
"Bagaimana, apa Akmal hari ini senang?" tanya Nina saat ia menghentikan motornya tepat di lampu merah. Terlihat bagian depan Nina penuh dengan bungkusan makanan dan juga paparbag yang berisi hadiah untuk kedua anaknya.
"Suka buk," ucap Akmal bersemangat, "Sayang nggak ada ayah," lanjutnya dengan nada lirih tapi masih bisa di dengar oleh Nina.
Beruntung lampu berganti menyala hijau sebelum nin sempat menimpali ucapan Akmal.
Rasanya begitu sakit, meskipun mungkin ia bisa membahagiakan anak-anaknya tetap saja ia tidak bisa menggantikan posisi ayah di hati anak-anaknya.
Hingga akhirnya mereka kembali ke rumah tepat jam tujuh malam.
"Buk, itu kayaknya mobil ayah?" ucap Sasa membuat perhatian Nina teralihkan pada sebuah mobil yang terparkir di depan pagar masuk dan benar saja saat ia mencari-cari ternyata pria itu tengah duduk di teras rumah.
Melihat kedatangan Nina dan anak-anak, Kamal pun segera berdiri menyambut mereka.
"Assalamualaikum," sapa Nina begitu turun dari motor dan berjalan menghampiri Kamal bersama anak-anaknya.
"Waalaikum salam," jawab Kamal ketus. Tapi Nina tidak heran, semenjak menjadi mantan memnag Kamal tidak pernah menampakkan wajah bersahabat padanya tidak seperti saat rumah tangga mereka masih harmonis dulu. Wajah hangat, penuh perhatian itu sudah tidak ada lagi.
"Salim sama ayah!" perintah Nina pada anak-anaknya dan tanpa banyak tanya Akmal dan Sasa langsung menyalami sang ayah.
"Sudah lama mas?"
"Kalian dari mana saya sih? Aku tanya Mita, dia nggak tahu kalian kemana, aku sudah nunguin kalian sejak tiga jam lalu." cerocos Kamal dengan wajah kesalnya.
"Habis makan mas, sambil ngerayain ulang tahunnya Akmal."
"Kamu kok nggak nunguin saya sih, kamu sudah nggak nganggap aku ayahnya anak-anak?"
"Nggak gitu mas, Nina pikir mas nggak pulang. Jadi Nina berinisiatif buat ngrayain sama anak-anak sendiri."
"Aku bela-belain ijin hari ini buat ngrayain ulang tahun Akmal. Tapi malah jadinya gini, padahal aku langsung ke sini tadi, dan nanti langsung kembali ke pelabuhan. Aku bahkan bilang sama Silvi kalau aku nggak pulang," ucapnya sambil duduk dengan wajah kesal, meletakkan begitu saja kado yang ia bawa untuk akmal.
Melihat wajah kecewa dari sang ayah, Akmal pun mendekat dan mengambil kado itu,
"Terimakasih ya yah kadonya, Akmal pasti sangat suka." ucapnya membuat Kamal mendongakkan kepalanya menatap sang putra yang tersenyum padanya, hari Kamal pun sedikit terobati.
"Kalau ayah tidak keberatan, Akmal mau diajak ayah jalan-jalan sambil makan bakso di dekat gang itu."
"Katanya Akmal sudah makan?" tanya Kamal sambil menoleh pada Nina.
"Iya, tapi Akmal masih lapar." ucap akmal sambil mengusap perutnya.
Masih ingat sekali, Akmal lah yang paling getol minta Nina untuk membungkus saja sebagian makanannya karena perutnya sudah sangat kenyang.
"Baiklah ayah mau." Kamal pun kembali tersenyum, ia menoleh pada Sasa, "Adek, apa adek juga mau ikut?" tanyanya pada Sasa.
Sasa menggelengkan kepalanya, "Sasa ngantuk ayah, Sasa juga sudah kenyang."
"Baiklah, ayah pergi sama kakak ya."
Sekali lagi Sasa mengangukkan kepalanya.
Kini akmal dan Kamal sudah berada di dalam mobil, mereka hanya keliling sekeliling komplek dan berhenti di kedai bakso tenda yang ada di pinggir gang,
"Akmal mau pesan apa?"
"Bakso seperti biasanya ayah, ayah masih ingat kan kesukaan Akmal?"
"Ingat dong kak."
Akmal benar-benar bisa menghargai perasaan orang lain, meskipun saat ini perutnya sudah kenyang tapi ia masih bisa makan dengan lahap bersama ayahnya. Ia seperti kembali mengenang masa-masa bersama sang ayah. Bercanda tawa hanya berdua dengan sang ayah, dulu sebelum mereka bercerai Akmal dan Kamal sering menghabiskan waktu berdua saat sang ayah pulang sebagai sesama laki-laki.
Tidak heran meskipun usianya masih sangat kecil tapi dia punya sikap tegas seperti sang ayah dan sikap lembut seperti sang ibu.
Meskipun gagal menjadi suami yang baik, tapi bagi anak-anak nya, Kamal adalah ayah yang baik selama ini dan untuk kedepannya harapan itu akan tetap sama.
Seseorang tengah memperhatikan mereka dari balik mobilnya, dia Dirga. Dirga yang baru saja pulang dari kantor tanpa sengaja melihat Akmal dan ayahnya tengah bercanda tawa begitu akrab di kedai pinggir jalan.
Melihat pemandangan itu, terbesit rasa iri di hati Dirga. Ia membayangkan saat dirinya di posisi itu, Akmal bersama dirinya.
"Terimakasih ya mas udah bawa Akmal jalan-jalan," ucap Nina sebelum Kamal berpamitan pulang.
"Itu sudah menjadi tugasku, assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Nina melambaikan tangannya mengantar kepergian mobil Kamal.
Hehhhhh
Sebuah helaan nafas panjang mengiringi tatapannya yang tertuju ke arah lantai dua.
Ia bisa melihat bayangan seseorang tengah beraktifitas di dekat jendela,
"Pemilik rumah sudah pulang. Kenapa aku tidak mendengar mobilnya masuk?" gumamnya, ia juga tidak menemukan mobilnya terparkir di sana,
"Mungkin mobilnya mogok,"
Nina pun memilih masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya, pasalnya sekarang sudah jam setengah sepuluh malam.
"Kak, belum tidur?" tanya Nina saat mendapati putranya masih mondar-mandir.
"Ini buk_," ucap Akmal ragu.
"Ada apa kak?"
"Akmal kekenyangan, nggak bisa tidur. Akmal harus apa ya buk."
"Baiklah, kakak duduk dulu. Biar ibuk temenin sampai perut kakak sudah terasa nyaman."
"Baik buk,"
Akmal pun akhrinya memilih duduk di samping sang ibu, Nina segera mengusap perut sang putra agar sedikit nyaman hingga akhrinya Akmal tertidur di pangkuan Nina.
"Ibuk nggak sadar kalau kakak ternyata sudah besar, ibuk bangga sama kakak. Semoga kelak kakak dipertemukan dengan orang-orang yang selalu menyayangi kakak," tanpa sadar Nina menitikkan air matanya sambil mengusap rambut sang putra dengan lembut.
Ia benar-benar tidak menyangka jika perceraiannya akan sangat berdampak pada anak-anaknya.
***
Sasa terus memperhatikan sang kakak yang tidak henti-hentinya mengusap maian robot di tangannya, "Itu kado dari ayah ya kak?" tanya Sasa penasaran.
Akmal pun menoleh pada sang adik dan mengangukkan kepalanya sambil tersenyum,
"Bagus kan dek?"
"Kakak kan belum buka hadiah yang dari restoran,"
Memang benar, bahkan Akmal belum menyentuh hadiah yang ia dapat dari restoran ia terlalu fokus pada hadiah yang di berikan oleh ayahnya, sebuah robot-robot an yang tampaknya memang tidak mahal.
"Nggak pa pa dek, tapi yang dari ayah lebih berharga. Meskipun murah tapi ada kenangannya sama ayah, kayak boneka kucel adek, kenapa tiap malem masih di kelonin, kan jelek, masih ada banyak boneka yang lebih bagus?"
"Karena itu di kasih ayah pas Sasa sakit kak, makanya Sasa sayang banget."
"Ya kayak gitu, kakak juga kayak gitu."
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...