
Semenjak kepulangannya yang terakhir Kamal memang sengaja meminta pindah posisi. Ia tidak lagi ikut berlayar bersama kapal tapi ia memilih pekerjaan yang ada di pelabuhan. Ia membantu menyortir barang-barang yang datang dari luar pulau dan sebaliknya.
Pekerjaannya yang sekarang memungkinkannya untuk pulang setiap hari.
Seperti biasa saat siang, para pekerja akan makan siang di kantin pelabuhan. Beberapa dari mereka ada yang sengaja membawa bekal dari rumah dan beberapa lagi memilih membeli dari kantin,
Akhir-akhir ini Kamal jarang membawa bekal,
"Nggak bawa bekal?" tanya rekannya yang ikut bergabung duduk di sampingnya, kini Kamal tengah memakan nasi campurnya.
Kamal menatap kotak makan yang di bawa rekannya. ia menelan Salivanya , sudah lama sekali ia tidak mendapat bekal seperti itu.
"Mau?" tanya rekannya begitu menyadari Kamal tengah memperhatikan bekalnya.
"Nggak, nih aku sudah beli." ucap Kamal sambil kembali menyantap bekalnya.
Rekan kerjanya pun mengangukkan kepalanya dan mulai menyantap makanannya, beberapa saat kemudian tiba-tiba ia menghentikan kunyahannya,
"Sudah lama sekali nggak bawa bekal dari rumah, ada apa?"
"Istriku lagi hamil, kasihan kalau harus bangun pagi cuma buat nyiapin bekal."
"Itu sudah kewajiban istri, ini padahal istriku lagi punya baby. Tapi dia tetap nyiapin bekal."
"Dulu juga_," Kamal tiba-tiba menghentikan ucapanya. karena ia baru sadar jika yang ingin ia bicarakan adalah Nina. Dulu meskipun tidak pulang setiap hari, Nina selalu menyiapkan bekal saat ia pulang, atau saat ada rekan kerjanya yang dinas satu tempat dengannya, Nina akan menyempatkan untuk mengiriminya makanan buatannya sendiri.
"Dulu, maksudnya istri kamu yang dulu?" tanya rekannya memastikan.
"Lupakan. Makanlah, sebentar lagi ada kapal datang."
"Ayolah, santai aja. Lagi pula mantan istrimu juga sudah punya calon suami kan, mana kayaknya orang kaya lagi, harusnya kamu senang. mungkin anak-anak kamu nggak perlu nafkah dari kamu lagi."
"Kamu bicara apa sih!?" Kamal tidak terima dengan yang di katakan oleh rekannya.
"Makanya lihat gosip. Nih aku kasih lihat." rekan Kamal mengeluarkan ponselnya dari balik celananya dan mencari sesuatu di salah satu aplikasi kemudian menunjukkannya pada Kamal.
"Lihat, beritanya jadi tranding topik. meskipun berita yang sebenarnya sudah di hapus tanpa sebab, beruntung aku sempat men screenshot saat ingat wajah anak-anak kamu."
Kamal pun segera mengambil ponsel rekannya itu dan melihat foto hasil screenshotan itu.
Tangan Kamal mengepal sempurna, meskipun foto di akun media sosial yang di unggah Nina sudah di hapus, tapi yang ia lihat saat ini sama persis.
Aku tidak akan membiarkan dia mengambil anak-anak ku ...
****
"Bu Silvi, sudah sehat Bu?" tanya salah satu guru saat sambil menghampiri Silvi yang duduk di kursinya yang baru saja kembali dari kelas saat jam istirahat.
"Sudah Bu, kemarin hanya kecapekan saja Bu."
"Oh iya, Bu Silvi sudah tahu belum? Gosip terhangat kemarin?"
Pertanyaan itu segera berhasil menarik perhatian Silvi. Sebelumnya ia tidak pernah ketinggalan tentang gosip, tapi beberapa hari ini ia memang sedikit kurang enak badan, mungkin gara-gara ia pura-pura sakit pas Akmal sakit, jadi keterusan sakit.
"Jadi beneran, Bu Silvi nggak tahu?"
"Iya Bu, beberapa hari ini saya benar-benar nggak pegang hp. Memang ada gosip apa sih Bu?"
"Ini soal anak suami Bu Silvi."
"Oh, tentang dia sakit?" tanya Silvi sok tahu, ia jelas lebih tahu.
Tapi bagaimana bisa jadi gosip? Apa hubungannya dengan banyak orang? Batin Nina bertanya-tanya.
"Iya, lalu apa hubungannya dengan gosip yang beredar?"
"Yang jadi pemateri, dosen ganteng itu. Dia sedang bermain dengan anak kecil dan kata orang-orang anak kecil itu anak tiri Bu Silvi loh."
"Dosen ganteng itu? Bagaimana bisa?" Silvi tercengang, "Boleh lihat nggak?"
"Sayang sekali Bu Silvi, kemarin nggak sempat aku screenshot. Sekarang gosipnya tiba-tiba hilang sendiri."
"Kok bisa?"
"Sepertinya karena memang pak dosen ganteng itu pengusaha yang cukup berpengaruh, makanya bisa menarik kembali berita yang sudah terlanjur beredar."
Mendengar berita itu, hati Silvi menjadi panas. Ia tidak sabar ingin segera pulang dan mengatakan hal itu pada suaminya.
***
"Mas," Silvi menyambut kedatangan suaminya di depan pintu, ia membantu melepas jaket suaminya dan memeluknya. Seperti biasa kamal akan meninggalkan kecupan di keningnya.
"Ada apa nih?" tanya Kamal curiga, jika seperti ini biasanya istrinya itu ada sesuatu.
"Nggak ada mas, hanya Silvi ada yang ingin di bicarakan sama mas Kamal."
Silvi segara mengajak suaminya duduk di meja makan, menyiapkan makanan untuk suaminya itu. menungguinya makan hingga selesai.
"Tadi katanya mau bicara, bicara apa?" tanya Kamal setelah selesai makan.
"Mas Kamal nggak mandi dulu? Kita bisa bicarakan ini nanti setelah mas Kamal mandi."
"Nggak pa pa, sekarang juga. Lagi pula hari ini pekerjaan tidak begitu banyak, jadi mas nggak terlalu capek. Ada apa?"
"Tadi si sekolah, Silvi mendengar gosip yang beredar dari guru-guru lain kalau Akmal dan Sasa bermain dengan seorang pria yang katanya pria mapan."
"Oh itu," Kamal menanggapinya dengan begitu santai, atau lebih terkesan dingin.
Segera Silvi mengeluarkan rayuan mautnya,
"Mas, Silvi hanya khawatir jika ini terus di biarkan. Anak-anak akan lupa kalau mereka masih punya ayah."
Kali ini kamal mulai merespon dengan menatap ke arah Silvi membuat Silvi semakin bersemangat menjatuhkan Nina di depan suaminya itu.
"Ini pasti Nina sengaja mas, dia sengaja membuat gosip itu agar semua orang tahu kalau mas tidak berguna sebagai seorang ayah, buktinya ia tidak menghubungi mas setelah Akmal keluar dari rumah sakit. ini pasti gara-gara mas nggak bantu bayar biaya rumah sakit, lagi pula siapa yang suruh pesan kamar VIP. Dia benar-benar sengaja mau memanfaatkan keadaan mas Kamal kayaknya."
Hari Kamal yang memang sudah panas, kini semakin panas karena hasutan fagi Silvi.
"Kamu benar, aku nggak boleh diam saja."
"Hmmm,"
Silvi menganggukan kepalanya puas akhrinya bisa mempengaruhi suaminya itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...