
"Ibuk, ibuk," teriak Akmal dari kamar membuat Nina yang tengah sibuk di dapur segera menghentikan kegiatannya dan menghampiri sang putra.
"Ada apa Akmal?" tanya Nina khawatir, ia sampai membawa centong sayurnya ke dalam kamar anak-anaknya, terlihat Akmal dan Sasa yang sudah memakai seragam tengah duduk di lantai.
"Lihat ini ibuk," Akmal melambaikan tangan pada ibuknya berharap sang ibu segera menghampirinya dan melihat apa yang tengah ia pegang di tangannya.
Nina pun gegas menghampiri anak-anaknya, ia sampai berkedip beberapa kali saat melihat sesuatu yang tengah di pegang oleh putranya.
"Kak, itu dapat dari mana?" tanya Nina kemudian setelah berhasil mengendalikan rasa terkejutnya.
"Ini hadiah dari restoran kemarin buk, Akmal baru sempat membukanya. Apa Akmal dapat dorprize yang buk,"
Nina pun ikut duduk di lantai, ia mengambil benda pipih seukuran buku di tangan sang putra, memastikan jika benda itu benar dapat di gunakan.
"Ini beneran tablet kak,"
"Iya buk,"
"Asik, coba ambilkan hp ibuk di meja depan tv, dek." perintah Nina pada sang putri, ia ingin memastikan sesuatu.
"Baik buk," Sasa pun segera berdiri dan meninggalkan mereka, selang beberapa menit ia kembali dengan membawa ponsel milik ibunya,
"Ini buk,"
Nina pun segera searching tentang merk dan tipe tablet yang tengah berada di genggamannya,
Ya Allah, ini harganya mahal sekali. Apa restorannya tidak salah? Batin Nina saat mengetahui harga tablet itu.
"Kak, biar ibuk bawa dulu ya. nggak pa pa?"
"Nggak pa pa buk, kan kakak bawa tab nya hanya setiap hari Rabu."
***
Kini Nina sudah berada di depan restoran yang sama yang ia kunjungi bersama anak-anak nya kemarin, kali ini ia datang untuk memastikan sesuatu.
Langkahnya cepat karena sebentar lagi ia harus menjemput anak-anaknya.
"Selamat datang," seperti biasa seorang pelayan berdiri di ambang pintu dan menyambut ramah siapapun yang datang.
"Terimakasih mbak, saya yang kemarin." ucap Nina membuat wanita itu mengerutkan keningnya tengah berpikir keras, "Saya yang datang dengan voucher ulang tahun kemarin."
"Oh iya," senyumnya semakin ramah begitu mengingat siapa Nina, "Ada yang bisa kami bantu, buk?"
Nina pun mengeluarkan benda pipih yang masih berada di dalam kardusnya itu dan memperlihatkan pada wanita itu, "Kadonya kemarin anak saya ini, saya pikir mungkin ada yang salah."
"Ini ada apa ya? Ada yang bisa saya bantu?" sepertinya karena melihat terjadi percakapan serius di depan pintu masuk, seorang pria dengan penampilan rapi yang tampaknya manager di rumah makan itu menghampiri mereka.
"Ini ibuk yang kemarin anaknya ulang tahun pak," ucap pelayan itu dan sang pria segera memperhatikan Nina.
"Iya buk, ada yang bisa kami bantu?"
Nina pun kemudian menjelaskan alasan kedatanganya ke tempat itu,
"Tidak buk, memang benar itu hadiah untuk putra ibuk. Untuk selanjutnya, tidak hanya tablet, bahkan kami sudah menyediakan motor, laptop dan perjalanan liburan bagi penerima dorprize."
"Jadi ini benar tidak salah kan pak?".
"Tidak buk,"
Akhirnya Nina lega, setidaknya ia tidak merasa bersalah saat anaknya menggunakan benda itu setelah mengetahui kepastiannya.
***
Di tempat lain Dirga yang tengah bersiap-siap untuk meninggalkan kampus, ponselnya berdering. Terpaksa ia menghentikan langkahnya dan memilih duduk sebentar di balkon lorong kampus.
Setelah melihat siapa yang melakukan panggilan, ia pun segera menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu di telinganya,
"Iya hallo,"
"...."
"Benarkah?"
"..."
"Lalu bagaimana?"
"..."
"Alhamdulillah, baiklah terimakasih atas informasinya."
Dirga menggengam ponselnya itu setelah selesai melakukan panggilan. Bibirnya tersenyum tipis,
"Dia benar-benar berbeda," gumamnya lirih.
"Siapa yang beda, pak dosen?" pertanyaan itu membuyarkan lamunan Dirga, ia pun dengan cepat menoleh ke sumber suara. Entah sejak kapan wanita itu berada di belakangnya.
Wanita itu adalah rekan sesama dosen di kampus itu, kebetulan mereka juga pernah menempuh pendidikan di kampus yang sama.
"Di telfon pacar ya pak dosen, Sampek senyum-senyum kayak gitu."
"Bukan Bu, Bu Astri nih ada-ada aja. Dari teman, ya sudah Bu saya buru-buru. Nggak pa pa ya saya duluan."
"Silahkan pak, saya juga mau pulang."
"Baiklah, assalamualaikum."
"Waalaikum salam,"
Wanita bernama Astri itu masih setia memandang punggung Dirga meskipun jaraknya sudah sangat jauh. Dia sebenarnya memang memiliki perasaan khusus pada pria itu, itulah alasan kenapa dia sampai rela meninggalkan pekerjaan lamanya dan melamar menjadi salah satu dosen di kampus tempat Dirga mengajar.
"Hehhhh, dia masih saja selalu menghindar." gumamnya merasa sedikit kesal.
***
Kini Dirga sudah sampai di rumah, salat melintas di samping rumah ia bisa mendengar suara anak-anak itu tengah berbincang di dekat kolam, Dirga pun mengurungkan niatnya untuk menaiki tanggal, ia memilih menghampiri anak-anak itu setelah memastikan motor Nina tidak lagi ada.
"Assalamualaikum," sapa Dirga membuat anak-anak itu dengan kompak menoleh ke arah Dirga.
"Waalaikum salam, paman Aga." jawab Sasa dan Akmal serentak.
"Paman dengar dari depan, kayaknya serius banget ngobrolnya, ngobrolin apa sih kalau boleh tahun?"
"Ini paman, kakak Akmal kan baru dapat hadiah tablet, tapi nggak bisa cara pakeknya." ucap Sasa dengan polosnya.
Dirga pun tersenyum dan duduk diantara mereka,
"Biar paman ajari caranya."
"Horeeeee,"
Karena terlalu asik bermain dengan anak-anak, Dirga sampai mengabaikan ponselnya yang berdering beberapa kali, itu panggilan dari kantor. Sepertinya Dirga lupa kalau hari ini ada meeting dengan klien.
***
"Pak Dirga belum datang juga mas?" tanya Nina pada seorang pria yang merupakan tangan kanan Dirga di kantor, namanya Radit.
"Iya nih, mana nggak di angkat lagi telponnya." ucap pria itu dengan tangan yang menggengam erat ponselnya, sepertinya dia sudah beberapa kali melakukan panggilan.
Selama ia kerja di tempat itu, ia sepertinya tidak pernah mendapati bosnya itu tidak memberi kabar jika datang terlambat atau mungkin tidak datang. Nina ikut merasa cemas hingga tanpa sadar ia mengulum lap di tangannya, "Kenapa ya mas?"
"Kalau aku tahu aku juga nggak akan bingung kayak gini." ucap Radit ketus, biasanya ia juga tidak begitu tapi karena ia benar-benar pusing memikirkan bagaimana dengan klien yang sebentar lagi datang, ia tidak bisa menahan diri.
"Maaf mas, kalau ada yang bisa Nina bantu, Nina pasti bantu mas."
Radit menatap Nina dari atas ke bawah, memastikan sesuatu,
"Mas, kenapa lihatin Nina kayak gitu?" ada rasa tersinggung dalam diri Nina, perasaan tidak nyaman juga.
Radit pun segera menggelengkan kepalanya, "Oh iya, beberapa waktu lalu kamu pernah ikut pak Dirga meeting sama klien kan, masalah kuliner?"
"Iya, ada apa ya mas?"
"Kebetulan sekali klien pak Dirga kali ini dari luar negri, kami akan mempromosikan kuliner dalam negri. Jadi kamu bisa kan temani saya temui klien ini,"
"Tapi mas saya_,"
"Ini darurat Nina, pasalnya saya nggak ngerti blas sama yang namanya kuliner. Kalau makan tinggal makan aja, nggak pernah tanya bahan atau bumbunya. Ada saya, please mau ya."
Akhirnya Nina pun mengangguk ragu,
"Tapi saya nggak bisa bahasa inggris."
"Gampang, saya yang akan jadi penerjemahnya. Pokoknya kamu tinggal ikut dan jawab apa yang mereka tanyakan. Mengerti?"
Nina kembali mengangukkan kepalanya,
"Tapi mas, baju saya_?" ia tidak mungkin menemui klien dengan baju cleaning service nya, ia juga tidak mungkin pakek baju yang ia pakai saat berangkat tadi karena bajunya jelas tidak resmi.
"Gampang, kita mampir butik bentar."
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...