
Dirga melepas kembali baju koko miliknya setelah melaksanakan sholat subuh. Ia begitu bangga pagi ini tanpa memakai baju dengan hasil karya milik sang istri.
karena semalam belum sempat memeriksa email dari Radit, Dirga pun meminta maaf pada Nina jika ia tidak bisa membantunya pagi ini karena jam delapan ia ada meeting penting.
Wajah seriusnya menatap layar datar di tangannya dan sesekali mengirimkan balasan. Baru setengah ia memeriksa pesan itu tiba-tiba suara pintu di ketik dari luar.
"Masuk."
Ceklek
Kepala Akmal nongol dari balik pintu dan tersenyum.
"Papa, boleh Akmal masuk?" tanyanya.
Dirga begitu terkejut, ia kira Nina yang mengetuk pintu. Ia melihat tubuhnya yang penuh dengan tanda merah, ia mengedarkan tatapannya, mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menutupi tubuhnya.
"Masuklah." ucapnya setelah menemukan sebuah bantal kecil di sampingnya.
Melihat Dirga yang tengah menutup tubuhnya dengan bantal kecil, Akmal mengerutkan keningnya.
"Papa masuk angin ya?" tanyanya.
"Hahhh, enggak." dengan cepat Dirga menggelengkan kepalanya.
"Kok_," ucap Akmal sambil menunjuk ke arah tubuh Dirga yang tidak tertutup kain.
"Oh ini, udaranya sedikit panas makanya papa nggak pakek baju."
Akmal kembali mengerutkan keningnya saat melihat bercak-bercak mereka di leher dan dada sang papa yang tidak tertutup bantal.
"Itu_,"
"Oh ini, iya papa kan tidur di rumah sakit semalam, kayaknya gara-gara papa tidur di lantai makanya kulit papa merah-merah di gigit serangga."
"Ohhh."
"Oh iya, apa ada yang bisa papa bantu?" dengan cepat Dirga mengalihkan pembicaraan agar Akmal tidak lagi banyak bertanya tentang kulitnya.
"Sebenarnya di sekolah ada undangan untuk papa, apa nanti papa bisa datang?" tanya Akmal, sebenarnya pemberitahuan itu sudah sejak beberapa hari lalu. tapi saat itu sang ibu belum menikah dengan Dirga, ia juga belum sempat bertemu dengan sang ayah untuk memberitahukan undangan itu.@tri.ani5249
"Nanti ya?" tanya Dirga memastikan. Padahal ia baru saja mendapat telpon dari Radit kalau hari ini ada meeting dengan klien penting jam delapan.
"Iya. Tapi kalau papa nggak bisa, nggak pa pa." ucap Akmal dengan wajah kecewa, tapi ia tidak bisa memaksa.
"Bisa!" ucap Dirga dengan cepat. "Jam berapa?" tanyanya memastikan.
"Jam sembilan."
"Papa pasti datang." ucapnya dengan begitu yakin. Ia masih punya satu jam untuk meeting.
"Makasih ya pa."
"Ya udah kamu siap-siap gih, nanti papa yang antar ke sekolah."
"Siap pa."
Akmal pun keluar dari kamar, ia menghampiri ibunya yang tengah memasak di dapur.
Melihat Akmal, Nina pun menghentikan kegiatannya dan menatap pada putranya itu,
"Kak, kok belum siap-siap? Sarapannya sudah siap loh. Kakak dari mana?"
"Akmal dari kamar papa."
"Ada apa?"
"Bukan apa-apa buk. Nggak begitu penting kok Bu."
"Kalau ada masalah cerita ya sama ibuk."
"Iya buk,. Oh iya Bu, kulit papa merah-merah, pasti habis di gigit semut. Kasihan buk, ibuk kayaknya punya salep yang biasa buat salep Akmal dan Sasa pas kegigit serangga deh. Biar Akmal bantu papa oles salep ya."
"Nggak." dengan cepat Nina menjawabnya.
"Iya buk."
Karena kebetulan Nina juga ingin mengantar kopi untuk sang suami, setelah Akmal berlalu Nina pun bergegas ke kamar dengan membawa secangkir kopi untuk sang suami.
Nina begitu terkejut saat melihat suaminya malah tampak tanpa baju dan berdiri di depan cermin besar di dalam kamar.
"Mas,"
Dirga malah menoleh dan tersenyum santai sambil menunjukkan tubuh polosnya.
"Mas kenapa nggak pakek baju?"
"Bagaimana lagi ini terlalu bagus,"
Astaghfirullah hal azim ....
Nina dengan cepat meletakkan secangkir kopi itu di atas meja di samping iPad yang masih menyala dan menunjukkan beberapa email masuk yang belum di buka.
Nina pun segera mengambil sesuatu dari dalam laci nakas yang ada di samping tempat tidur,
"Biar Nina olesi salep mas."
Tapi Dirga malah menahan tangan Nina, "Buat apa?"
"Ya biar hilang mas merah-merah nya."
Srekkkk
Dirga menarik tubuh nina dan membawanya ke dalam pelukannya, tanganya menyibak jilbab instan yang di pakai oleh Nina agar memudah bibirnya untuk mencumbu leher sang istri.
"Jangan dong, biar begini saja." ucapnya dengan lembut di telinga Nina.
"Itu merah loh mas."
"Nggak pa pa, ini karya terindah loh yang aku miliki."
"Ada-ada aja, malu mas." sesekali Nina menghindar karena ulah suaminya itu, apalagi saat ini tangan Dirga sudah mulai berani.
"Atau kamu mau membuatkannya lagi yang lebih baru?" tanya Dirga sambil menggigit bahu Nina.
"Mas,"
"Sebentar saja."
"Anak-anak nungguin sarapan. Nanti ya."
"Baiklah, aku tagih ya nanti."
Walaupun berat, akhirnya Dirga setuju. Ia segera pun segera Menganti bajunya dan bersiap untuk sarapan bersama anak-anak.
"Mas, hari ini Nina kerja ya." ucap Nina saat di meja makan.
"Benar kamu mau kerja lagi?"
"Mas sudah janji kan sama Nina."
"Baiklah, apapun buat kamu asal kamu senang tapi jangan sampai pekerjaan jadi prioritas ya."
"Insyaallah."
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
@tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰