AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
13. Sakit yang tak berdarah



Baru saja hendak berjalan menghampiri sang ayah sangat ia rindukan itu, tiba-tiba tangannya di tahan oleh Akmal, “Masuk dulu dek, ganti baju.”


“Nggak mau kak, Sasa mau sama ayah.”


“Kamu nggak lihat ayah sama siapa,” ucap Akmal sambil menatap tajam pada wanita yang berdiri di belakang ayahnya, seketika Sasa melemah, ia tidak lagi meronta dan mengikuti kakaknya.


“Akmal, Sasa, sini peluk ayah. Ayah bawakan oleh-oleh buat kalian.”ucap Kamal begitu Akmal dan saya mendekat ke arahnya. Tapi Akmal segera menyembunyikan adiknya di belakang punggungnya.


“Kasih saja sama dia, yah. Kami nggak butuh itu.” ucap Akmal dengan ketus sambil melirik tajam pada wanita yang berdiri tepat di samping Kamal.


“Akmal!” Kamal tidak suka dengan ucapan putranya itu hingga ia meninggikan suaranya, bukannya meminta maaf atau menyesali ucapannya, Akmal memilih berlalu begitu saja membawa adiknya masuk ke dalam rumah.


Nina yang menyaksikan hal itu pun segera menghampiri mantan suaminya itu,


“Ini pasti kamu yang mengajarinya!” ucap Kamal kesal membuat Nina tidak percaya, ia benar-benar tidak percaya pria itu menyalahkan dirinya atas kesalahan yang ia lakukan sendiri.


“Mas benar-benar menyalahkan saya atas sikap Akmal?” tanya Nina masih tidak percaya.


“Iya,” ucap Kamal dengan begitu pasti, “Siapa lagi kalau bukan kamu, kamu pasti yang menghasut mereka untuk membenciku.”


Isstttt, Nina berdesis. Ia bahkan tidak mampu lagi harus berkata apa. Ia benar-benar seperti tidak mengenali pria itu lagi saat ini, dia bukan pria yang selalu bersikap dewasa yang biasanya, yang delapan tahun ini telah hidup bersamanya.


“kalau kedatangan mas ke sini hanya untuk menyalahkan aku, silahkan pergi dari sini. Aku sudah cukup sulit dengan kehidupanku, jadi jangan mas tambah lagi dengan hal yang nggak menyenangkan ini.”


“Kamu_,” Kamal hampir saja membentaknya tapi segera Nina memotong ucapannya.


“Nina bukan istri mas lagi, jadi mas nggak punya hak untuk membentak Nina lagi.” Ucap Nina dengan tegas. Memang Kamal suami yang baik tapi tak jarang Kamal juga membentak Nina setiap kali Nina melakukan kesalahan atau suatu hal yang Kamal anggap salah.


“Sudah mas, jangan buat keributan di sini, kita pergi dulu aja ya mas, kita kembali lagi kalau suasana hati anak-anak mas sudah kembali baik,” ucap Silvi sambil menahan tangan Kamal yang sudah mengepal sempurna.


“Baiklah,” akhirnya Kamal sedikit luluh, ia meletakkan dua paper bag di tangannya ke meja kecil yang ada di belakangnya, sakit sebenarnya hati Nina saat melihat kenyataan di depan matanya sendiri kalau pria yang sudah mengisi hidupnya cukup lama lebih mendengar orang lain dari pada dirinya dan buah hatinya,


“titip buat anak-anak,” ucapnya seolah tidak berminat lagi memegang tangan Nina hingga ia tidak menyerahkan langsung pada wanita yang sudah menghadirkan dua malaikat lucu dalam hidupnya itu.


Kamal pun melangkahkan kakinya hendak meninggalkan rumah Nina, tepat saat Silvi berdiri sejajar dengan Nina ia menghentikan langkahnya.


“Maaf ya Nin, sudah ganggu kamu.”


Nina masih tetap diam hingga Silvi pun kembali melanjutkan langkahnya menyusul Kamal yang sudah berjalan lebih dulu.


“Lain kali jika ingin mendapatkan hati anak-anak, sebaiknya mas Kamal datang sendiri ke sini,”


Ucapan Nina itu berhasil menghentikan tangan Kamal yang hendak menarik handle pintu mobil, tapi ia tidak bermaksud untuk kembali berbalik menatap Nina. Hanya dalam hitungan detik Kamal kembali melangkah dan masuk ke dalam mobil di susul dengan Silvi yang masuk dari pintu lain.


Sedangkan Nina, segera setelah mobil Kamal pergi ia segera masuk ke dalam rumah tidak lupa membawa paper bag yang di bawa kamal untuk anak-anaknya dan mencari keberadaan mereka. Rupanya mereka tengah berada di dalam kamar.


Hehhhh …..


Nina menghela nafas sebelum akhirnya berjalan mendekati anak-anaknya. Tidak lupa ia juga menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyum.


“Sayang, ayah bawakan oleh-oleh buat kalian, siapa yang mau buka?” ucap Nina sambil tersenyum ceria dengan kedua tangan yang membawa paper bag kecil itu di angkat hingga di atas rata-rata air.


Tidak ada yang merespon ucapannya, mereka tetap dengan kegiatannya membuat Nina terdiam, perlahan senyumnya memudar, tangannya perlahan turun dan ia pun meletakkan paper bag itu di atas tempat tidur.


Nina pun menghampiri kedua buah hatinya dan ikut duduk, “kakak, adek, kalian marah ya sama ibuk?” tanya Nina membuat Akmal maupun Sasa menggelengkan kepalanya.


“Terus kenapa di panggil ibuk nggak ada yang jawab?”


“Sasa nggak suka ayah dekat-dekat sama bibi itu, buk.” Akhirnya Sasa berbicara, ia juga mendongakkan kepalanya menatap Nina.


Hati Nina semakin teriris mendengar ucapan Sasa, jika dirinya saja masih begitu berat mengetahui kenyataan ini, bagaimana dengan kedua buah hatinya. Mereka pastilah lebih terluka dari yang ia rasakan saat ini.


“Sini peluk ibuk,” ucap Nina sambil merentangkan kedua tangannya dan Sasa pun berhambur memeluk Nina tapi Akmal masih bertahan di tempatnya ia sama sekali bergeming,


“Kak,” panggil Nina dan akhirnya anak laki-lakinya itu pun tak mampu menahan diri dengan egonya, ia juga berhambur memeluk sang ibu.


“Buk, kenapa ayah jahat sekali?” pertanyaan itu lolos juga dari bibir Akmal.


Nina mengusap punggung kedua buah hatinya, “Enggak sayang, ayah nggak jahat sama adek, sama kakak. Ayah itu sayang banget sama kalian, hanya saja ada beberapa urusan orang dewasa yang memang belum waktunya kakak tahu, dan yang wajib untuk kakak ingat adalah bahwa ayah begitu menyayangi kalian. Meskipun mungkin sekarang ada bibi Silvi, tapi percayalah sayang ayah tidak pernah berkurang.”


“Tapi kita sudah bahagia kan bu, kita sudah bahagia tanpa bibi Silvi, Akmal nggak suka sama bibi Silvi.”


Nina melepas pelukan kedua anaknya, ia mengatupkan kedua tangannya di kedua bahu Akmal sambil tersenyum,


“Kakak hanya belum terbiasa saja, bibi Silvi orang yang baik.” Ucap Nina, meskipun bibirnya tersenyum tapi saat ini hatinya merintih, ia tidak menyangka akan mengatakan hal itu pada buah hatinya.


Ia nanti akan berbagi dengan seseorang, bukan hanya suaminya yang di ambil. Mungkin nanti anak-anaknya juga akan menyukai wanita yang telah membuat rumah tangganya berakhir, dan rasanya akan lebih menyakitkan dari pada melepaskan suaminya,


“Nanti kalau sudah terbiasa, kakak pasti akan suka sama bibi Silvi,” ia tidak menyangka akan benar-benar mengatakan hal itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...