AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
6. Masih Cemburu



“Mas, aku ke makam bapak sama ibuk dulu ya.” Ijin Nina sebelum mereka kembali ke kota. Kini tidak ada lagi tempatnya singgah selain makam kedua orang tuanya. Dan mungkin nanti tempat ini akan tampak asing saat ia tidak akan sesering itu kembali ke desa.


“Baiklah, aku tunggu di mobil sama anak-anak ya.”


Nina menghela nafas, sempat ada pikiran negative tapi segera ia singkirkan. Mungkin Kamal tidak ingin ikut turun karena anak-anak sendiri di mobil. Akhirnya Nina hanya bisa menganggukkan kepalanya dan turun dari mobil sendiri, ia singgah sebentar di penjual bunga. Membeli dua keranjang bunga dan berjalan sendiri ke dala area makam. Beruntung makan ibuk dan bapaknya bersebalahan, ia tidak perlu berpindah tempat saat nyekar.


Sebuah doa terlantun dari bibir Nina untuk kedua orang tuanya, meskipun ingin ia tidak mau menceritakan keluh kesahnya pada kedua orang tuanya. Jilbab segi empatnya berkibar saat terterpa angina, matahari hari ini cukup terik membuat sesekali Nina menutup matanya karena silau.


Setelah mengakhiri doanya, Nina pun kembali melangkah keluar makam. Tapi baru beberapa langkah, seseorang menghentikan langkahnya.


“Permisi,” seorang pria dengan pakaian rapi berdiri tidak juah dari tempatnya, kaca mata hitam yang bertengger di batang hidungnya menutup sebagian wajahnya, apalagi terlalu silau karena kemeja putih bersih yang pria itu kenakan hingga mengaburkan pandangan Nina.


“Iya?”


“Beberapa hari lalu ada yang di makamkan di sini, apa mbak tahu di mana makamnya?” jelas pria itu bukan penduduk asli desa, pakaiannya juga bukan pakaian yang biasa di pakai oleh orang desa, ia juga memakai sepatu vantofel khas kantoran.


“Maaf, saya juga tidak tinggal di sini. Mungkin mas bisa tanya sama juru kunci makam, kalau tidak salah rumahnya di samping makam ini mas.”


“Oh gitu! Baiklah, terimakasih ya mbak.”


“Sama-sama,”


“Kalau begitu saya permisi,” ucap pria itu dan Nina menganggukkan kepalanya, semribit parfum menyeruak ke lubang hidung Nina saat angina berhembus sedikit kencang. Aromanya begitu khas hingga tanpa sadar Nina mengagumi aroma itu.


***


“Tadi siapa?” tanya Kamal saat mobil sudah mulai berjalan meninggalkan makam. Nina kembali berpikir hingga ia teringat dengan pria yang menanyakan makam baru tadi.


“Nggak tahu, tanya makam baru.” Jawab Nina dengan santai sambil membukakan minuman untuk Akmal yang kebetulan meminta minum.


“Nggak kenal kok ngobrolnya lama?” ingin senang dan meledek pria di sampingnya jika tengah cemburu tapi semuanya sudah berbeda, walaupun bibirnya ingin sekali tersenyum dengan sekuat tenaga ia tahan.


“Ya tadi tanya, tapi mas Kamal kok tahu kalau Nina ngobrolnya lama?” tanya Nina sambil memiringkan kepalanya.


“Bukan gitu, tadi lama jadi aku berencana buat nyusul.”


“Aku kan nggak bilang apa-apa mas. Kalau pun gitu juga nggak pa pa,” ucap Nina dengan tersenyum tapi dengan cepat ia memalingkan wajahnya ke tempat lain sebelum Kamal menyadarinya.


Benar saja,rupanya Kamal tengah salah tingkah. Bohong jika sama sekali tidak ada rasa, delapan tahun yang telah mereka lalui bersama tidak mungkin tanpa menyimpan rasa. Meskipun kenyataan itu tidak bisa merubah apapun.


***


“Ayah cepat sekali perginya ya buk.” Bibir mungil Akmal terus saja mengoceh sebelum ia terlelap, tangan lembut Nina kini tengah mengusap rambut putranya itu. Ia berada di antara buah hatinya dengan posisi setengah tidur, Sasa sudah terlelap bahkan saat di mobil. Kamal langsung berpamitan untuk pergi setelah menurunkan Nina dan anak-anaknya membuat Akmal sedikit kecewa.


“Ayah kan sedang terburu-buru, kak. Nanti kalau ayah sudah nggak sibuk pasti nemenin kakak sama adek.”


“Tapi kan biasanya ayah masih sempet nunggu Akmal sama Sasa tidur, buk.” Protes Akmal.


‘Belum benar-benar pisah aja perhatian mas sama anak-anak sudah beda, mas.’ Rasanya kembali teriris, ingin rasanya menceritakan semuanya pada Akmal. Tapi ia belum merasa sanggup untuk menyakiti hati anak-anaknya.


“Mungkin memang terburu-buru kak, ya udah kakak tidur ya sudah malam, jangan sampai terlambat bangun, ibuk akan antar kakak ke masjid besok pagi buat sholat shubuh, gimana?”


“Nggak enak kalau nggak ada ayah.” Ucap Akmal ketus sambil menarik selimutnya dan menutup seluruh tubhnya dengan selimut tanpa menyisakan sedikitpun.


Tidak ada jawaban dari Akmal, walaupun Nina tahu saat ini Akmal belum tidur tapi Nina tidak ingin memaksa akmal untuk bicara.


“Selamat malam, kak.”


Nina memilih turun dari tempat tidur dan mematikan lampu kamar, ia meninggalkan kamar anak-anaknya dan pergi ke kamarnya sendiri.


Seperti malam-malam sebelumnya, Nina kembali menangis. Rasanya begitu berat saat kembali menyadari kenyataanya bahwa semuanya akan segera berakhir.


***


“Kenapa harus pindah sih, Na?” Mita tengah menemani Nina melihat kontrakan barunya.


“Lo bayangin aja deh, Ta. Setiap malam gue harus nangis saat ingat bagaimana hari-hari yang sudah gue lewati bersama mas Kamal selama ini di rumah itu, itu benar-benar menyakitiku tahu.”


Hehhhh ….., Mita menghela nafas panjang. Ia bisa mengerti bagaimana perasaan Nina saat ini, ia juga besar dari keluarga yang broken home. Ayah ibunya bercerai saat ia masih duduk dinbangku sekolah dasar. Ia tahu jika orang tuanya bercerai tapi ia memilih pura-pura tidak tahu untuk menutupi lukanya hingga ibunya datang padanya dengan membawa seorang pria yang ia kenalkan sebagai suami barunya dan itu rasanya begitu sakit.


“Maaf ya Na, ini kontrakannya agak beda dari yang lain.”


“Kalau gue sih sebenarnya nggak masalah, Ta. Memang pemilik rumah nggak akan terganggu kalau ada anak-anak?”


“Kalau itu jangan khawatir Na, soalnya kalian punya wilayah sendiri-sendiri. Kalian akan menempati rumah lantai satu, sedang pemiliknya lantai dua. Pemiliknya nggak suka masak, jadi dia hanya akan di rumah pas malam hari. Jadi jangan khawatir karena pemiliknya temennya mas Bram.”


“Jadi dia dosen?”


“Ya begitulah, dia anak pemilik kampus.Dia juga pengusaha, jadi jarang pulang makanya rumahnya sama orang tuanya sengaja di sewakan biar nggak sepi.”


“Kok jadi ngeri ya.’ Tiba-tiba Nina bergidik ngeri.


“Ngeri kenapa?”


“Nggak angker kan?”


“Ya allah Na, sudah rajin sholat masih juga takut sama begituan.”


“Ya siapa tahu Ta, kan biasanya rumah gedongan angker.”


“Sudah nggak jaman, Na. Gimana, mau ya? Gue sudah terlanjur bilang sama mas Bram kalau lo mau.” Mita tampak memohon.


“Ya udah deh, gue coba.”


“Nah, gitu dong!”


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...