AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
44. Kekhawatiran Nina



Seperti yang Nina katakan, ia hari ini ijin setengah hari. Ia harus memeriksakan keadaan Akmal ke puskesmas terdekat. Menurun panas saja ia rasa tidak cukup apalagi saat mengingat wajah pucat dari putranya tadi pagi.


"Maaf ya dek, kali ini ibuk boncengnya cepetan." ucap Nina pada Sasa saat ia mempercepat laju motornya di banding hari-hari biasanya.


"Iya buk, kak Akmal pasti sudah nunguin kita."


Akhirnya perjalanan dari sekolah ke rumah yang biasa Nina jangkau dalam waktu lima belas menit kini hanya butuh waktu tidak lebih dari sepuluh menit.


Nina pun segera mengeluarkan kuncinya saat sampai di rumah, baru saja Nina hendak memutar kunci yang sudah masuk ke lubang kunci, tiba-tiba Sasa berteriak,


"Ibuk, ada darah."


Seketika Nina menoleh ke arah Sasa yang baru saja kembali dari samping rumah. Memang sudah menjadi kebiasaan Sasa saat turun dari motor langsung menuju ke samping rumah untuk melihat bunga kecilnya yang ia tanam sendiri di dalam pot.


Darah .....


Seketika jantung Nina seperti berhenti berdetak, pikirannya langsung melayang kemana-mana. Ia membayangkan hal-hal yang tidak-tidak.


"Akmal," gumamnya lirih dan sedikit berlari ia menghampiri sang putri.


Deg


Tiba-tiba kakinya terasa lemas saat mendapati pintu kaca yang ada di samping rumah hancur berantakan bersamaan dengan darah yang berceceran di lantai.


Tubuh Nina terkulai lemah di tanah, bibirnya bahkan tidak mampu hanya untuk sekedar memanggil nama putranya.


"Ibuk, ibuk kenapa?" Sasa yang melihat keadaan ibunya segera menghampiri dan hampir saja menangis khawatir.


"Ak_Akmal, di mana kakak?" tanya Nina setelah berhasil mengeluarkan suara.


Nina pun menghapus air matanya dan menakup kedua bahu Sasa,


"Adek tunggu di sini ya, biar ibuk masuk cari kakak."


"Sasa ikut ibuk," rengek Sasa dengan mata berkaca-kaca.


"Ada banyak pecahan kaca sayang, biar ibuk saja ya. Hanya sebentar."


Akhrinya Sasa pun mengangukkan kepalanya.


Meskipun sebenarnya Nina sudah kehilangan kekuatannya, tapi ia tidak boleh lemah demi anak-anak nya. Nina pun perlahan masuk melewati pintu yang kacanya sudah hancur berantakan itu.


"Akmal,"


"Akmal, ini ibuk,"


"Kak, ini ibuk. Kakak di mana?"


Rasa cemasnya semakin menjadi saat ia juga mendapat gelas kaca yang terjatuh di lantai, ia juga menemukan sendal Akmal yang tergeletak di lantai lengkap dengan bercak darah di lantai.


Tiba-tiba tubuh Nina kembali jatuh, tangannya meraih sendal Akmal dan memeluknya, kali ini air matanya tidak mampu ia bendung. Ia sudah membayangkan hal-hal buruk terjadi pada Akmal.


Hiks hiks hiks


Cukup lama Nina menangis hingga seseorang memanggil namanya,


"Mbak Nina, mbak Nina kenapa?"


Dengan cepat Nina mendongakkan kepalanya, ia mendapat Fajar berdiri tidak jauh dari tempatnya. Di tangannya terdapat sapu dan pengki juga ember dan kain pel.


"Mas Fajar," dengan cepat Nina berdiri dan menghampiri Fajar.


"Mas, dimana Akmal mas, apa yang terjadi sama Akmal? Dia tidak pa pa kan mas? Nggak ada penjahat yang masuk kan mas? Mas, jawab Nina?" tanya Nina sambil menangis histeris.


"Maaf mbak, maaf Fajar nggak di depan pas mbak Nina datang. Fajar ambil ini di belakang tadi."


"Nggak penting, sekarang Akmal di mana?" tanya Nina dengan sedikit berteriak sekarang.


"Itu mbak, tadi Akmal demamnya semakin tinggi, mas Aga datang dan bawa Akmal ke rumah sakit terdekat."


Perasaan Nina sedikit lega, "Lalu ini?" tanya Nina sambil menunjuk ke arah darah yang berceceran dengan suara yang melemah.


Fajar pun akhirnya menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.


"Nggak pa pa mbak, saya mengerti. Jika melihat keadaan rumah ini, jika saya di posisi mbak, mungkin saya juga akan berpikiran hal yang sama."


"Kalau begitu saya ke rumah sakit dulu ya mas,"


"Iya mbak, biar saya kirim alamat rumah sakitnya." ucap Fajar yang memang sudah mendapatkan alamat rumah sakit dari Dirga.


***


"Apa yang terjadi dok, bagaimana keadaannya?" tanya Dirga setelah dokter yang memeriksa Akmal keluar.


"Untuk bapak bawa anak bapak tepat waktu," ucap dokter yang sepertinya usianya seumuran dengan Dirga.


"Maksud dokter?"


"Kemungkinan anak bapak terkena demam berdarah. Untuk mengetahui kepastiannya, kita harus menunggu hasil lab nya keluar dulu. Saya harus memeriksa pasien yang lain, saya permisi. Jika hasil lab sudah keluar petugas rumah sakit akan memberitahukan pada pihak keluarga."


"Baik dok, oh iya dok apa sudah bisa di jenguk?"


"Silahkan,"


"Terimakasih dok."


Akhirnya sang dokter pun pergi meninggalkan Dirga, Dirga pun berniat untuk masuk tapi tiba-tiba seseorang memanggilnya membuat tangannya yang hendak menarik handle pintu pun menggantung di udara.


"Paman Aga," suara itu, Dirga begitu kenal. Dengan cepat ia menoleh ke sumber suara.


Seseorang yang bersama anak itu tampak begitu terkejut sampai ia menghentikan langkahnya sejenak kemudian melanjutkannya lagi karena tangannya di tarik oleh anak perempuan itu.


"Nina," ucap Dirga, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan lainnya selain menyebut nama Nina.


"Pak Dirga," wanita itu tentu masih dalam mode bingung, pasalnya yang ia tahu yang membawa putranya ke rumah sakit adalah pemilik rumah bukan bos di tempat kerjanya, tapi kini yang ada di hadapannya malah bos di tempat kerjanya.


"Paman Aga, mana kakak? Apa kakak baik-baik saja?" tanya Sasa sambil menarik-narik tangan Dirga yang masih terdiam di tempatnya.


"Ahhh iya sayang, kakak Akmal di dalam sedang istirahat." jawab Dirga setelah mengalihkan tatapannya dari Nina.


"Apa Sasa boleh melihat kakak?"


"Boleh sayang, tapi jangan berisik ya. Kakak sedang istirahat,"


"Sasa janji, Sasa boleh masuk kan buk?" tanya Sasa meminta persetujuan ibuknya yang masih terdiam di tempatnya.


"I_iya sayang."


Akhrinya Sasa pun masuk meninggalkan mereka berdua.


"Maaf ya, saya sudah lancang bawa Akmal ke sini tanpa ijin dulu sama kamu." ucap Dirga kemudian setelah beberapa detik hanya saling diam.


"Seharusnya Nina yang berterimakasih pak, tapi tentang ini? Saya pikir yang antar Akmal ke rumah sakit pemilik rumah, tapi_,"


"Saya pemilik rumah," ucap Dirga dengan cepat sebelum Nina berhasil menyelesaikan ucapannya.


"Nina masih nggak ngerti,"


"Saya Dirga, juga Aga. Saya pemilik perusahaan tempat kamu bekerja sekaligus dosen teman Bram, suami sahabat kamu." ucap Dirga menjelaskan.


"Ini sebuah kebetulan atau apa?" tanya Nina lagi.


"Mungkin, tapi insyaallah tidak ada yang kebetulan di dunia ini." ucap Dirga yang memang awalnya tidak tahu jika penyewa rumah dan cleaning service di kantornya adalah orang yang sama.


"Allah pasti punya rencana di balik semua kebetulan ini."


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...