
"Mas, kapan pulang?" pertanyaan itu muncul dari bibir Silvi saat ia melakukan panggilan pada suaminya.
"Kenapa sayang? kemarin kan baru cuti beberapa hari, mungkin akan sedikit tertunda liburnya." ucap di seberang sana, seketika wajah Silvi tampak kecewa. Pasalnya ia sudah tidak sabar dengan keputusan sang suami setelah ia meminta suaminya untuk memperjuangkan hak asuh anak-anaknya dari mantan istrinya.
"Padahal aku sudah nggak sabar mas, kangen banget."
"Sabar ya, Minggu depan aku pulang."
"Serius mas?"
"Iya, kamu mau oleh-oleh apa?"
"Buat Kila aja mas,"
"Sudah. Mas juga sudah belikan boneka juga buat Kila dan Sasa, mereka pasti senang nanti. Kalau buat Akmal, mas sudah belikan tab baru karena katanya kemarin butuh tab buat ngerjain tugas sekolah."
Selalu saja buat mereka, batin Silvi kesal tapi ia mencoba untuk mengendalikannya.
"Kalau saranku jangan deh mas, Akmal masih terlalu kecil kalau pegang tab sendiri. Takutnya nanti malah di buat gaya sama Nina, mending nanti aja kalau mereka sudah tinggal sama kita, kita bisa belikan tab atau laptop sekalian biar enak belajarnya."
"Begitu ya!? Baiklah, kalau gitu biar mas simpen aja deh."
"Bawa pulang aja mas nggak pa pa, biar Silvi yang simpen. Kan sayang juga kalau sudah terlanjur di beli."
"Baiklah, gimana enaknya kamu."
***
"Pak, hari ini saya mau ijin." ucap Nina saat sudah berada di ruangan sang bos, Dirga yang tengah sibuk dengan laptopnya pun mendongakkan kepalanya.
"Ada apa? Anak-anak kamu nggak sakit kan?" tanya Dirga dengan cepat.
"Enggak pak, kebetulan putra sulung saya hari ini ulang tahun, jadi saya mau_," ucap Nina ragu, pasalnya ia tidak pernah mendapat potongan gaji meskipun ijin, ia jadi merasa tidak enak.
"Baiklah, kasih kejutan buat putra kamu."
"Jadi saya diijinkan pak?" tanya Nina sumringah, ia sampai tidak bisa menahan senyumnya hingga menutupi bibirnya dengan kedua telapak tangannya.
"Iya, salam ya buat putra kamu."
"Iya pak terimakasih, saya pasti akan menyampaikannya. Terimakasih banyak pak,"
"Iya," ucap Dirga sambil tersenyum. Rasanya hatinya menghangat melihat senyum penuh syukur dari karyawannya itu.
"Saya permisi pak, assalamualaikum."
"Waalaikum salam," jawab Dirga, dan Nina pun berlalu. Tapi baru saja beberapa langkah, Dirga kembali memanggilnya,
"Tunggu." ucap Dirga sambil berdiri dari duduknya dan menghampiri Nina.
"Iya pak?" Nina kembali memutar tubuhnya dan Dirga sudah berdiri di depannya saat ini.
Deg
Karena posisi yang cukup dekat membuat jantung Nina berdebar, ia pun segera mundur dua langkah ke belakang.
Dirga mengeluarkan sebuah kupon, "Ini hadiah untuk putramu, kebetulan saya dapat kupon eksklusif di salah satu restoran yang baru buka, ambilah!" ucapnya sambil menyodorkannya ke arah Nina.
"Ini_," Nina ragu mengambilnya,
"Nggak pa pa, ambil aja. Ini eksklusif untuk satu keluarga, terutama jika ada yang merayakan ulang tahun."
"Tapi pak,"
Srekkkk
Tiba-tiba Dirga menarik tangan Nina dan meletakkan kupon itu di atas telapak tangannya,
"Bersenang-senang lah!"
"Terimakasih banyak pak,"
"Sudah berapa kali kmu berterimakasih? Ayolah, aku malah merasa nggak enak kalau kamu kebanyakan terimakasih, lebih baik besok di banyakin gorengannya aja, jangan terimakasih," ucap Dirga di selingi dengan candaan.
"Siap pak, assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Kini Nina sudah berada di depan sekolah Akmal dan Sasa, ia benar-benar tidak sabar memberi kejutan pada anak-anaknya. Dan hanya butuh sepuluh menit hingga gerbang sekolah di buka, terlihat Sasa dan Akmal berjalan beriringan.
Nina segera menyambut kedatangan mereka dengan melambaikan tangan, Sasa dan Akmal pun berhambur menghampiri Nina.
"Ibuk punya kejutan buat kalian."
"Horeeee," sorak sorei terdengar dari bibir Sasa dan Akmal, Nina pun segera memakaikan helm kepada anak-anak nya. Seperti biasanya ia membonceng anak-anak nya dengan motor maticnya.
Setelah lima belas menit akhirnya mereka sampai juga di depan sebuah restoran yang terbilang mewah dan memang masih terlihat baru.
"Kita mau makan di sini buk?" tanya Sasa antusias.
"Iya sayang, kebetulan ibuk dapat kupon dari bos tempat ibuk kerja."
"Horeee, Akmal besok bisa cerita sama Adi kalau Akmal juga baru makan di restauran yang sedang viral ini,"
Mendengar ucapan putranya, Nina malah mengerutkan keningnya, "Benarkah?"
"Iya buk, satu kelas Akmal heboh membicarakan restoran ini, soalnya sedang viral. Adi kemarin pamer baru makan di sini karena ayahnya kerja di sini."
"Baiklah, kalau begitu nanti ibuk akan ambil foto deh." ucap Nina sambil tersenyum mengusap kedua kepala anak-anaknya. "Ayo masuk, keburu kuponnya hangus nanti."
Nina pun mengajak masuk ke dalam restoran itu, dan seorang pelayan menyambut kedatangan mereka di depan pintu,
"Selamat datang,"
"Terimakasih," Nina pun mengeluarkan kupon itu dan menunjukkan pada pelayan, "Maaf mbak, saya dapat ini. Apa ini masih berlaku?"
Pelayan itu pun mengambil kupon dari tangan Nina,
"Oh iya, mari buk saya antar ke meja ibuk." ternyata pelayan itu menyambutnya dengan ramah.
Pelayan pun mengantar Nina dan anak-anaknya ke salah satu meja.
"Silahkan duduk, "
"Terimakasih,"
Nina mencari-cari sesuatu di atas meja, tapi tidak menemukannya.
"Oh iya mbak, untuk kupon itu. Kami boleh memesan makanan apa saja yang mbak?" ini pertama kalinya Nina dan anak-anaknya makan di restoran yang terbilang mewah. Walaupun ia punya kupon tapi ia khawatir ada limit pembelian untuk kupon itu.
"Oh iya buk, karena itu kupon ulang tahun, jadi ada pelayanan spesial bagi yang ulang tahun. Kami akan menyiapkan menu-menu spesial dari restoran kami."
Bukannya senang, Nina malah semakin cemas,
"Lalu bayarnya bagaimana mbak?"
"Semuanya gratis buk." jawab pelayan itu dengan sangat sopan.
Dan benar saja, beberapa pelayan datang dengan membawa beberapa menu makanan hingga memenuhi meja Nina, Sasa dan Akmal hanya bisa terbengong menatap makanan yang begitu banyak di atas meja mereka.
"Ini serius mbak?" tanya Nina masih tidak percaya.
"Iya buk, ini progam baru dari restoran kami. Dan masih ada satu kejutan lagi buat yang ulang tahun."
"Masih ada?"
Pelayan pun menunjuk ke arah pelayan lain yang tengah membawa kue ulang tahun lengkap dengan iringan musik ulangnya hingga membuat perhatian semua pengunjung ke arah mereka. Nina benar-benar tidak mampu menahan haru.
Terlihat Sasa dan akmal begitu senang, ini ulang tahun termewah bagi Akmal. Meskipun tanpa kehadiran sang ayah.
Setelah tiup lilin dan potong kue, pelayan pun kembali menghampiri mereka,
"Dan ini yang terakhir, bonus untuk yang ulang tahun." ucap pelayan itu sambil menyerahkan dua paperbag, satu untuk Akmal dan satu lagi untuk Sasa.
"Bilang terimakasih untuk bibi dulu," ucap Nina memperingatkan anak-anaknya.
"Terimakasih, bibi." ucap Akmal dan Sasa serentak.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi. Silahkan nikmati makanannya."
"Terimakasih,"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...