
"Kenapa Nina?" tanya Nina cepat karena ia tidak merasa bersalah sama sekali.
"Karena kamu mengembalikan uang yang aku berikan pada Akmal dan Sasa."
Seketika darah Nina serasa naik ke ubun-ubun, kalau bukan orang mungkin Nina sudah mengucek-ucek pria di depannya bak cucian.
Dada Nina kempas kempis naik turun menahan emosi. Tapi dengan cepat ia mencoba mengendalikan dengan menarik dan menghembuskan nafas berkali-kali. Ia tidak ingin terjadi keributan dan membuat anak-anak nya keluar.
"Mas Kamal sudah tanya langsung sama istri tercinta mas itu kenapa Nina sampai mengembalikan uangnya?" tanya Nina dengan berusaha keras menahan emosi agar tidak meledak-ledak.
"Memang perlu? Jelas kamu yang salah. Kamu pasti sengaja mengembalikan uang itu agar bisa menguasai anak-anak sendiri, agar jika aku mengajukan pengalihan hak asuh aku tidak akan menang, iya kan?!"
Seketika Nina berdiri, ia tidak mampu menahan amarahnya lagi. Ia tidak peduli jika pria di depannya itu adalah mantan suaminya, pria yang bertahun-tahun ia hormati selayaknya seorang suami, pria yang menjadi ayah dari anak-anaknya,
"Jadi mas Kamal berencana mengambil hak asuh anak-anak?" tanya Nina dengan nada tinggi, bahkan ia berkacak pinggang karenanya.
"Iya!" jawab Kamal dengan tegas pula.
"Buat apa? Sebentar lagi mas Kamal juga akan punya anak lain dari Silvi, jangan membuat semuanya semakin sulit mas," kali ini mata Nina sudah berkaca-kaca, ia tidak bisa membayangkan jika benar pria itu akan mengambil hak asuh anak-anak nya.
"Ya karena mereka anak-anak ku. Aku lihat akhir-akhir ini mereka juga tidak terurus karena kamu terlalu sibuk kerja."
"MAS!" ucap Nina dengan sedikit berteriak.
Ternyata teriakan Nina di dengar oleh scurity di depan, scurity itu pun bergegas menghampiri Nina dan Kamal,
"Ada apa mbak, apa ada masalah?" tanyanya dengan nafas tersengal-sengal.
Nina dan Kamal pun menoleh pada scurity itu, Nina pun segera tersenyum dan mencoba untuk terlihat baik-baik saja, tapi sepertinya dia lupa ada bekas air mata yang mengalir di pipinya.
"Nggak pa pa mas Fajar,"
"Beneran mbak?" tanya scurity itu khawatir.
"Iya mas, nggak pa pa."
"Baiklah kalau ada apa-apa, saya di depan loh mbak, panggil aja." ucapnya sambil melirik ke arah Kamal.
"Iya mas, terimakasih ya."
"Sama-sama mbak,"
Akhirnya kini kembali tinggal mereka berdua, Nina kembali duduk dan emosinya sedikit reda.
"Aku nggak mau tahu ya, kalau kamu sampai berulah maka aku akan mengambil hak asuh anak-anak." ucap Kamal kemudian.
"Nina nggak berulah mas, coba deh mas tanya sama Silvi kenapa sampai Nina kembalikan uangnya? Silvi bilang seng butuh banget uang," ucapnya dengan sedikit memohon.
"Nggak mungkin Silvi bilang kayak gitu. Silvi itu nggak kayak kamu, cuma bergantung sama suami. Silvi kerja, punya penghasilan sendiri."
Nina kembali menelan salivanya untuk ke sekian kali, ia mencoba untuk tetap menjaga kewarasannya.
Sebegitu rendahnya mas Kamal memandang aku selama ini ..., batin Nina menahan sakit. Ia tidak menyangka ternyata selama ini mantan suaminya berpikir seperti itu tentangnya.
"Maaf mas, Nina memang tidak sebaik Silvi. Tapi yang mas harus tahu, anak-anak butuh Nina bukan orang lain. Jadi mas sekarang pulanglah, aku tidak mau masalah ini semakin keruh, lagi pula tidak enak di dengar tetangga, sudah malam."
"Baiklah, aku akan mengantar uangnya lagi besok." ucap Kamal sambil berdiri dari tempatnya dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam.
Nina masih duduk di tempatnya sambil meratapi hidupnya yang tidak henti-hentinya cobaan yang ia hadapi.
"Astaghfirullah hal azim," segera ia beristigfar mengakui kesalahannya saat ia tanpa sadar menyalahkan sang pemilik kehidupan.
"Insyaallah, semua akan kembali baik-baik saja," ucap Nina sambil tersenyum dan menyemangati dirinya sendiri.
Sebelum anak-anak nya keluar mencarinya, Nina pun memilih untuk segera masuk.
"Akmal kayaknya tadi denger suara ayah, Bu?" tanya akmal yang berjalan hendak menghampirinya.
"Bukan kak, itu tadi tetangga dengan rumah."
"Adek mana?"
"Sudah ke kamar, tadi Akmal mau cariin ibuk, makanya Akmal keluar."
"Ya udah, ibu matiin lampu dulu, kakak susul adik ya."
"Hmmm,"
Baru berlalu setengah jam, mobil Dirga berhenti di depan pos scurity rumahnya, seperti biasa ia akan meminta scurity untuk menukar mobilnya.
"Seperti biasanya Jar," ucapnya sambil turun dan mobil dan menyerahkan kunci mobil pada pria berseragam scurity itu.
"Siap mas, " ucapnya dan membiarkan Dirga berlalu, tapi baru beberapa langkah Dirga berbalik,
"Oh iya Jar_,"
Scurity itu pun menghentikan niatnya untuk masuk ke dalam mobil,
"Iya mas?"
"Itu_," jari telunjuk Dirga menunjuk ke arah gelas minuman kosong yang masih teronggok di atas meja depan.
"Oh itu, tadi ada tamu mas. Kayaknya mantan suami mbak Nina, tadi agak terjadi keributan."
"Keributan?"
"Iya mas, kalau nggak salah suami hak asuh anak sih berdasarkan yang Fajar dengar."
Jadi pria itu ingin mempermasalahkan hal asuh anak ..., batin Dirga tiba-tiba khawatir. Ia tidak bisa membayangkan betapa terlukanya hati Nina saat ini.
"Ya udah makasih ya informasinya." ucap Dirga kemudian berlalu meninggalkan Fajar yang masih berdiri di tempatnya.
"Heran aku, aneh kadang-kadang aku pikir mas Dirga nih. Nggak mau kenal sama penyewa rumahnya, tapi perhatian banget, apa lagi sama anak-anaknya. Kayaknya itu efek kelamaan melajang deh." gumam Fajar sambil geleng kepala.
Malam ini sepertinya Dirga tidak akan bisa tidur, bukan hanya karena perkataan Fajar, ada yang lebih menggangu perasaannya di bandingkan hal itu.
"Mas Dirga pasti masih sangat terluka karena aku lebih memilih menikah dengan Remon, makanya mas Dirga nggak mau nikah ma, jadi jangan paksa mas Dirga."
Sebuah perkataan yang keluar dari bibir Wulan begitu menyakitkan dan menyinggung perasaannya. Ia merasa harga dirinya di jatuhkan karena perkataan mantan kekasih sekaligus istri adik tirinya itu.
Bukan karena ia belum bisa move on dari wanita itu tapi di usianya yang terbilang matang atau mungkin lebih matang itu, ia tidak bisa gegabah dalam menentukan pilihan, ia berharap bisa menikah hanya sekali seumur hidup.
Di tempat lain, Kamal memilih kembali pulang ke tempat istrinya. Ia harus mengambil amplop milik Nina dari istri barunya.
"Bagaimana mas? Nina memang nggak mau kan?" tanya Silvi segera menyambut kedatangan suaminya.
"Enggak, kata Nina kamu mau pinjam uang ya sama Nina?"
"Oh itu, iya mas jadi gini ceritanya tadi pagi tuh aku kan kebetulan berada di dekat rumah kontrakan Nina, aku lupa nggak bawa dompet padahal aku kan harus beli buku yang ada di toko buku tidak jauh dari rumah Nina mas, aku cuma mau pinjam sebentar, eh Nina malah marah, trus kembalikan uangnya."
"Kayaknya Nina memang sengaja mas cari masalah, lagi pula lebih baik mas nggak usah deh ada keinginan buat ambil hak asuh anak-anak."
Seketika Silvi mendapat tatapan tidak suka dari sang suami.
"Maksud Silvi tuh, kan Nina nggak ada temennya di rumah. Kalau mas mau ambil hak asuh anak-anak, dia pasti akan kesepian." segera Silvi meralat ucapanya, ia tidak ingin begitu terlihat tidak menyukai anak-anak suaminya itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...