AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
56. Dia pengecut



Nina tidak pulang, ia menemui seseorang di pelabuhan. Sekarang matahari sudah hampir tenggelam hingga menyisakan sinar kemerahan di ufuk barat.


"Mas, aku kamu bicara,"


Kamal yang baru saja keluar dari kantor menoleh ke sumber suara. Nina berdiri sendiri di dermaga, bahkan bayangannya tidak terlihat begitu jelas karena suasana hampir gelap.


Kamal mengerutkan keningnya, menyakukan kedua tangannya di saku celananya,


"Kenapa ke sini?" tanyanya dengan begitu datar.


Plakkkk


Kamal begitu terkejut saat Nina tiba-tiba menampar wajahnya hingga ia reflek memegangi pipinya yang terasa panas.


"Apa yang kamu lakukan?" kali ini nada bicara Kamal sedikit meninggi agar rekan kerjanya tidak melihat keributan antara mereka. beruntung keadaan sudah sepi.


Nina mengepalkan tangannya, ia sudah menyimpan emosinya ini sekian tahun,


"Apa yang Nina lakukan tidak lebih sakit dari yang mas Kamal lakukan."


Nina mendongakkan kepalanya menatap wajah pria yang pernah menjadi pusat hidupnya,


"Kenapa mas?" tanyanya kemudian dengan suara yang lebih rendah dari sebelumnya, terdengar pertanyaan itu memendam luka yang dalam yang telah tersimpan lama.


"Karena kamu pantas mendapatkannya."


Entah kenapa jawaban dari Kamal membuat emosinya semakin memuncak. Ia mengerahkan tenaganya untuk memukul dada Kamal dengan keras hingga membuat tubuh Kamal terhuyung ke belakang.


"Hahhh, pengecut kamu mas." air mata yang penuh dengan emosi itu tidak terbendung lagi.


"Pengecut?"


"Kenapa? Nggak terima? Kamu hanya memanfaatkan aku mas untuk mengambil hati orang tuaku. Untuk memulyakan keluargamu sendiri mas, apa itu tidak pantas di sebut sebagai pengecut?"


Kamal mengangkat tangannya, hampir saja menampar wajah Nina, bukannya takut, Nina malah menyodorkan wajahnya.


"Tampar saja kalau kamu berani, maka akan semakin menunjukan berapa pengecutnya kamu Kamal, karena hanya pengecut yang menindas wanita."


"Kali ini aku sabar ya," ucap Kamal dan Nina hanya memiringkan bibirnya tidak percaya. "Sekarang pergilah!" perintah Kamal lagi.


"Nina tidak akan pergi sebelum mendapat jawaban dari kamu." Nina tidak lagi menggunakan panggilan mas seperti biasanya. Ia merasa panggilan itu sungguh tidak pantas di tujukan pada pria yang sudah mengahncurkan hidupnya itu.


"Jawaban apa?"


"Kenapa kamu begitu tega menghancurkan hidupku? Kenapa kamu masuk ke dalam hidupku kemudian pergi begitu saja? Kenapa?"


"Kamu sudah tahu jawabannya." ucap Kamal dengan begitu datar. Nina kembali tersedu, ia begitu merasa prihatin dengan dirinya sendiri. Ia mengasihani dirinya sendiri yang pernah mencintai pria seogois Kamal.


"Kau sengaja membuatku terpuruk, kau sengaja membuatku begitu putus asa seperti ini, apa maumu?" teriak Nina sambil berkali-kali memukul dada Kamal dengan tangannya.


"Tidakkah cukup dengan pergi dari hidupku? Kenapa harus anak-anak juga? Kenapa harus sehancur ini hidupku? Apa maumu?"


"Jika kamu ingin aku pergi, aku akan pergi sejauh mungkin yang kamu tidak bisa menjangkaunya tapi please jangan ambil anak-anak dariku, hanya mereka yang aku punya. Aku mohon!" kali ini Nina sampai harus berlutut di depan Kamal sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Jangan harap dengan kamu melakukan semua ini, aku akan mencabut tuntutanku. Itu tidak akan pernah terjadi."


Meskipun Nina sudah merendahkan diri di hadapannya, Kamal tetap dengan kerasnya. Ia memilih berlalu begitu saja meninggalkan Nina yang sudah menjatuhkan tubuhnya di tanah sambil menangis sesenggukan.


Hiks hiks hiks


Nina memukuli dadanya yang terasa sesak, ia bahkan tidak yakin bisa tersenyum saat bertemu dengan anak-anak nya nanti.


Rasanya percuma apa yang ia lakukan saat ini, pria itu begitu keras hatinya. Ia benar-benar tidak ingin bertemu dengan anak-anak nya hari ini, Nina tidak ingin anak-anaknya melihat dirinya dalam keadaan yang begitu kacau.


***


Dirga sudah mondar mandir di depan rumah, ia menunggu kedatangan Nina. Bahkan ponsel wanita itu tidak bisa di hubungi sedangkan saat ia menghubungi ke rumah sakit, Bram mengatakan jika Nina sudah pulang sejak tiga jam yang lalu.


Perasaan Dirga berubah cemas, mencoba untuk tetap tenang ia terus menunggu hingga waktu yang tidak bisa di tentukan.


Dan ponselnya berdering, nomor seseorang yang ia kenal muncul di layar ponselnya dengan cepat Dirga menggeser tombol terima dan menempelkan benda pipih itu di daun telinganya.


"Bagaimana?"


"Saya sudah menemukan keberadaan Bu Nina, saya juga sudah mengirimkan foto-foto nya pada bapak."


"Awasi saja dia. Jangan lakukan apapun jika tidak membahayakan."


"Baik pak."


Sambungan telpon terputus, Dirga pun segera mengecek foto yang di kirim oleh anak buahnya. tangannya mengepal sempurna melihat foto-foto dan potongan video itu.


Dirga kembali menunggu sambil menanti kabar dari anak buatnya. Hingga akhirnya sebuah taksi berhenti di depan gerbang rumahnya. Perasaan Dirga segera tenang saat melihat wanita yang turun dari mobil itu. Dia wanita yang telah ia tunggu sejak berjam-jam lalu.


"Pak Dirga," Nina sedikit terkejut, sepertinya ia baru teringat jika menitipkan anak-anaknya pada pria itu,


"Maaf ya pak sudah membuat pak Dirga repot. Terimakasih untuk hari ini." ucap Nina sambil membungkukkan badannya.


"Ada yang ingin saya bicarakan denganmu, bisa kan kita bicara sebentar?" tanya Dirga.


"Tentu pak, saya tahu."


Akhrinya mereka memilih duduk di teras.


"Bapak pasti ingin membicarakan soal tadi siang kan?"


"Kamu tahu?" Dirga cukup terkejut karena Nina bisa menebak arah pembicaraan mereka.


"Tentu, maaf ya pak Nina memang tidak pernah kepikiran untuk menyewa lawyer. Tapi insyaallah nanti Nina akan usaha biar bayar pak Dirga sebagai lawyer Nina."


Meskipun dalam keadaan seperti ini, Dirga harus menahan senyumnya. Ternyata Nina salah faham dan segara ia mengendalikan mimik wajahnya,


"Maaf, tapi bukan itu yang ingin saya bicarakan."


Kini gantian Nina yang mengerutkan keningnya.


"Soal permintaan yang akan kamu penuhi beberapa waktu lalu, boleh kan saya meminta sekarang? Tapi jangan khawatir, kamu bebas menolaknya, tapi sebelum menolak akan lebih baik jika kamu memikirkannya dulu."


"Maksud pak Dirga?"


"Sepertinya kita harus menikah!"


Seketika Nina terperanjat hingga berdiri dari duduknya.


"Pak, saya sudah banyak masalah. Jadi jangan menambahnya lagi pak."


"Saya hanya sedang mencari solusi untuk masalah ini."


"Maksud pak Dirga apa?"


"Kamu masih ingat kan persidangan tadi siang. Jelas di sebutkan dan di permasalahkan dalam persidangan itu adalah soal status kamu yang belum menikah. Kalau masalah penghasilan dan lain-lain, kita mampu mematahkan pendapat mereka. Asal kamu sudah menikah dan memiliki suami kita bisa balik menuntut mereka atas tuduhan perselingkuhan asal kamu bisa menunjukkan bukti-buktinya."


Nina terdiam dan kembali duduk,


"Bagaimana?"


"Aku akan memikirkannya lebih dulu."


"Baiklah, aku akan kembali ke atas. Tidurlah, sampai bertemu besok."


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari ini


...Happy Reading 🥰🥰🥰...