
...Sering kali kita tidak sadar bahwa dunia tidak pernah mengajak tirukan kita. Ada kemudahan di setiap masalah yang tengah kita hadapi. Dunia hanya ingin kita menjadi dewasa diwaktu yang tepat...
...🌺🌺🌺...
"Maaf ya, hanya ada jus jambu." ucap Nina sambil menyuguhkan segelas jus jambu buatannya.
"Enak ya kamu Nin, bisa tinggal di rumah mewah kayak gini." ucapnya sambil menikmati jus jambu buatan Nina.
"Biasa aja, kan hanya ngontrak. Bukan rumah sendiri."
Sebenarnya Nina malas untuk berbasa-basi, ia berharap tamunya segera pulang tapi ternyata malah banyak bicara sama membicarakan hal yang menurut Nina tidak penting.
"Aku sebenarnya ada acara, setengah jam lagi." ucap Nina mencoba mengusir tamu tidak di undangnya itu dengan halus. Memang benar setengah jam lagi anak-anak nya pulang sekolah dan ia harus segera menjemputnya.
"Baiklah, aku mengerti. Bentar!" terlihat Silvi merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat dan meletakkannya di atas meja,
"Ini uang jajan untuk Sasa dan Akmal. Oh iya ini aku harap untuk selanjutnya kamu jangan terlalu mengharapkan jatah bulanan dari mas Kamal."
"Maksudnya?"
"Kamu tahu kan sekarang aku hamil anaknya mas Kamal, mas Kamal harus menghidupi aku dan anakku, biaya pendidikan Sakila tidak murah tidak seperti anak-anak kamu yang sekolah di sekolah biasa, biaya sekolah Sakila satu bulannya aja hampir dua juta belum lagi biaya-biaya yang lain, seperti les tari, les renang, dan les pelajaran. Jadi aku harap kamu nggak terlalu menuntut dari mas Kamal."
"Ohhh, jadi ini maksudnya!" segera Nina mencelos, rasanya jadi enggan menerima uang itu.
"Baiklah aku harap kamu mengerti ya, Aku pulang."
Silvi pun segera berdiri dan mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan putrinya,
"Sakila, ayo pulang."
Gadis kecil itu segera berlari menghampiri Silvi,
"Mama, di rumah kak Sasa ada kolam renangnya, Kila mau tinggal di sini aja." rengeknya.
"Lain kali kita ke sini lagi ya, sekarang kita pulang dulu ya."
"Nggak mau, aku mau di sini aja. Rumah kita kecil."
"Kila, jangan begitu. Kita pulang sekarang!" ucap Silvi sambil menarik tangan putrinya yang terus merengek dan Nina hanya bisa mengelus dada melihat pemandangan itu.
Setelah Silvi benar-benar pergi, Nina menatap amplop coklat itu. Ia begitu ragu menerimanya.
"Ikhlas nggak sih sebenernya?!" keluhnya kesal sambil beberapa kali menghela nafas apalagi saat melihat rumah yang begitu berantakan. Bahkan Sasa dan Akmal saja tidak seberantakan itu saat bermain.
***
Nina masih enggak membuka amplop yang seharusnya menjadi jatah bulanan kedua anaknya, ia bahkan membawa kemanapun ia pergi.
"Na, nglamun aja." tegur seseorang membuat Nina dengan cepat menyembunyikan amplop coklatnya di dalam tas.
"Eh mbak Welas." ternyata teman sesama office girl yang menyapanya.
"Tuh di panggil pak bos."
"Ada apa?"
"Mana aku tahu."
Nina pun bergegas berdiri dan merapikan penampilannya. Ia pun segera menuju ke ruangan sang bos.
"Permisi pak, apa pak Dirga memanggil saya?"
"Ahhh iya, masuklah!"
Nina pun segera masuk, dan berdiri di balik meja kerja bosnya.
"Duduklah!" perintah sang bos lagi.
"Nggak pa pa pak, saya berdiri saja."
"Duduklah!"
Karena terus di paksa, akhrinya Nina pun duduk.
"Ada apa ya pak?"
"Maksudnya pak?"
"Kamu bisa kan ikut dengan saya, bukan cuma kamu saja, ada Beni dan Radit juga, Rena juga tapi nyusul."
"Tapi pak_,"
"Kalau masalah baju, tadi saya sudah minta Totok buat siapkan. Kebetulan di dekat sini ada butik."
"Kenapa saya pak? Maksud saya, saya hanya office girl di sini."
"Memang kamu pernah lihat saya membeda-bedakan karyawan saya? Maaf tapi saya tersinggung loh kalau kamu bicaranya seperti itu." ucap pak Dirga dengan sedikit kecewa, jika di perhatikan memang benar meskipun sikapnya dingin tapi selalu berusaha untuk ramah kepada semua karyawannya termasuk scurity kantor.
Bahkan tidak jarang ia mengajak beberapa karyawannya untuk makan malam bersama hanya untuk merasayakan ulang tahun salah satu karyawannya.
"Maaf pak, bukan maksud saya menyinggung bapak."
"Baiklah, saya jelaskan ya. Bukan saya mengistimewakan kamu ya, sebenarnya ada alasan kenapa saya mengajak kamu, rekan bisnis saya ini sedang buka kafe, kemarin dia berkunjung ke sini, trus dia memakan gorengan buatan kamu. Dia tertarik sama gorengan kamu makanya dia mengundang khusus buat kamu siapa tahu nanti berjodoh."
"Berjodoh maksudnya pak?" Nina begitu terkejut.
"Maksud saya, berjodoh dalam bisnis."
"Oh."
"Jadi gimana, mau kan?"
"Baik pak, tapi ijinkan saya menjemput anak-anak saya dulu ya pak."
Wajah pak Dirga sedikit terkejut mendengar ucapan Nina,
"Jadi kamu sudah punya anak?" tanyanya kemudian memang jika dilihat dari penampilan Nina yang singset dengan jilbab rapi masih tampak seperti single tanpa anak. Memang pak Dirga tidak pernah menanyakan urusan pribadi para karyawannya jika tidak diperlukan.
"Kenapa pak? Maaf saya tidak mengatakan dari awal kalau saya single parent. Jika pak Dirga mau membatalkkannya tidak pa pa, tapi saya mohon jangan pecat saya. Sebelumnya saya sudah mencantumkan status saya di CV saya, pak. Sungguh!"
Melihat ekspresi Nina yang panik, Dirga malah tersenyum.
"Jangan panik seperti itu, saya hanya tidak menyangka kalau kamu sudah punya anak saja. "
"Jadi bagaimana pak? Apa saja dipecat?"
"Ya enggak lah. kalau kamu khawatir meninggalkan anak-anak kamu, kamu boleh membawanya. kebetulan di sana nanti ada tempat Playground nya, jadi kamu bisa menitipkannya di sana, sambil kerja bisa sambil menyenangkan anak."
Nina benar-benar tidak menyangka jika respon bosnya begitu tidak terduga seperti itu. Dalam harinya terus bersyukur karena di tengah kesulitan yang ia hadapi, selalu ada kemudahan dan kini datang dari tempat kerjanya.
"Tidak pak, jangan. Saya akan menitipkan anak-anak saya ke sahabat saya saja." tidak mungkin Nina menerimanya, ia harus tau diri juga. Tidak mungkin ia akan mengecewakan atasannya dengan tidak fokus bekerja.
"Baiklah terserah kamu, jam empat harus sudah siap ya."
"Iya pak."
Akhirnya nina pun memutuskan untuk menitipkan anak-anak ke rumah Mita karena ia tidak tahu akan pulang jam berapa nanti.
Beruntung Mita selalu siap, bahkan ia malah meminta Nina untuk sering-sering begini agar Nina bisa sedikit bersantai. Meskipun ia tidak pernah berada di posisi Nina, tapi ia paham jika menjadi Nina tidaklah mudah.
"Jangan khawatirkan anak-anak. Lo yakin kan mereka bakal baik-baik aja kalau sama aku. Jadi selamat bersenang-senang."
"Gue kerja Ta,"
"Ya sambil menyelam minum air, jangan terlalu kaku biar nggak cepet tua."
"Apaan sih, ya udah gue titip anak-anak ya, assalamualaikum."
"Waalaikum salam,"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...