina sengaja membuat mie itu pedas karena Dirga penyuka makanan pedas.


Hingga akhirnya Dirga pun menghabiskan makanannya dan Nina dengan setia menungguinya.


"Mau di bawa ke mana piringnya?" tanya Dirga saat tiba-tiba Nina mengambil piring kotornya.


"Mau Nina cuci."


"Biar aku aja. Kamu duduk saja."


"Nggak pa pa mas."


"Ini perintah. Jadi duduklah diam di sini, biar aku yang mencucinya."


"Tapi pak_,"


"Ini perintah!"


Dirga pun mengambil alih piringnya dan membawanya ke dapur. Nina yang merasa tidak enak pun mengikuti Dirga ke dapur, meskipun di dapur Nina hanya di ijinkan untuk melihatnya saja.


Sepanjang menikah dengan Kamal, bahkan Kamal tidak pernah mencuci piringnya sendiri, bahkan memang saja tidak pernah. Sekali lagi hal-hal kecil itu berhasil membuat hati Nina terharu.


"Terimakasih ya mas,"


Dirga yang sudah menyelesaikan mencuci piringnya pun segera menoleh ke arah Nina, melihat Nina yang menangis dengan cepat Dirga memeluknya dan mengusap punggungnya lembut.


"Kenapa menangis? Apa aku sudah melakukan kesalahan? Maaf ya, jika kamu tidak suka aku masuk ke dapurmu, aku tidak akan melakukannya lagi, tapi jangan menangis." Dirga benar-benar panik melihat Nina yang menangis tersedu.


Dengan cepat Nina menggelengkan kepalanya dan mengusap air matanya,


"Bukan. Maaf Nina hanya terbawa suasana mas, maaf Nina jadi sangat cengeng belakangan ini. Nina begitu bersyukur karena mas Dirga hadir di hidup Nina dan anak-anak, sungguh. Jangan berubah!"


Dirga kembali memeluk Nina dengan erat, ia mulai mengerti dengan perasaan lembut Nina sekarang. Ia bisa membayangkan betapa menderitanya Nina selama ini, selama menjadi istri Kamal.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


@tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰