
"Maaf ya aku tiba-tiba datang." ucap Dirga sambil fokus dengan stir mobilnya. Nina yang duduk di sampingnya hanya tersenyum.
"Aku hanya khawatir kamu akan salah faham dan membawa pergi anak-anak,"
Kali ini Nina menoleh padanya, ia memastikan yang ia dengan itu nyata,
"Maksud pak Dirga_?"
"Maksud saya, kamu tahu kan selama ini saya sudah terlanjur dekat dengan anak-anak kamu." ucapnya sambil menoleh ke belakang, menoleh pada dua anak kecil yang sudah tertidur pulas itu. Hari ini Akmal dan Sasa tidak tidur siapa membuat mereka tertidur di mobil,
"Sama seperti kamu, saya juga terbiasa dengan kehadiran mereka. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana hampanya hidup saya tanpa anak-anak."
"Mungkin sekarang kamu mikirnya, saya berlebihan. Tapi percaya atau tidak, semenjak saya mengenal anak-anak saya merasa ada sesuatu yang berhasil membangkitkan semangat saya."
Nina hanya terus diam, ia mencoba mencerna ucapan pria di sampingnya itu. Sebegitu berartinya anak-anaknya bagi pria di sampingnya jika yang di katakan itu sebuah kebenaran.
"Jika kamu ragu, kamu boleh menolak apa yang saya katakan semalam. Kita akan mencari solusi terbaiknya agar anak-anak tidak di ambil oleh mereka."
Entah kenapa saat Dirga mengatakan hal itu, Nina tidak suka.
enggak, enggak , aku nggak boleh berharap banyak ...., Nina mencoba menyadarkan dirinya sendiri. berharap banyak pada pria itu menurutnya adalah sebuah kesalahan.
Akhrinya mereka sampai juga di rumah, Dirga membantu mengendong Akmal sedangkan Nina menggendong Sasa. Mereka meminta bantuan fajar untuk membukakan pintu.
"Makasih ya pak sudah memberi tumpangan." ucap Nina begitu berhasil menidurkan anak-anak di atas tempat tidur.
Nina pun mengantar Dirga hingga keluar.
"Sampai sini saja, saya akan naik." ucap Dirga pada Nina.
"Sekali lagi terimakasih ya pak."
"Hmmm."
Dirga pun berlalu, tapi baru beberapa langkah dan ia menghentikan langkahnya, menoleh pada Nina yang masih berdiri di ambang pintu,
"Nin, kamu masih bisa memikirkan kembali kan tentang pembicaraan kita semalam?"
"Akan saya pikirkan pak."
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Kali ini Dirga benar-benar berlalu, tapi Nina masih tetap berdiri di tempatnya.
***
Hari ini tiba-tiba Nina kedatangan tamu tidak di undang lagi, sepertinya wanita itu sudah sangat hafal kapan saja nin berada di rumah.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Nina yang sudah kesal lebih dulu bahkan sebelum wanita itu membicarakan maksud kedatangannya ke rumah Nina. Wanita itu masih mengenakan baju seragamnya, sepertinya ia bahkan belum pulang ke rumah untuk ganti baju, atau mungkin dia sengaja memperlihatkan seragamnya pada Nina.
"Kamu sewot banget sih sama aku, lagian ya aku ke sini cuma mau lihat-lihat."
"Lihat-lihat apa?"
"Mau lihat-lihat rumah ini, kayaknya aku tertarik deh buat nyewa rumah ini."
Nyewa? Pak Dirga nggak bahas mau sewakan rumah Ini sama orang lain kan? Nina kembali mengingat apa saja yang Sudja di bahas antara dirinya dan Dirga. dan benar saja mereka tidak pernah membahas soal penyewa baru.
"Rumah ini nggak akan di sewakan. Jadi jangan berharap, lebih baik kamu pergi deh, aku mau jemput anak-anak."
"Benarkah? Bagaimana kalau aku bayar dia kali lipat dari kamu bayar. Sudah pasti kan rumah ini akan di sewakan ke aku sama mas Kamal."
"Maaf, tadi saya gdoa sengaja mendengar pembicaraan kalian." ucap Dirga sambil menatap ke arah Silvi tapi Silvi malah mengacuhkannya dengan malas.
"Hehhh, kamu ngapain sih sekali saja ikut campur? Kamu penyewa rumah ini juga kan, urusan saya sama Nina saja, jadi nggak usah ikut campur." ucap Silvi dengan congkaknya.
"Tapi anda bawa-bawa pemilik rumah, jadi saya turun."
"Memang kamu pemilik rumah? Cuma anak kos aja gaya banget sih,"
Dirga tersenyum tipis, sedangkan Nina merasa tidak enak atas ucapan Silvi pada Dirga.
"Silvi, jaga mulut kamu. pak Dirga ini memang_,"
"Memang apa? Memang pacar kamu? Bagus lah kalau kalian nikah kalian bisa tetep tinggal di lantai atas kan dan aku sama mas Kamal akan menyewa lantai bawah, biar saat kami memenangkan persidangan kamu masih bisa ketemu sama anak-anak kamu. Bagaimana? Ide aku bagus kan?"
"Saya tidak akan menyewakan rumah ini pada orang-orang seperti kalian." ucap Dirga dengan wajah dinginnya.
"Kamu kalau berhayal jangan ketinggian deh. ntar jatuh sakit loh."
"Siapa yang berkhayal di sini? Saya atau anda?" kali ini Dirga sedikit menekan pada ucapanya sambil menunjuk ke arah Silvi, kemudian ia beralih menatap Nina,
"Sudah siap? Saya akan antar jemput anak-anak!?" ucapnya kemudian pada Nina dan Nina pun mengangukkan kepalanya.
Dirga mengeluarkan kunci mobil sati salam saku celananya dan memencet remot di kontak itu hingga membuat mobil berbunyi. Silvi yang menyaksikan hal itu sedikit terkejut, tapi ia mencoba untuk tetap tidak percaya.
"Masuklah!" ucap Dirga sambil membantu Nina membukakan pintu mobil, setelah memastikan Nina masuk ke dalam mobil, Dirga pun kembali menutupnya.
Sebelum ia masuk juga ke dalam mobil, ia pun memilih untuk kembali bicara pada Silvi,
"Kalau mimpi jangan ketinggian, takutnya jatuh sakit. Oh iya, selain pemilik rumah ini, saya juga calon suami Nina. Jadi kedepannya jangan harap bisa menyakiti Nina maupun anak-anak Nina." ucap Dirga dan ia pun segera masuk ke dalam mobil meninggalkan Silvi yang masih tercengan di tempatnya. Bahkan kini ia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya.
"Nggak, ini nggak boleh di biarkan." Silvi benar-benar tidak terima, apalagi kalau sampai Nina menikah dengan orang yang lebih kaya di banding suaminya.
Di dalam mobil, Nina benar-benar tidak percaya apa yang baru saja ia dengar.
"Pak, kenapa pak Dirga mengatakan hal itu pada Silvi? Bagaimana kalau sampai di Silvi salah faham?" protes Nina.
"Apanya yang salam faham. Itu memang rumahku kan?"
"Iya pak, maksud Nina bukan yang itu. Tapi yang soal_,"
"Soal?"
"Soal calon istri pak."
"Memang benar kan, kamu calon istriku. Sekarang hanya tinggal menunggu jawaban kamu. Kalau saya mau nikah sekarang juga sudah siap, kita bisa ke kantor urusan agama sekarang juga."
"Pakkk, Nina serius!"
"Saya juga serius. Bagaimana siap sekarang berangkat ke kantor urusan agama?"
"Apaan sih pak," walaupun tidak punya perasaan apa-apa, rapi tetap saja membahas soal pernikahan membuat wajah Nina memerah. Ia sampai harus mengalihkan wajahnya ke tempat lain agar Dirga tidak melihat wajahnya yang memerah.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...