AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
64. Persiapan pernikahan 2



Nina baru saja membuka matanya saat azan subuh berkumandang. Sepanjang malam ia nyaris tidak bisa tidur nyenyak karena di luar terus terdengar orang yang tengah berbincang. Sepertinya semalaman orang-orang itu tidak tidur.


"Ya Allah, pusing sekali." gumamnya dengan pelan dengan tangan yang meraba-raba sesuatu, sebuah jilbab instan berwarna abu-abu tua sengaja ia letakkan di atas bantal sebelum tidur karena di luar banyak orang, ia tidak mungkin keluar tanpa hijabnya.


Setelah memastikan jilbabnya melekat sempurna menutupi rambutnya, Nina pun perlahan turun dari tempat tidur.


Dengan langkah gontai ia membuka pintu kamar.


 Tapi seketika tubuhnya terpaku saat dua orang asing sudah berdiri di depan kamarnya.


"Kalian siapa?" tanya Nina yang masih terkejut. Apalagi saat ini Nina hanya memakai daster rumahan berwarna abu-abu dengan motif bunga besar.


"Maaf kami MUA yang di minta mas Dirga untuk merias mbak Nina dan anak-anak. apa sekarang sudah siap untuk di rias." ucap salah satu dari mereka dengan tas besar di tangannya.


Nina menatap ke arah dinding yang terdapat jam yang menggantung di sana.


sudah hampir jam lima ....


Waktu subuh sebentar lagi berlaku.


"Saya sholat dulu, lagi pula anak-anak juga belum bangun. Biar saya bangunkan dulu. Mereka juga harus sarapan dan mandi."


"Baik mbak, kami akan menunggu di depan."


"Hmmm."


Nina segara kembali ke kamar mandi untuk mandi, dan ia juga tidak membuang waktu untuk sholat. Selanjutnya ia bergegas ke kamar anak-anaknya, tapi baru sampai di ruang makan ia melihat anak-anaknya sudah duduk di sana dengan makanan di atas meja.


"Siapa yang masak?" tanyanya sambil menyusul ikut duduk bersama anak-anak nya.


"Duduk buk." Akmal bukan langsung menjawab, ia memilih menepuk kursi kosong di sampingnya dan mengambilkan makanan untuk ibunya.


"Tadi ada bibi yang memasak di dapur. Di depan juga banyak sekali makanan. Dekorasinya banyak bunga-bunga buk, bagus banget." ucap Akmal panjang lebar, anak itu tidak lagi pendiam seperti semalam.


Nina berpikir keras. Ia merasa tidak meminta orang untuk membantu di rumahnya,


Apa ini juga suruhan pak Dirga?


Kemudian Nina teringat sesuatu, ia kembali menghentikan makannya dan menoleh pada anak-anaknya.


"Apa kalian sudah sholat?"


"Sudah buk, paman Aga tadi bangunin Akmal dan Sasa, trus ngajak ke masjid."


Sekali lagi Nina mendapatkan kejutan. Selama ini yang ia tahu tentang pemilik rumah itu adalah orang yang jarang bersosialisasi, tapi pagi ini tiba-tiba pria itu menjelma menjadi orang yang yang begitu berbeda seperti yang di katakan orang-orang. Ia mendapati pak Dirga seperti pak Dirga yang ada di kantor, pria yang bersahaja dan sederhana. Hangat pada semua orang.


"Katanya ada urusan sebentar, paman minta kita untuk sarapan dulu buk."


Akhirnya mereka pun hanya sarapan bertiga.


Selesai sarapan, Nina dan anak-anak pun mengikuti instruksi dari MUA untuk berganti baju dan di rias.


Nina begitu cantik dengan gaun brukat berwarna Salem senada dengan gaun brokat yang dipakai oleh Sasa, Sasa juga begitu cantik dengan gaun dan rambut yang di kuncir satu di belakang dengan pita besar yang menghiasi rambutnya yang sengaja dibuat ikal. Sedangkan Akmal tampak serasi dengan kemeja berwarna senada dengan yang di kenakan Nina dan Sasa di tambah jas berwarna hitam yang membuat penampilannya begitu luar biasa.


"Sasa cantik sekali, Sasa sudah kayak Sakila ya buk?" tanya Sasa dengan polosnya sambil menatap pantulan dirinya di dalam cermin.


"Sasa lebih cantik dari Sakila. Bagi ibuk, putri ibu lebih cantik dari siapapun di dunia ini."


Tepat jam sembilan, tamu sudah mulai berdatangan. Nina juga kedua anaknya sudah bersiap menyambut tamu, begitu juga penghulu yang sudah siap duduk berdampingan dengan Radit, tapi sejauh itu Nina belum menemukan sosok yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu, begitu juga dengan keluarga Dirga.


Nina pun memilih menghampiri Radit yang kebetulan menjauh dari pak penghulu hendak mengambil minum,


"Mas Radit, pak Dirga kemana? Kenapa belum datang?" tanya Nina.


"Sedang ada urusan sebentar nin, ada apa? Apa kamu butuh sesuatu? Biar aku carikan untukmu."


"Tidak mas, hanya saja terasa aneh jika Nina harus menyalami tamu sendiri, sedangkan kebanyakan tamunya kenalan pak Dirga."


"Nanti aku akan hubungi pak Dirga, apa kamu mau pesan sesuatu?"


"Enggak mas, itu aja."


Keluarga Dirga juga tidak terlihat datang. Beberapa tamu banyak yang berbisik tentang keluarga Dirga yang mungkin tidak datang dan Nina tidak bisa membela apapun tentang itu.


Nina tidak bisa berharap banyak tentang kehadiran keluarga Dirga, ia sadar diri bagaimana posisinya saat ini di mata keluarga Dirga.


Di tempat lain, Dirga tengah menunggu kedatangan seseorang di sebuah bandara. Sudah setengah jam lalu ia berdiri di sana, pesawat baru akan tiba lima menit lagi.


Berkali-kali Dirga melirik jam yang melingkar di tangannya, ia memastikan tidak akan terlambat saat acara. Pakaiannya sudah sangat rapi, bahkan jas dan kemeja yang di pakai saat ini senada dengan dress brukat yang di pakai oleh Nina, sama persis Dnegan kemeja dan jas yang di pakai Akmal.


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


@tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...