
Kamal terduduk lemas di samping mobilnya. Apa yang ia capai selama ini tiba-tiba lenyap dalam sekejap.
Walaupun ia sudah membeli beberapa tanah dan sawah di kampung, tetap saja ia tidak bisa menggunakan untuk kelangsungan hidupnya nanti karena semua aset yang ia miliki ada hak anak-anak nya di sana.
"Aku harus mengatakan apa pada Silvi nanti." ucapnya pelan. Ia tahu Silvi memilihnya karena ia punya penghasilan yang lumayan dari pekerjaannya.
Setelah cukup lama merenung akhirnya Kamal pun memutuskan untuk pulang meskipun pikirannya masih melayang-layang.
Hingga sampai di rumah pun Kamal masih tetap diam, saat Silvi memeluknya bahkan Kamal tidak membalas pelukannya.
"Mas, ada apa sih? Kenapa diam saja?" tanya Silvi kesal.
"Tidak pa pa. Aku ngantuk, aku tidur dulu."
Dari pada menanggapi Silvi, Kamal pun memilih untuk tidur. Ia belum siap cerita pada Silvi, ia memilih menyembunyikan. Surat pemecatannya di kolong tempat tidur dan segara memejamkan matanya, meskipun mungkin malam ia tidak akan bisa tidur.
Di tempat lain, Dirga dan keluarganya baru saja sampai di rumah. Seelah puas bermain di taman bermain, mereka mencari tempat untuk makan setelah itu baru memutuskan untuk pulang.
Saat menoleh ke belakang, terlihat anak-anak sudah tertidur pulas di dalam mobil. Sepertinya mereka sudah sangat kecapekan.
"Masuklah dulu, biar aku angkat anak-anak."
"Biar Nina bantu ya. Sasa, biar Nina aja yang angkat."
Nina.jelas tidak ingin diam saja dan membiarkan Dirga menggendong dua anaknya sendiri.
Melihat Dirga dan Nina yang kesusahan menggendong anak-anak, fajar pun mendekat.
"Biar saya bukakan mas pintunya." ucapnya menawarkan diri dan segera menuju ke tempat biasanya Nina menyimpan kunci rumah.
"Makasih ya Jar." ucap Dirga saat fajar sudah berhasil membuka pintunya
"Iya mas, kalau begitu saya tugas lagi di depan."
"Oh iya, di mobil ada martabak. kamu bagi sama teman-teman kamu ya."
"Wah siap mas." ucap Fajar sambil meletakan tangan kanannya di pelipisnya seperti orang yang tengah hormat.
Dirga dan Nina pun menggendong anak-anak masuk dan menidurkan mereka.
"Aku periksa email masuk dulu ya." ucap Dirga begitu keluar dari kamar anak-anak. Ia memilih ruang keluarga sebagai tempat untuk mengecek pekerjaan agar tidak menggangu Nina saat Nina ingin tidur lebih dulu.
"Iya mas."
Nina pun segera masuk ke dalam dan membersihkan diri.
Selang setelah jam, Dirga pun menyudahi pekerjaannya karena tidak terlalu banyak email yang masuk jadi ia tidak banyak membalas pesan itu.
Sesampai di kamar ia tidak mendapati Nina di sana, tapi terdengar suara air dari dalam kamar mandi.
Dirga pun melepas kancing kemeja bagian atas, ikat pinggang dan menyingsing lengan kemejanya. Meletakkan ponselnya di atas tempat tidur.
Sebenarnya sudah malam, tapi tubuhnya terasa lengket jadi ia memutuskan untuk mandi.
Nina keluar dari kamar mandi, tapi terlihat ia sudah memakai pakaian lengkap seperti tidak baru mandi.
"Mandilah mas, Nina sudah siapin air hangat." ucap Nina membuat Dirga tersadar dari lamunannya.
"Wahhh, benarkah? Jadi nggak enak." ucap Dirga Meraka tidak enak. sebelumnya ia bahkan tidak pernah meminta pembantunya untuk melayaninya meskipun tinggal di ruang orang tuanya. Tapi nina bahkan melayaninya tanpa ia minta.
"Nggak pa pa, sudah kewajiban Nina juga mas." mendengar jawaban Nina, rasa hatinya begitu berbunga-bunga. Seperti ada yang meletup-letup dari dalam sana. Bibirnya bahkan tidak mampu menarik senyumnya agar tidak keluar.
"Baiklah aku mandi dulu ya."
Selagi Dirga mandi, Nina pun memilih membersihkan tempat tidur, hingga sebuah deringan telpon terdengar dari ponsel Dirga. Nina pun penasaran ingin melihatnya. Ponsel itu berdering beberapa kali, meskipun seorang pria nyatanya Dirga mandi lebih lama dari pada Nina.
'Mama'
Dari mana mas Dirga ....
Dari pada menerima telpon itu, Nina memilih mengetuk pintu kamar mandi,
"Mas, ada telpon." ucap Nina sambil menempelkan pipinya ke daun pintu kamar mandi, ia seperti penasaran dengan aktifitas seseorang di dalam kamar mandi itu.
"Terima saja." ucapnya dari balik pintu kamar mandi.
"Dari mamanya mas Dirga."
"Iya, nggak pa pa angkat aja."
"Enggak deh mas, nanti mas Dirga telpon balik aja."
Nina pun memilih meletakkan kembali ponsel itu di atas tempat tidur ia pun juga ikut duduk si sana menunggu Dirga keluar dari kamar mandi.
Setelah memastikan pekerjaannya selesai. Nina Pun memilih duduk sejenak di atas tempat tidur sambil menunggu Dirga keluar dari kamar mandi.
Ceklek
Dirga pun keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk kecil di pinggangnya, sepetinya karena terburu-buru ia sampai lupa mengeringkan tubuhnya hingga terlihat totol-totol air di dada dan punggungnya hingga membuatnya terlihat lebih seksi dan menggoda.
Nina yang tanpa sengaja melihatnya pun tidak mampu mengedipkan matanya, pemandangan itu sungguh terlalu indah.
Srekkkk
Tubuh Nina kembali di buat terpaku saat tubuh yang baru saja ia lihat itu berada tepat di depannya, begitu dekat hingga ia bisa mencium aro sabun yang menyeruak dari tubuh kekar itu.
"Maaf, aku mengambil ponselnya." ucap Dirga setelah kembali menjauhkan tubuhnya, ternyata Dirga hendak mengambil ponselnya yang berada di samping Nina.
"Egh, e, iya mas."
Dirga pun memilih keluar dari kamar, ia berdiri di balik jendela kamar yang cukup besar itu.
Ia menempelkan benda pipih itu dia daun telinganya hingga terdengar suara dari seberang sana.
"Iya ma? Ada apa?"
"Papa kamu masuk rumah sakit."
"Kok bisa? Papa kenapa?"
"Tiba-tiba tekanan darahnya naik. Kamu cepetan ke sini ya."
"Iya ma."
Dirga pun segera mematikan sambungan telponnya. Nina yang melihat kepanikan Dirga pun menjadi penasaran.
"Ada apa mas?"
"Papa masuk rumah sakit."
"Astaghfirullah hal azim, kenapa mas?"
"Tekanan darah papa tiba-tiba naik. Nggak pa pa ya aku tinggal ke rumah sakit."
"Maaf ya mas, Nina nggak bisa ikut."
"Papa sama mama pasti bisa ngerti..kamu jaga anak-anak saja."
Dirga pun segara memakai bajunya dan berpamitan Nina.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Yang selalu Dirga sukai dari kehidupan barunya adalah saat berpamitan, ada ritual cium tangan dan mengecup kening Nina yang selalu berhasil membuat jantungnya berdetak kencing dan tidak ingin moment itu segera berlalu begitu saja.
***
"Bagaimana papa ma?" tanya Dirga begitu sampai di rumah sakit. Ia berlarian agar bisa segera menemui mamanya.
"Papa kamu masih belum sadarkan diri. beruntung tidak sampai ada pembuluh darah yang pecah, jadi papa masih bisa di obati."
"Syukurlah. Remon belum tahu?"
"Remon sedang di luar kota."
"Kenapa bisa tiba-tiba tinggi?"
"Ini semua gara-gara Remon."
Flashback on
Ruang kerja itu tiba-tiba menjadi tegang saat tuan Adi Wikrama menemukan sebuah bukti kecurangan yang di lakukan oleh Remon. Putra kedua keluarga Wikrama.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" Adi Wikrama begitu murka hingga ia melempar kembali berkas di tangannya setelah mendapatkan laporan ada data yang tidak beres di perusahaan.
"Beberapa uang perusahaan mengalir secara berkala ke rekening pribadi seseorang, tuan."
"Maksud kamu?"
"Ada yang tengah mencuri uang perusahaan dan ini sudah berlangsung hampir dua tahun."
"Siapa? Siapa yang melakukannya?"
"Pak Remon."
"Remon?"
"Iya tuan."
Mengetahui kenyataan jika yang melakukan penggelapan putranya sendiri, tuan Adi Wikrama tiba-tiba jatuh Tidka sadarkan diri dan harus di larikan ke rumah sakit.
Flashback on
"Kamu harus menyelamatkan perusahaan sebelum para investor tahu apa yang telah terjadi."
"Tapi ma_,"
"Kamu mau papa kamu sampai mati gara-gara masalah ini?"
"Astaghfirullah hal azim ma,"
"Harapan mama satu-satunya cuma kamu. Mama mohon selamatkan perusahaan yang sudah papa.bangun dari nol."
"Baiklah, Dirga usahakan ma, rapi Dirga tidak bisa janji."
"Tidak pa pa, yang terpenting kamu sudah berusaha."
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
@tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰