AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
52. Tidak punya hak



Nina menatap kepergian anak-anaknya bersama Dirga.


Hehhhh


Sekali lagi ia menghela nafas,


"Kenapa bisa lupa sih, mungkin aku akan menanyakannya lain waktu." gumamnya sambil berlalu pergi. Ia harus melanjutkan pekerjaannya.


Sepanjang bekerja, beberapa rekannya malah memperlakukannya berbeda.


"Sudah kamu kerjakan yang ini saja. Tugas kamu kan melayani pak Dirga, pokoknya kamu hanya harus memastikan semua tentang pak Dirga terpenuhi dan selebihnya kamu istirahat saja, biar kami yang mengerjakan."


"Kan biasanya Nina juga ikut mengerjakan. kenapa sekarang tidak?"


"Nggak pa pa, kamu cek ke ruangan pak Dirga saja. Siapa tahu pak Dirga butuh sesuatu. Lagi pula di sana kan ada anak-anak kamu, jangan sampai pak Dirga kerepotan."


Benar juga, Nina menyetujui pendapat rekannya meskipun ia tidak tahu maksud sebenarnya dari teman-temannya itu.


Nina pun akhirnya memutuskan untuk menuju ke ruangan pak Dirga, tapi dari arah lain ia melihat Radit juga berjalan menuju ke ruangan yang sama.


"Nina, kamu juga mau ke ruangan pak Dirga?" tanyanya pada Nina.


"Tidak_, ah iya maksud Nina, Nina hanya ingin memastikan jika anak-anak tidak membuat repot pak Dirga. Itu saja."


"Oh itu, jangan khawatir. Pak Dirga tidak merasa di repotkan."


Nina menatap beberapa kantong plastik yang ada di tangan Radit,


"Jadi pak Dirga belum makan siang?" tanya Nina, hal langka jika pak Dirga sampai makan siang di kantor.


"Oh ini," Radit mengangkat sedikit kedua tangannya, "Pak Dirga sengaja ingin makan siang di kantor bersama anak-anak. Kebetulan sekali kamu juga mau masuk jadi aku titip ini ya buat mereka." Radit sengaja menyerahkannya pada Nina.


"Tapi pak, memang benar tidak pa pa?" Nina ragu, ia khawatir jika Dirga tidak suka ia menggangu kebersamaannya dengan anak-anaknya.


"Nggak pa pa, lagi pula pak Dirga orangnya juga santai. Apalagi yang di dalam kan anak-anak kamu, nggak akan ada masalah. Inih!" Radit segera menyerahkan semua kantong kreseknya pada Nina agar Nina tidak lagi mengelak dan dia pun pergi.


Tok tok tok


akhrinya Nina hanya bisa pasrah, ia mengetuk pintu ruang kerja atasannya itu.


"Masuk!" sahutan dari dalam.


Nina pun perlahan mendorong pintu dengan memiringkan tubuhnya,


"Pak ini titipan dari pak Radit." ucapnya setelah berhasil masuk. meskipun begitu manik matanya memastikan sesuatu, dan ia melihat anak-anaknya yang tengah asyik bermain tidak jauh dari meja kerja Dirga membuat perasaanya lega. Anak-anaknya tidak tengah mengganti bosnya yang tengah bekerja.


"Oh ya sudah, bantu bukakan sekalian ya!" pina Dirga dan dia pun berjalan menuju ke sofa.


"Baik pak," begitu juga dengan Nina, ia mengikuti langkah Dirga dan meletakkan semua kantong kresek yang bersisi makanan itu.


Sasa dan Akmal segera mendekati ibunya setelah melihat ibunya datang,


"Wahhhh ibuk bawa apa?" tanya Sasa.


"Ini pesanan paman Aga, sayang." ucapnya sambil mengeluarkan satu per satu makanan itu dari kantong kresek.


Ternyata berisi ayam goreng, es Boba, burger, dan pizza juga es krim dan semuanya tentu bukan makanan kesukaan Dirga. bekerja dengan Dirga hampir satu tahun ini membuatnya tahu apa saja makanan ke sukaan Dirga. Dirga penyuka makanan-makanan tradisional atau makanan-makanan khas Indonesia.


"Ini semua paman pesan khusus buat kalian, ayo kita makan." ajak Dirga pada anak-anak.


"Horeee," Sasa dan akmal pun bersorak gembira. Mereka jarang makan makanan yang seperti ini, selain Nina yang tidak pernah mengajak anak-anak nya membeli makanan seperti ini, anak-anaknya juga terlalu khawatir jika meminta akan memberatkan ibunya.


Nina menatap haru saat melihat kedekatan anak-anaknya dengan pria yang jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan mereka. Bahkan pria itu begitu memanjakan anak-anaknya.


"Ibu nggak ikut makan?" tanya Akmal saat Nina tidak ikut makan bersama mereka.


"Tidak kak, ibuk kan nggak bisa makan yang kayak begitu. Sudah kalian makan saja, ibu tadi sudah makan di belakang." tolak Nina.


"Nggak usah pak."


"Ayolah, kamu harus mencobanya juga biar suatu saat kamu akan terbiasa. Coba sedikit saja!" paksa Dirga dan semakin memajukan tangannya.


"Iya buk, coba saja buk." anak-anaknya tidak kalah memaksanya membuat Nina tidak lagi bisa mengelak.


"Biar Nina makan sendiri ya pak." Nina pun mengambil potongan pizza dari tangan Dirga dan menyuapkan sendiri ke mulutnya.


"Bagaimana? Enak kan?" tanya Dirga padahal ini juga untuk pertama kalinya ia memakan pizza.


"Lumayan pak."


Dirga begitu mengimbangi apapun yang di lakukan oleh anak-anak Nina.


Tapi beberapa saat kemudian, ia pun ijin ke kamar mandi. Terlihat wajah Dirga memerah menahan sesuatu.


"Kalian tunggu di sini ya, habiskan makanannya." perintah Nina.


"Baik buk."


Nina pun mengikuti Dirga yang ke kamar mandi, ia mendengar dari luar jika Dirga memuntahkan semua makanannya.


Nina pun menunggu hingga Dirga keluar dari kamar mandi,


"Nina, kenapa kamu di sini?" Dirga begitu terkejut saat Nina berada di depan kamar mandi.


"Pak Dirga kenapa melakukan semua ini?"


"Maksud kamu apa? Saya tidak mengerti." ucapnya sambil mengusap bibirnya dengan tisu yang baru saja ia ambil.


"Kalau tidak suka kenapa di paksakan?"


mendengar pertanyaan itu, Dirga pun menghentikan kegiatannya dan menoleh menatap pada Nina,


"Saya hanya ingin anak-anak bahagia, tidak lebih."


"Tapi mereka anak-anak saya pak, pak Dirga tidak perlu repot-repot membuat mereka bahagia." ucap Nina lalu kembali menghampiri anak-anaknya meninggalkan Dirga yang masih terdiam di tempatnya.


Sesaat tadi Dirga merasa jika dia berhak memiliki senyum indah anak-anak itu, tapi perkataan Nina kembali menyadarkannya bahwa ia tidak punya hak itu. Sebuah kenyataan membuatnya sadar bahwa dia bukan bagian dari anak-anak itu.


***


Tepat saat waktu pulang kerja. Nina pun bersiap-siap mengajak anak-anak nya untuk pulang tiba-tiba ponselnya berdering. Itu dari Mita, ia mengabarkan kalau ia tengah menuju ke rumah sakit untuk persiapan melahirkan.


Mendengar hal itu, Dirga pun segera menghampiri Nina,


"Biar saya antar saja ke rumah sakit."


"Enggak pak, saya bawa motor."


"Kamu akan kesusahan, siapa yang akan.jaga anak-anak kalau kamu sedang sibuk mengurus Mita? Jangan keras kepala!"


Nina terdiam, benar apa yang di katakan oleh Dirga. Ia juga tidak boleh mengabaikan anak-anaknya.


"Baik, saya setuju." ucapnya kemudian tapi ia terlambat karena anak-anaknya kini sudah masuk ke dalam mobil. mereka duduk di bangku belakang dan menyisakan Bangko kosong di depan di samping kursi kemudi.


Bersambung


Ini Doble up ganti yang kemarin ya kan, maaf kemarin terhalang waktu soalnya.


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


...Happy Reading 🥰🥰🥰...