
"Saya harus pergi." ucap Dirga setelah melirik jam di pergelangan tangannya.
"Tapi meeting kita belum selesai, pak." ucap Radit yang menahan atasnya ketika hendak pergi.
"Kamu urus dulu ya, saya ada urusan yang lebih penting. Kirim hasilnya ke email saya."
"Baik pak."
Meskipun sebenarnya Radit keberatan saat Dirga berpamitan, tapi ia juga tidak bisa mencegah atasnya itu untuk pergi.
Seperti janjinya pada anak-anak, Dirga pun menjemput anak-anak ke sekolah meskipun urusannya belum selesai.
Melihat papa Aga nya sudah datang, Sasa segera berlari menghampiri Dirga dan berhambur memeluknya kemudian di susul Akmal yang sedikit berlari karena ia harus membawa tas milik Sasa juga.
"Papa Aga tepat waktu sekali." puji Akmal begitu sampai di dekat Dirga, yang sudah menunggunya di depan gerbang sekolah.
"Iya dong, soalnya papa sudah nggak sabar pengen ketemu kalian." ucap ya sambil tersenyum dan mencubit hidung Sasa gemas. "Baiklah, kita pulang sekarang?" tanya Dirga kemudian dan Akmal pun mengangukkan kepalanya bersemangat.
Sembari menggendong Sasa, Dirga pun membukakan pintu untuk Akmal begitu juga dengan Sasa yang duduk di samping Akmal.
"Kita jemput ibu dulu ya." ucap Dirga sambil menoleh ke belakang menatap pada Sasa dan Akmal.
"Memang ibuk kemana pa?" tanya Sasa.
"Ibuk di ruang bibi Mita." ucap Dirga.
"Hore, aku mu ketemu baby El." sorak Sasa bahagia.
Dirga pun segera menghidupkan mesin mobilnya dan mobil perlahan meninggalkan area sekolah.
Sepanjang perjalanan ke rumah Mita, Sasa dan Akmal begitu sibuk bercerita tentang sekolahnya hari ini bahkan sebelum Dirga memintanya bercerita.
"Wow, papa harus bangga nih. jadi kakak Akmal jadi idola dong di sekolah." ucap Dirga menanggapi cerita Sasa.
"Enggak ah pa, Sasa terlalu berlebihan. Akmal hanya mendapatkan delapan point' di cerdas cermat bahasa Inggrisnya. Jadi masih kurang."
"Nggak pa pa, lain waktu kita belajar lagi. Tapi delapan point' bukan angka yang buruk bukan? Jadi papa kasih dua jempol buat kakak."
Ya beberapa hari ini Akmal memang tengah mempersiapkan ajang tanya jawab dalam bahasa inggris, dan dia terpilih untuk mewakili sekolah dalam ajang tanya jawab bahasa inggris tingkat nasional yang akan di adakan bulan depan.
akhrinya setelah sepuluh menit mereka sampai juga di rumah Mita.
Sasa dan Akmal begitu bersemangat ketika bertemu dengan baby El sedangkan Dirga memilih mengobrol di depan dengan Bram yang baru saja kembali dari luar kota.
Setelah merasa cukup, Nina pun mengajak anak-anak nya untuk pulang. Ia merasa tidak enak jika harus membuat Dirga menunggu lama.
"Da da baby El. Kakak Sasa pulang dulu ya."
"Da da juga kakak Sasa, kakak Akmal."
Melihat Nina dan anak-anak keluar dari kamar Mita, Dirga pun segera berdiri dari duduknya,
"Sudah selesai?" tanyanya pada Nina.
Dirga pun beralih menatap Bram, "Gue pulang dulu ya, sampai ketemu lusa."
"Baiklah, hati-hati di jalan."
"Ayok pamit sama paman Bram." pinta Nina pada anak-anaknya dan mereka pun bergantian bersalaman pada Bram.
Bram mengantar mereka sampai ke depan.
"Saya titip sepeda motornya ya, nanti biar fajar yang ambil ke sini." ucap Dirga sebelum masuk ke dalam mobil.
"Santai aja, lagi pula di sini juga nggak akan ada yang makek."
Setelah mengobrol sebentar dengan Bram, Dirga pun menyusul Nina dan anak-anak yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil.
Akhirnya mobil meninggalkan rumah Mita, sepanjang perjalanan. Nina dan Dirga tampak masih canggung, apalagi saat Nina membayangkan memakai lingerie yang di berikan oleh Mita tadi, rasanya tiba-tiba wajahnya terasa panas membuatnya berkeringat.
"Kenapa? AC nya kurang dingin ya?" tanya Dirga saat menyadari jika wajah Nina berkeringat.
"Eh, enggak. Bukan! Maksud Nina, nggak pa pa, sudah dingin kok. Ini hanya keringat_,"
"Keringat dingin?" tanya Dirga memastikan membuat mata mereka saling bertemu.
"Ibuk, itu tas isinya apa?" pertanyaan dari Sasa mengagetkan mereka yang tengah saling terkesima satu sama lain.
"Oh ini," nina mengangkat sedikit paper bag di tangannya, "Ini kado dari bibi Mita buat ibuk."
"Sasa mau lihat." ucap Sasa bersemangat tapi dengan cepat Nina menjauhkan dari jangkauan Sasa.
"Jangan!" ucapnya pula dengan cepat.
"Kenapa?" tampak wajah Sasa kecewa bersamaan juga mendapat tatapan tidak mengerti dari Dirga.
"Maaf ya sayang, bukannya nggak boleh, tapi ini kata bibi Mita rahasia. Jadi harus ibuk sendiri yang lihat, maaf ya." Nina benar-benar merasa bersalah dengan Sasa, jika saja isinya buka itu pasti Nina tidak akan begitu keberatan saat Sasa ingin melihatnya.
"Ihhh bibi Mita curang! Kalau gitu besok Sasa mau minta kado yang rahasia juga dari bibi Mita." ucap Sasa begitu polosnya.
Beruntung saat bisa dengan mudah menerima penolakan dari Nina membuat Nina merasa lega.
Tapi tidak begitu dengan Dirga, ia juga merasa penasaran dengan isi tas yang di bawa oleh Nina.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
@tri.ani5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰