AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
74. Pelukan hangat



Pagi ini Nina dan Dirga sudah bersiap-siap dengan pakaian rapinya hal itu membuat kedua anaknya saling bertanya. Biasanya ibunya yang akan berangkat belakangan, tapi hari ini mereka tampak kompak dengan baju yang senada, batik yang di gunakan senada, meskipun Dirga menutupinya dengan sebuah jas berwarna hitam membuat penampilannya tanpa lebih resmi sedangkan Nina memakai baju batik yang di tambah dengan jilbab panjang segi empat polos dengan warna yang begitu cocok di padukan dengan batik berwarna coklat muda itu.


"Papa sama ibuk mau kemana? Ibuk kerja?" tanya Akmal. Jelas yang di i lajau ibunya bukan baju yang biasa ibunya gunakan untuk bekerja


"Enggak sayang, ibuk ada urusan sebentar sama papa, nanti pas kalian pulang papa sama ibuk juga sudah pulang. Nanti kita makan bakso di tempat biasa ya."


Akmal pun mengangukkan kepalanya sambil kembali merapikan bukunya ke dalam tas, karena hendak pergi jadi Dirga sengaja memesankan makanan untuk mereka sarapan agar Nina bisa bersiap lebih cepat.


Setalah selesai sarapan, mereka pun berangka. Nina ikut serta mengantar anak-anak .


"Doakan urusan ibuk sama papa hari ini lancar ya." ucap Nina sebelum anak-anak turun dari mobil.


"Ibuk sedang cemas ya?" tanya Akmal saat menyadari senyum Nina yang tidak seperti biasanya.


Nina pun tersenyum dan mengusap kepala putra serta putrinya, "Iya, sedikit!"


"Akmal doakan yang terbaik buat ibuk, apapun itu. Iya kan Sa!?" Akmal meminta persetujuan dari Sasa.


"Iya, pokok ya yang terbaik buat ibuk." ucap Sasa tidak mau kalah.


"Aamiin," yang selalu Nina syukuri dalam melewati kesulitan di dalam hidupnya adalah memiliki anak-anak yang luar biasa mendukungnya.


Sedangkan Dirga kali ini terlihat lebih irit bicara. meskipun ia sudah punya semua bukti dan juga alasan kuat yang akan bisa membuat hakim memenangkan pihaknya, tetap saja Dirga tidak bisa menutupi kegundahannya, ia khawatir hasilnya tidak akan sesuai dengan yang ia harapkan. Apapun bisa terjadi di pengadilan, dan ia tidak bisa menjamin apapun kecuali menyerahkan semua urusannya pada sang pencipta.


Hingga akhrinya anak-anak masuk ke dalam kelas dan mobil pun mulai melaju kembali meninggalkan gedung sekolah menuju ke pengadilan.


Hanya butuh waktu setengah jam hingga mereka sampai di pengadilan.


Seseorang sudah menyambut kedatangannya dan menyerahkan semua berkas yang dibutuhka. Oleh Dirga,


"Ini pak semua berkasnya, sudah sesuai dengan yang bapak minta." ucap pria itu tampak begitu sedan dengan Dirga. Nina yang berdiri di samping Dirga hanya memperhatikan saja pembicaraan mereka, ia tidak berniat untuk bertanya karena memang bukan urusannya jika Dirga sendiri tidak mengajaknya bicara.


"Terimakasih ya."


"Sama-sama pak, kalau begitu saya permisi."


"Hmmm."


Kini tinggal mereka berdua, Dirga pun menoleh pada Nina dan tersenyum, sepertinya ia mengerti dengan tatapan nina.


"Ini berkas pengadilan." ucap Dirga sambil menunjukkan berkas di tangannya.


"Oh," jawab Nina singkat dengan senyum tipis kemudian berbalik menatap ke arah lain seperti sengaja menghindari tatapan Dirga.


Dirga ternyata menyadari kecemasan yang dirasakan oleh Nina apalagi saat ini Nina beberapa kali memejamkan matanya dan menghela nafas dalam.


Srekkkk


Dan kini tubuh Nina sudah berada dalam pelukan Dirga, hal ini berhasil membuat tubuh Nina terpaku,


"Mas,"


"Semua akan baik-baik saja, jadi jangan khawatir ya." ucap Dirga sambil mengusap punggung Nina.


Perasaan nyaman mulai menjalar di tubuh Nina, benar saja jika sebuah pelukan mampu membuat kita yang menerima pelukan merasakan kenyamanan.


Dan Nina hanya bisa mengangukkan kepalanya di dalam pelukan Dirga. Menikmati setiap detik waktu yang berjalan bersama pelukan Dirga.


Cukup lama mereka berpelukan hingga akhirnya Dirga kembali perlahan melepas pelukannya,


"Kita masuk sekarang?" tanya Dirga dan Nina kembali mengangguk.


Dirga pun menautkan jari-jari nya ke jari-jari Nina kemudian berjalan bersama-sama masuk ke dalam pengadilan.


"Sekarang ada aku, jadi jangan pernah merasa sendiri." ucap Dirga kemudian mengecup jari-jari Nina. Sekali lagi Nina dibuat terharu dengan perlakuan Dirga yang begitu memanjakannya.


Nina terus menatap bahu pria yang tengah menggandeng tangannya sepanjang perjalanan masuk ke ruang administrasi.


"Tunggu di sini, biar aku yang ambil nomornya " ucap Dirga begitu sampai di kursi tunggu yang berjejer panjang. meskipun menurutnya ini masih cukup lagi karena kantor pengadilan juga baru buka, ternyata banyak yang sudah mengantri di sana.


Setelah mengambil nomor panggilan, seperti biasa mereka harus menunggu di ruang tunggu sambil menunggu kedatangan Kamal. mereka mendapat nomor urut 16, tidak begitu buruk.


"Mungkin kita bisa minum kopi dulu sebelum mulai." ucap Dirga sambil menunjukkan nomor antriannya.


"Apa akan selama itu?" tanya Nina mamastikan.


"Tidak juga, di depan sebelum masuk tadi sepertinya aku melihat kedai kopi yang baru buka."


akhirnya Nina pun setuju dari pada hanya duduk tanpa melakukan apa-apa lebih baik ia menikmati secangkir kopi untuk mengurangi perasaan cemasnya.


 Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


@tri.ani5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰