AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
49. Gosip



Kamal mencroll layar ponselnya, hatinya semakin mendidih saat melihat senyum lepas dari anak-anaknya bersama pria lain. Tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa setiap kali melirik istrinya yang tertidur di sampingnya.


"Lihat saja, aku tidak akan biarkan ini terjadi. Mereka anak-anak ku, siapapun tidak akan ada yang bisa mengambilnya." ancam Kamal dengan hati yang panas.


Nina tanpa sengaja mengunggah kedekatan anak-anaknya dengan pria pemilik rumah tempat mereka tinggal, ia pikir tidak masalah. Ia hanya ingin mengabadikan moment bahagia anak-anaknya.


"Pak saya mau bersihkan rumah atas dulu nggak pa pa ya pak." ijin Nina setelah sekian lama hanya menyaksikan anak-anaknya dan Dirga bermain di halaman rumahnya. seharusnya tidak pa pa karena Dirga tidak sedang berada di dalam rumah.


"Baiklah tidak pa pa, saya akan menjaga anak-anak." ucap Dirga yang berhenti sejenak bermain dengan anak-anak.


Nina pun tersenyum dan segera mengambil peralatan bersih-bersih nya, kemudian naik ke lantai atas.


Sembari sesekali mengintip anak-anaknya dari atas ia membersihkan satu per satu ruangan yang ada di lantai atas. Dan terakhir ia harus membuang sampah.


Tapi matanya terfokus pada beberapa nota yang sepertinya belum lama di buang ke tempat sampah.


"Jangan-jangan ini nota yang penting," gumamnya lalu mengambil kembali nota itu. Tapi kembali matanya di buat terbelalak nama kala ia membaca nota itu.


"iPad? Apa ini maksudnya iPad yang hadiah Akmal?" Nina pun kembali memeriksa semua nota itu, dan benar dugaannya semua nota itu adalah hadiah yang di tujukan pada Akmal dan juga Sasa, mulai dari iPad, boneka, mobil-mobilan dan masih banyak lagi.


Nina pun kemudian menyimpan nota itu di dalam saku celananya, ia akan menanyakan hal itu pada Dirga nanti.


Selain Kamal, rupanya foto hasil unggahan Nina yang tidak seberapa itu mampu membuat heboh sebuah media. begitu juga dengan keluarga besar Dirga.


"Ada sedikit masalah, saya harus pergi sekarang tidak pa pa ya." ucap Dirga setelah Nina menyelesaikan pekerjaannya.


"Iya pak, justru saya yang harus berterimakasih. Sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan sama bapak, tapi lebih baik nanti saja."


"Baiklah, assalamualaikum."


"Waalaikum salam,"


Nina masih menatap kepergian pria itu hingga bahkan mobilnya tidak terlihat.


***


"Kamu harus menjelaskan sesuatu sama mama sebelum kamu menjelaskan hal ini pada media!" ucap wanita dengan penampilan elegan itu.


Dirga malah tersenyum saat melihat foto yang di sodorkan oleh wanita itu, "Memang apa ma yang harus di jelaskan? Ini tidak membuktikan apapun."


Ckkkk


Wanita itu berdecak kesal karena putranya selalu bersikap slow meskipun keadaanya tengah genting,


"Ingat Ga, kamu itu adalah pewaris utama keluarga Wikrama. meskipun menurut orang lain ini hal yang biasa, tapi ini bisa menjadi gosip yang begitu besar untukmu. Pasti di luar sudah sangat heboh membicarakan kamu. Banyak gosip yang berada, pasti ada yang mengatakan kalau kamu punya anak di luar nikah, apa apalah pastinya tidak akan ada yang di beritakan secara positif demi bisa menjatuhkan nama baik kamu."


"Tidak semudah itu ma menjatuhkan Dirga Wikrama. Baiklah cuma itu kan, Dirga pergi dulu ya ma. Ada yang harus Dirga kerjakan. Sama buat papa, assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Mia hanya bisa menatap pasrah kepergian putranya itu. Rasanya percuma jika ia berdebat dengan sang putra sebelum papanya yang bertindak.


Tangan Dirga sudah hampir menatik handle pintu mobilnya tapi terpaksa terhenti karena panggilan dari seseorang,


"Mas Dirga, tunggu."


Dirga pun menoleh ke sumber suara, ada Wulan yang berjalan mendekatinya.


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya sudah lihat gosip yang beredar, saya tidak percaya kalau_,"


"Percaya saja," Dirga dengan cepat menyahut ucapan Wulan sebelum Wulan menyelesaikan ucapannya, "Cepat atau lambat itu akan terjadi. Jadi jangan di anggap gosip. Maaf ya saya ada urusan, assalamualaikum."


Tanpa menunggu jawaban dari Wulan, Dirga langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah itu begitu saja.


Di tempat lain, Nina tengah menerima telpon dari seseorang.


"Lo udah lihat gosip hari ini belum Nin?"


"Kenapa tanya gitu? Emang sejak kapan gue peduli sama gosip Ta!?"


"Tapi kali ini Lo harus peduli."


"Males. Emang kenapa sih?"


"Gosip tentang Lo Nin."


"Gue?" Nina sampai tanpa sadar menunjuk pada dirinya sendiri meskipun Mita tidak akan melihatnya, "Emang siapa gue Sampek masuk gosip."


Mata Nina membelalak sempurna, tanpa mematikan sambungan telponnya ia segera memeriksa laman gosip dan ternyata benar ada foto Dirga dan anak-anaknya di media sosial gosip. Dan hampir semua mengunggah kembali foto yang tidak sampai dua jam ia bagikan itu.


"Ta, ini apaan!?"


"Ya Lo harus minta maaf sama mas Dirga jalan satu-satunya."


"Pak Dirga pasti kena masalah karena hal ini, bodohnya aku."


Melihat wajah panik dari sang ibuk, Akmal pun segera mendekat dan mengusap punggung ibunya persis seperti yang ibunya lakukan padanya saat dia tengah tidak baik-baik saja,


"Apa sudah lebih baik, Bu?"


Nina pun tersenyum haru dan mengambil tangan Akmal, menciumnya kemudian memeluk tubuh mungil Akmal.


"Ibu sudah lebih baik sayang. Terimakasih ya."


***


Setelah anak-anaknya tertidur, Nina sudah mondar-mandir di teras rumah menunggu kedatangan seseorang.


Ia harus meminta maaf atas kecerobohannya, selain itu ia juga harus menanyakan sesuatu.


Masih jam sembilan malam, berarti setengah jam lagi dan ia masih sabar menunggu.


Hingga ia menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyum tipis saat sebuah mobil memasuki halaman rumahnya.


Seorang pria keluar dari dalam mobil itu, berbicara sebentar Dnegan satpam kemudian berjalan mendekati Nina saat menyadari keberadaan Nina di sana.


"Assalamualaikum, Nin. Kamu belum tidur?"


"Waalaikum salam pak, sengaja nungguin pak Dirga tadi."


"Oh, ada apa?"


"Kita duduk di sana ya pak." ucap Nina sambil menunjuk ke arah kursi yang ada dekat kolam agar anak-anaknya tidak mendengar pembicaraan mereka.


"Baiklah."


Mereka pun berjalan beriringan menuju ke tempat duduk, mereka duduk bersampingan hanya bersekat sebuah meja kecil.


"Katakan!"


Nina memilin ujung majunya, perasaanya tengah tidak baik-baik saja semenjak tadi siang,


"Pak, saya mau minta maaf. Gara-gara saya, bapak dan keluarga bapak jadi konsumsi publik. Saya sudah menghapus unggahan saya kok pak." ucap Nina dengan begitu hati-hati.


"Oh, nggak pa pa." ucap Dirga dengan santainya.


Hahhhh ....


Nina menatap tidak percaya pada pria di sampingnya itu. Setelah ia bicara begitu serius nyatanya respon pria itu tidak seperti yang sudah ia bayangkan. Padahal ia sudah bersiap-siap jika sampai gara-gara kesalahan ini, pria itu akan mengusirnya dari rumah itu.


"Pak Dirga tidak marah? Tidak ingin mengusir saya dan anak-anak?"


Mendapatkan pertanyaan itu Dirga pun memicingkan matanya,


"Kenapa? Kamu mau aku usir? Atau kamu sengaja ingin terbebas dari balas Budi? Bukankah kemarin kamu yang ngotot pengen balas Budi!?"


Dengan cepat Nina mengibaskan tangannya,


"Nggak gitu pak sungguh."


"Lalu?"


"Ya udah, nggak jadi."


Dirga tersenyum tipis nyaris tidak terlihat melihat tingkah panik Nina yang ia rasa begitu lucu.


Bersambung


Maaf ya kemarin nggak up, sebenarnya pengen banget up tapi ternyata keadaan tidak memungkinkan. Insyaallah hari ini up dua bab, di tunggu aja ya bab satunya.


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


...Happy Reading 🥰🥰🥰...