
"Bagaimana meetingnya tadi? Apa mereka membatalkan kontraknya dengan kita?" tanya Dirga yang baru sampai di kantor setelah jam pulang kantor, sepertinya karena terlalu asik bermain dengan anak-anak ia sampai benar-benar lupa.
"Beres bos," ucap Radit dengan sumringah.
"Maksudnya?" Dirga tidak mengerti, ia cukup merasa bersalah karena melalaikan tanggung jawab.
"Kita dapat kontrak sekaligus menjadi pengawas produk olahan mereka yang masuk ke dalam negri."
"Maksudnya?" Dirga masih gagal fokus.
"Iya pak, kita dapat tandernya. Semua ini karena Nina."
"Sebentar deh, maksudnya ini gimana? Apa hubungannya dengan Nina juga?"
Akhrinya Radit pun menceritakan semua yang baru saja terjadi. Tentang idenya yang mengajak Nina menemui klien. Tentang bagaimana klien sangat tertarik dengan penjelasan Nina tentang berbagai makanan.
Dirga pun tersenyum, ia tidak menyangka wanita yang biasanya hanya berkecimpung mengurusi rumah tangga, tidak punya pengalaman apapun, hanya lulusan SMA, bisa begitu luwes berbicara dengan kliennya meskipun dengan bahasa seadanya.
"Berarti bulan ini Nina berhak mendapatkan bonus untuk pekerjaannya."
"Iya bos, siap. Saya akan menyampaikannya pada pihak HRD."
"Kayaknya promosi jabatan juga perlu." ucap Dirga lirih tapi masih bisa di dengar oleh Radit.
"Maksud pak Dirga? Nina akan jadi pengawas cleaning service?"
"Nggak gitu. Berdasarkan peraturan promosi jabatan, seseorang berhak mendapatkan promosi kenaikan jabatan apabila berkontribusi pada perusahaan minimal tiga kali dan dapat mempertahankan perfomance nya selama satu bulan kedepan kan? Aku rasa posisi devisi marketing cocok untuk Nina, kebetulan di posisi itu kekurangan orang kan?"
"Iya sih bos, tapi apa nggak terlalu cepat? Maksudnya Nina masih bekerja di sini selama enam bulan dan jabatannya hanya sebagai cleaning service."
Dirga mengerutkan keningnya sambil menatap ke arah Radit, "Sejak kapan kamu berpikir saya membedakan jabatan seseorang? Semua orang berhak berkembang di sini, termasuk cleaning service yang lainnya asalkan dia punya kemampuan." ucap Dirga kali ini dengan nada serius.
Memang benar, di perusahaan baru yang di bangun Dirga ini setiap karyawan yang sudah berdedikasi dengan sepenuh hati pada perusahaan akan mendapatkan beberapa reward setiap akhir tahun salah satunya pendidikan lanjutan sesuai dengan posisinya jika mereka berminat, jika tidak akan di gantikan dengan bonus akhir tahun yang lumayan besar.
"Maaf bos, saya mengerti."
***
Kini Kamal sudah kembali ke rumah setalah setengah bulan kerja. Silvi menyambut kedatangan sang suami dengan begitu bahagia. Ia bahkan memasakkan makanan sepesial untuk sang suami.
"Bagaimana mas? Enak kan?" tanya Silvi sambil menyuapkan makanan ke mulut suaminya.
"Enak, semakin enak saja masakan kamu sayang."
"Ihhhh, mujinya ketinggian mas."
"Serius sayang. Oh iya, Sakila di mana?"
"Sakila bakal nginep di rumah neneknya dua hari karena Rio pulang, dia pengen bermanja-manja sama pamannya itu."
"Trus sekolahnya gimana? Nggak pa pa ijin dua hari?"
"Nggak pa pa mas, kebetulan aku punya surat dokter. Jadi aku ijinin sakit aja, biar kalau Kila mau agak lama di desa nggak akan ada masalah."
"Ohhh, ya udah kalau menurutmu Kila bisa mengejar ketertinggalannya."
"Bisa lah mas, Kila kan anak pintar, hanya sekali baca aja sudah bisa ingat semuanya." ucap Silvi membanggakan putrinya itu, kemudian ia teringat sesuatu, "Oh iya mas, satu Minggu lalu Bu Dina katanya lihat mas di kedai bakso sama anak kecil. Apa iya?"
Apa Bu Dina melihat aku sama Akmal? Batin Kamal hingga ia menghentikan kunyahannya.
"Aku kerja sayang, mana mungkin."
"Iya ya mas, mungkin memang ada orang yang mirip sama mas. Bu Dina kan memang nggak terlalu kenal sama mas, makanya sok tahu."
"Iya," Kamal menelan Salivanya dengan berat. Ini untuk pertama kalinya ia berbohong pada Silvi. Ia tidak mau membuat Silvi kesal karena bisa mempengaruhi kandungannya, "Oh iya sayang, besok jadi periksa kandungan kan?"
"Jadi dong mas, beberapa hari ini perut Silvi suka kram, kadang juga kayak ada flek di celana dal*m Silvi, takut kalau ada apa-apa."
"Baiklah, kalau begitu kita harus periksa besok."
***
"Kakak nggak pa pa ibuk tinggal kerja? Atau setelah ngantar adek, ibuk balik lagi aja ya."
"Jangan buk, Akmal cuma deman biasa buk, nanti juga sembuh setelah istirahat. Ibuk kerja aja, kan ibuk sudah sering ijin. Nanti ibuk di marahi sama bos ibuk."
"Bos ibuk baik kak. Begini saja, hari ini ibuk akan ijin setengah hari. Setelah jemput adik, ibuk pulang kita periksa kakak ke klinik ya,"
"Akmal nggak pa pa buk, ibuk kerja saja. Akmal akan hubungi ibuk kalau Akmal semakin sakit. Ini pasti gara-gara Akmal nggak nurut ibuk kemarin, keasikan main tab sampai malam jadi masuk angin,"
"Baiklah, tapi hubungi ibuk kalau tambah sakit. Badan kakak juga panas loh," berkali-kali Nina menempelkan punggung tangannya di kening sang putra.
"Kan tadi sudah minum obat buk, nanti Akmal tidur sebentar pasti juga sembuh. Akmal janji nggak macem-macem deh buk."
Walaupun berat, akhrinya Nina benar-benar meninggalkan Akmal sendiri di rumah. Ia harus mengantar Sasa juga ke sekolah. Ia tidak mungkin meminta Mita untuk menemani Akmal kali ini karena Mita sejak satu bulan menjelang lahiran oleh suaminya di ajak tinggal di rumah orang tuanya karena sang suami sibuk bekerja. Nina tidak enak dengan mertua Mita jika harus terus merepotkan sahabatnya itu sedangkan keadaan sahabatnya saja tengah hamil tua dan menunggu hari untuk melahirkan.
Setelah ibuknya pergi bersama sang adik, Akmal pun kembali masuk ke dalam rumah. Sebenarnya kepalanya benar-benar pusing, perutnya juga semakin mual, tenggorokannya sangat kering tapi ia tidak mau membuat ibunya semakin cemas. Untuk mengurangi rasa mual di perutnya, Akmal pun memilih tidur meringkuk di sofa ruang keluarga sambil menyilangkan tangannya berharap sedikit lebih hangat.
Bahkan kini keringat dingin pun bercucuran, berkali-kali ia minum air putih karena tenggorokannya yang kering.
Kini bibir Akmal semakin pucat, ras nyeri di perut dan persendiannya semakin menjadi. Ia sampai tanpa sadar mengeluarkan rintihan.
***
Hari ini Dirga sengaja pulang kampus lebih cepat karena ia tidak punya jadwal mengajar. Ia berniat untuk melanjutkan pekerjaannya di rumah saja.
Tapi saat melihat si samping rumah, samar-samar ia mendengar suara rintihan anak-anak. Dirga pun menghentikan langkahnya, mengurungkan niatnya untuk menaiki tangga.
Perlahan Dirga berjalan mengelilingi rumah, hingga langkahnya terhenti di samping kolam renang. Di dekat pintu masuk yang berhubungan langsung dengan ruang keluarga dan suara rintihan itu semakin terdengar jelas.
Karena begitu penasaran, Dirga mengintip dari balik jendela berharap bisa menemukan sesuatu. Pasalnya ini masih jam sekolah, ia tidak yakin jika itu suara Sasa atau Akmal.
Pyarrrrrr
Sebuah gelas jatuh ke lantai bersamaan dengan tubuh mungil itu,
"Akmal," teriak Dirga terkejut, Dirga pun berusaha membuka pintu tapi ternyata pintu di kunci dari dalam. Karena terlalu panik Dirga pun memilih memukul pintu kaca itu dengan sebuah tongkat kasti yang ada di keranjang payung di samping jendela.
Pyarrrrrr
Pecahan kaca besar itu langsung berserakan di lantai, seolah tidak peduli dengan kaca yang mungkin bisa melukai tubuhnya, Dirga pun menerobos pintu yang masih terdapat pecahan kaca hingga lengan atasnya tergores olehnya.
Melihat wajah pucat dan tubuh yang menggingil dari Akmal, tanpa bertanya-tanya Dirga pun segera mengangkat tubuh itu bersamaan dengan Fajar yang berlari menghampirinya karena mendengar keributan.
"Mas, apa yang terjadi?" tanya Fajar panik, apalagi saat melihat darah yang mengalir dari lengan atas Dirga, di tambah dengan keadaan Akmal yang begitu pucat dengan tubuh menggigil.
"Cepat siapkan mobil,"
"Baik mas,"
Fajar pun dengan cepat keluar dan menghidupkan mesin mobil, membukakan pintu mobil untuk Dirga,
"Kamu tunggu di rumah, jika Nina datang katakan kalau Akmal ke rumah sakit denganku."
"Baik mas."
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...