AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
12. Sahabat terbaik



Pagi ini Nina sengaja pulang lebih cepat dari sekolah anak-anaknya. Ia sudah ada janji dengan Mita, awalnya Mita yang berniat untuk berkunjung ke tempatnya tapi mengingat kehamilan Mita yang sudah semakin besar, Nina pun menawarkan diri untuk datang saja ke rumah Mita.


“Ada apa Ta?” tanya Nina saat mereka sudah duudk bersama di teras samping rumah Mita, tempat itu memang paling favorit bagi mereka, karena drai sana mereka bisa bisa di manjakan dengan hijaunya taman di tengah kota besar seperti ini.


“Mas Bram kemarin bilang kalau ada pekerjaan buat lo,” ucap Mita antusias tapi berbeda dnegan Nina, ia justru tampak tidak begitu bersemangat, “Lo ada masalah lagi ya Na?”


“Ya begitulah.”


“Cerita dong Na, lo masih anggap gue sahabat kan?!”


“Mas Kamal ternyata sudah selingkuh sejak lama,”


“Sudah gue duga,” ucap Mita begitu begitu kesal, “Mana ada pria yang tiba-tiba mau cerai hanya gara-gara alasan nggak cinta, itu Cuma alasan klise tau nggak,”


Nina akhirnya bisa menyetujui pendapat Mita, selama ini ia masih menganggap baik soal Kamal, ia masih menganggap dirinya yang salah karena tidak bisa menjadi istri yang baiki buat suaminya.


“Lo tahu siapa selingkuhan mas Kamal?!”


“Siapa?”


“Silvi.” Jawab Nina sambil menghela nafas panjang mencoba mengurangi rasa sesak yang selalu saja muncul setiap kali ia mengingat suaminya.


“Sil_vi?” tampak Mita tengah berpikir keras, “Maksudnya Silvi temen kita? Dari kampung? Lo Cuma kenal satu Silvi kan?”


“Iya,” nina menjawabnya sambil menganggukkan kepalanya.


“Ya Allah tega banget sih tuh orang, hatinya terbuat dari apa sih dia sampai tega nyakiti lo. Lo nggak pernah sakiti dia Na,”


“Untuk menyakiti tidak perlu alasan kan?!” nina menatap jauh ke depan, ia tengah mencoba melupakan rasa sakitnya, “Mereka dulu pernah berpacaran,”


“Hahhh?” Mita benar-benar terkejut. “Lo nggak becanda kan?”


“Buat apa gue becanda Ta,”


“Iya sih.” Mita menganggikkan kepalanya menyetujui ucapan Nina, “Jadi pas kita sekolah trus lo sering curhat suka sama Kamal jadi mereka berpacaran?”


“Iya, bahkan yang paling menyakitkan mas kamal menikah sama gue Cuma sebagai pelampiasan atas sakit hatinya sama Silvi yang sudah menerima lamaran orang lain, Ta.”


“Ya ampuuuun, tega banget sih suami lo,”


“mantan Ta,”


“Iya, maksud gue gitu.”


Mereka kembali saling diam, Nina yang tengah fokus dengan kesembuhan hatinya yang begitu terluka sedangkan Mita masih tidak menyangka hal rumit dan menyakitkan menimpa sahabatnya itu.


“Tadi lo bilang ada pekerjaan, Ta? Pekerjaan apa?”


“Ahhh iya hampir lupa gue. Jadi gini, temennya mas Bram lagi butuh office girl di kantornya soalnya office girlnya baru saja mengundurkan diri satu minggu yang lalu,”


“Serius?”


“Iya Na, dan gajinya lumayan, standart UMR lah pokoknya.”


“Serius? Tugas gue apa? Gue nggak punya pengalaman kerja sama sekali,”


“Jangan khawatir, entar lo di sana bakal di arahin sama senior. Kerjaan office girl biasanya sih hampir sama kayak pekerjaan rumah Na, jadi lo pasti bakal bisa. Lo tinggal bilang bisa, entar gue ngomong sama mas Bram, gimana?”


“Tapi kalau gue kerja, anak-anak gimana?”


“Gampang, ada gue. Lo tinggal jemput trus lo titipin aja di sini, jemput lagi pas lo pulang kerja. Anak lo juga anteng-anteng, gue nggak bakalan kesusahan ntar.”


“ya Allah Ta, gue bener-bener nggak enek sama lo, gue ngrepotin lo terus.”


“Apaan sih Ta, lo itu yang gue miliki selain anak-anak.”


“Nah …, tuh tahu,”


“tapi Ta_,”


“apalagi?”


“Suami lo? Apa dia nggak bakal keberatan kalau lo ngurus anak-anak gue?”


“Justru mas Bram yang ngasih saran begitu sama gue,”


“Ya ampun Ta, ggue nggak tahu harus berkata apa lagi, lo benar-benar sahabat terbaik gue.”


“Santai aja kali Na,”


Mereka terus mengobrol kesana kemari hingga saatnya Nina menjemput anak-anaknya barulah Nina berpamitan pulang.


***


“Besok ibuk sudah mulai bekerja, kakak sama adek di rumah bibi Mita nggak pa pa ya selama ibu kerja, entar pas pulang ibuk jemput lagi.” Ucap Nina sembari membonceng dua buah hatinya, seperti biasa Sasa berada di depan dan Akmal duduk dinjok belakang sambil melingkarkan tangannya di pinggang Nina.


“Kan ayah sudah kerja buk, kenapa ibuk juga kerja?” pertanyaan polo situ berhasil keluar dari bibir mungil Sasa, mugkin itu lebih tepat di katakana sebagai bentuk protes dari pada sebuah pertanyaan.


“Nggak pa pa dek, kan kasihan kalau ayah kerja sendiri. Apalagi biaya sekolah kakak sama adek kan semakin haru semakin mahal jadi ibuk juga harus bantu-bantu ayah kan? Lagi pula ibuk bosan di rumah saja tampa melakukan apapun, apalagi kalian juga sekolah. Sebentar lagi kalian juga pulangnya sore kan dari sekolah.”


“Tapi Sasa kalau nggak ada ibuk pasti kesepian, nggak ada yang temani Sasa main boneka.” Sasa masih tampak keberatan dengan keputusan Nina yang hendak bekerja.


“”Nanti biat kakak yang temani,” celetup Akmal dengan suara lebih keras agar suaranya bisa di dengar oleh adiknya.


“Biasanya kakak nggak mau kalau Sasa ajak main boneka,” protes Sasa pada sang kakak.


“Nanti biar kakak temani, jadi biarin ibuk kerja yang dek, lagi pula sudah ada bibi Silvi, pasti ayah lupa sama kita,”


Mendengar yang di katakana oleh Akmal hampir saja Nina mengerem motornya dengan kuat, beruntung ia bisa mengendalikannya.


“Akmal, bicaranya kok gitu. Ibuk ngak pernah ngajarin kakak bicara seperti itu ya,”


Sepertinya Akmal tahu jika Nina marah padanya, ia memilh kembali diam dan Nina pun kembali melajukan motornya.


Laju motornya melambat saat melihat sebuah mobil terparkir di bahu jalan depan rumah kontrakannya. Ia cukup mengenali mobil itu, pasalnya mobil itu sudah cukup lama terparkir di garasi rumah kontarkan lamanya, bahkan dia yang sudah mengadakan tasyakuran saat itu, saat mobil impian suaminya akhirnya terbeli juga.


“Itu mobil ayah, buk.” Ucap Sasa begitu bersemangat, “Horeeee, ayah pulang.” lanjjtnya lagi, berbeda dengan Sasa, justru Akmal terlihat kesal dengan keberadaan pria yang menunggunya di teras rumah itu.


Nina segera menghentikan motornya tepat di halaman rumah yang cukup luas itu,


“Hati-hati dek, turunnya.” Nina segera memperingati Sasa saat gadis kecilnya itu tampak terburu-buru turun dari motor.


Baru saja hendak berjalan menghampiri sang ayah sangat ia rindukan itu, tiba-tiba tangannya di tahan oleh Akmal, “Masuk dulu dek, ganti baju.”


“Nggak mau kak, Sasa mau sama ayah.”


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...