
Bab 16
“Serius Na, lo mau datang?” suara cempreng itu seolah menyambar telinga Nina.
“Ita Ta, ini gue sama anak-anak lagi ada di dalam mobil menuju ke rumah mereka.”
“Ya ampunnn, nekat bener sih lo Na.mending lo balik deh Na sebelum terlambat.”
“Nggak pa pa Ta, lagi pula kalau gue nggak datang ntar di kira belum move on kan nggak enak.”
“Trus kerja lo gimana?”
“Aman Ta, udah gue urus. Gue bilang kalau ada saudara yang nikahan di kampung, makanya gue di ijinin. Sudah ya ta, gue nggak enak sama sebelah.”
“Emang lo naiki mobil apa sih Na ke sananya?”
“Naik angkot, kebetulan ada angkot yang mau ke kampung, makanya gue ikut.”
“Ya ampuuun Na, kasihan anak-anak. Trus nanti kalian pulangnya gimana?”
“Gampang Ta, kana budhe gue punya mobil yang biasa antar barang ke kota, jadi ntar gue pulangnya nebeng.”
“Ya udah hati-hati ya Na, ntar sampek sana langsung kabarin gue.”
“Siap bos.. assalamualaikum.”
“Waalaikum salam.”
Senyum Nina kembali surut bersamaan benda pipih itu yang semakin turun ke pangkuannya. Terlihat kedua anaknya tengah tidur pulas di kursi angkot yang sama dengan berbantalan kedua paha Nina. Beruntung angkot tengah sepi, Nina sengaja mengatakan kalau angkot ramai agar Mita tidak mencemaskannya. Tangannya dengan reflek mengusap puncak rambut kedua buah hatinya, terlihat ada kecemasan yang mendalam di raut wajah lelahnya.
Rasanya ingin saja saat-saat seperti ini segera berlalu dan baik-baik saja, tapi nyatanya ia tidak bisa mengubah waktu, ataupun melewati waktu. Semuanya adalah proses yang harus ia dan anak-anaknya jalani.
Butuh waktu lebih lama untuk sampai di kampung halamannya dan mantan suaminya, begitulah Nina menganggap Kamal karena memang kenyataannya begitu.
"Ayah di rumah Mbah juga ya Bu?" tanya Akmal begitu turun dari angkot.
"Iya sayang, kakak senang kan?" tanya Nina, ia masih penasaran apa putranya itu masih marah pada sang ayah setelah kejadian waktu itu.
"Iya buk, Akmal kangen sama ayah." ucap polos Akmal, perasaan Nina sedikit lega setidaknya apa yang ia khawatirkan mungkin tidak akan terjadi. "Apa ayah masih sayang sama Akmal sama Sasa juga ya buk?"
Pertanyaan dari Akmal itu kembali mengiris ulu hati Nina, baru saja ia merasa tenang, tapi tiba-tiba berubah menjadi sebuah kekhawatiran karena jujur saja ia tidak yakin dengan yang akan terjadi nanti di sana.
"Ayah sayang kok sama kakak, sama adek, jadi jangan khawatir ya."
Sebuah ojek menghampirinya, beruntung abang tukan ojek bersedia membawa mereka dalam satu motor, Sasa duduk di depan bang ojek sedangkan Nina dan Akmal duduk di belakang.
Sepuluh menit kemudian akhirnya mereka sampai, sebuah janur melengkung di gang masuk rumah orang tua Kamal, sakit_, begitulah yang ia rasakan Nina saat rasanya sudah sangat terlambat mengakui rasa sakit itu.
"Wahhh, rumah Mbah ada pesta ya buk? Apa bulek Lastri ulang tahun ya buk!?" Sasa tampak berlarian turun dan tangannya memainkan janur yang di bentuk indah di ujung gang.
"Makasih ya pak." ucap Nina sambil menyerahkan uang pecahan dua puluh ribu pada Abang tukang ojek.
"Mbak tamu dari kota ya? Apa temannya pengantin pria?" tanya pak ojek ramah.
"Iya pak." jawab Nina dengan senyum kecut, bahkan beberapa orang di sekitar mereka tidak mengenalnya sebagai mantan istri dari pengantin laki-laki. Sebegitu ia tidak pernah di kenalkan sebagai istrinya waktu dulu.
Selama menjadi istri Kamal, Kamal tidak pernah mengajaknya untuk menghadiri undangan apapun di kampung halaman. Bahkan, untuk acara reoni atau acara apapun mereka jarang terlihat berdua. Kamal selalu beralasan jika kasihan anak-anak kalau Nina sering tinggal-tinggal. Dan sekarang ia tahu alasannya, Kamal malu mengakuinya sebagai istri.
"Mari pak." Nina segera berlalu meninggalkan pak ojek yang tidak kunjung pergi,
Terlihat Akmal menarik Sasa agar tidak terus berlari mendahului Nina, beruntung Sasa tidak meronta hingga Nina bisa menyusul mereka.
Saat mereka sampai di halaman rumah orang tua Kamal, terlihat halaman sudah ramai dengan tamu dan para tetangga yang membantu hajatan, musik juga sudah di putar, kue tampak berjejer di meja-meja di bawah tenda hajatan, tamu juga hilir mudik datang dan pergi.
Nina meletakkan tasnya, tangannya ia gunakan untuk menggandeng tangan kedua anaknya. Terlihat ibu Kamal berjalan cepat menghampiri mereka, ia memakai kebaya dengan riasan tipis dari MUA.
"Cucu-cucu Mbah sudah datang, ayo masuk, masuk." ucap wanita itu sambil merangkul Akmal dan Sasa.
Sasa begitu senang, berbeda dengan Akmal, ia menoleh ke belakang menatap Nina, meminta persetujuan dari ibunya itu.
Nina pun menganggukkan kepalanya, ia tidak mungkin melarang anak-anak nya menemui bapaknya sendiri.
Akhirnya Sasa San Akmal pun masuk dengan mbahnya sedangkan Nina, bahkan tidak ada yang peduli dengannya. Dari pada tetap berdiri di pintu masuk tenda hajatan, ia memilih duduk di kursi kosong yang berada tidak jauh dari tempatnya sambil mengamati jika ada orang yang mungkin ia kenal.
Ia juga tidak melihat keberadaan Lastri, mungkin mantan adik iparnya itu tengah sibuk di dalam.
Manik mata Nina tertuju pada segerombolan tamu yang hendak masuk, ia cukup kenal dengan tamu-tamu itu. Mereka teman-teman satu SMA nya dulu, satu SMA juga dengan Silvi.
Jadi mereka di undang? Batinnya dan dengan cepat Nina menundukkan kepalanya pura-pura tidak melihat dan menggunakan apapun yang ada di tangannya untuk menutupi wajahnya agar mereka tidak melihat keberadaannya.
"Ini, bukannya Nina?"
Suara itu membuat Nina menggigit bibir bawahnya. Ia mengenal suara itu, ternyata ia gagal bersembunyi. Perlahan ia mendongakkan kepalanya dan ternyata segerombolan teman-temannya itu sudah berdiri di depannya.
"Hai, Siska." ucap Nina dengan tersenyum dipaksakan.
"Kamu datang?" seorang lagi bertanya, sepertinya ia mengetahui tentang status Nina saat ini di tempat itu.
"Kamu sama Silvi_," salah satu dari mereka terlihat ragu untuk melanjutkan ucapannya.
Terlihat dari seragam yang mereka pakai, sepertinya mereka pada PNS. Mereka satu lembaga dengan Silvi, ya Silvi adalah seorang guru di salah satu sekolah negri. Mungkin itu yang membuat orang tua Kamal senang mendapat menantu Silvi karena sedari dulu mereka bercita-cita mempunyai menantu seorang PNS, kalau bukan PNS setidaknya seorang pegawai.
"Saya mengantar anak-anak saya." dengan cepat Nina mengatakan alasannya agar mereka tidak berpikir macam-macam padanya.
"Ohhh,"
"Ya sudah, kami masuk dulu ya. Kamu nggak ikutan masuk?"
"Makasih, aku nanti saja." tolak Nina, ia tidak mungkin bergabung bersama mereka. Mereka pasti punya alasan untuk terus menyidirnya. Dan Nina tidak suka dengan hal itu.
Bersambung
Maaf ya teman-teman, lama sekali nggak up, sebenarnya pengen banget bisa up tiap hari tapi apa daya di musim kayak gini tiba-tiba tubuh drop, trus di tambah pekerjaan di dunia nyata benar-benar padat kalau bulan Agustus, tapi insyaallah bakal aku usahain buat up ya teman-teman, terimakasih sudah setiap menunggu up nya, I love you all ♥️♥️♥️
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...