AFTER THE DIVORCE

AFTER THE DIVORCE
18. Memilih pergi



Nina memilih pergi belakang dan mengambil kotak p3k yang berada di dalam tasnya, sudah menjadi hal biasa bagi Nina memasukkan kotak kecil berwarna putih transparan itu ke dalam tasnya, apalagi jika pergi dengan anak-anaknya.


Anak-anak sering bertingkah lebih di banding orang dewasa, jadi jika terluka kecil itu hal yang biasa dan Nina tidak pernah melupakan membawa hansaplas atau semacamnya, lengkap dengan obat luka lainnya, parasetamol, dan roll on untuk penghangat. Semua tertata lengkap di dalam kotak kecil itu.


"Sudah nggak sakit kan?" tanya Nina setelah selesai menutup luka di siku Sasa.


Sasa menganggukkan kepalanya, bukan luka di siku Sasa yang paling sakit, tapi luka di hati Sasa saat melihat ayah yang selama ini ia banggakan malah memilih memberikan pelukan hangatnya pada anak lain.


"Sasa mau pulang, buk." rengeknya dengan air mata yang masih mengembeng di pelupuk matanya.


Mata Nina sebenarnya terasa panas karena begitu lama menyimpan air matanya agar tidak jatuh, agar anak-anak nya bisa melihatnya sebagai ibuk yang tegar, ibu yang bisa mereka peluk untuk mengobati luka karena tingkah ayahnya.


"Iya sayang, kita pamit sama mbak putri sama Mbah Kakung dulu ya, baru pulang." bujuk Nina agar Sasa tidak semakin merengek.


Sasa pun hanya mengangukkan kepalanya dan kembali memeluk Nina, karena Sasa tidak mau lepas darinya dan terus meminta gendong akhirnya tidak ada pilihan lain selain meminta bantuan Akmal untuk membereskan tas mereka,


"Boleh ibu minta bantuan kak?" tanyanya pada Akmal, meskipun ia tahu Akmal tidak akan menolak tapi tetap saja Nina tidak bisa langsung menyuruh putranya itu.


"Apa buk?"


"Tas ibuk sama tas adek kan tadi sempat ada beberapa barang yang ibuk sama adek keluarin, bisa bantu ibu buat masukin lagi. Lalu kita pamit pulang ya."


"Iya buk, bentar ya." Dengan sigap Akmal pun berdiri dan berjalan menuju ke tempat dimana mereka menyimpan tasnya, tidak lupa ia membawa serta kotak p3k yang sudah selesai di gunakan.


Baru saja Akmal pergi, Kamal datang sendiri. Mungkin masih ada sedikit rasa bersalah karena telah mengabaikan putrinya.


"Sasa,"


Mendengar panggilan itu, Sasa malah semakin menyusupkan wajahnya ke dekapan sang ibu.


"Dek, ayah ke sini," bujuk Nina, bagaimana pun tetap ia tidak mau anak-anaknya membenci ayahnya sendiri.


"Nggak mau, Sasa mau sama ibuk," Sasa semakin mengeratkan pelukannya seolah jika ia melepaskan pelukan ibunya, seseorang akan mengambilnya.


"Sudah mas, jangan di paksa. Sasa masih terlalu kecil untuk mengerti semuanya." ucap Nina saat Kamal hendak meraih tubuh mungil itu dari gendongan Nina.


"Maafin ayah ya sayang, tadi ayah nggak tahu kalau tangan Sasa terluka, boleh ayah lihat tangan Sasa?"


Sasa kembali menggelengkan kepalanya dan menyusupkan sikunya yang terluka di antara perut dan lengan Nina agar sang ayah tidak bisa melihatnya.


"Baiklah kalau nggak boleh, tapi Nina mau kan maafin ayah?"


Sasa hanya diam, ia bahkan tidak mengangukkan ataupun menggeleng hingga Kamal teringat sesuatu,


"Oh iya, boneka Sasa. Nggak pa pa ya kalau di ambil Sakila, kalian kan saudara jadi harus saling berbagi. Nanti pas ayah gajian ayah akan belikan boneka beruang yang lebih besar dari boneka itu ya."


Nina hanya bisa menghela nafas, ia tidak menyangka bahkan suaminya bisa berkata seperti itu.


Bisa-bisanya mas, kamu lebih mementingkan hubungan baru di banding hubungan lama yang bahkan terikat oleh darah, sebenarnya Nina ingin sekali mengolok suaminya itu, tapi ia tidak melakukannya agar anak-anak nya tidak semakin membenci sang suami.


"Buk, sudah semua."


Melihat tas yang berada di tangan putranya, Kamal mengerutkan keningnya dan hendak mengambil tas dari tangan Akmal, beruntung Akmal dengan sigap menghindar.


"Nin, kalian mau ke mana?"


"Anak-anak ngajak pulang mas,"


"Kalian baru datang, dan nanti malam masih ada acara walihah. Sebaiknya kalian pulang besok atau lusa, lagi pula aku sudah ijin sama guru anak-anak jika mereka ijin dua hari."


"Nggak perlu mas, lagi pula ada dan tidaknya kami di sini nggak ada pengaruhnya kan buat mas."


"Nin, kamu sengaja ya mau buat anak-anak jauh dari aku.!?"


"Mas sendiri yang membuat mereka jauh jadi jangan salahkan Nina karena ulah mas sendiri, salam buat bapak sama ibuk, maaf nggak sempat pamit. Kami kembali ke kota dulu, assalamualaikum."


Nina segera meraih tangan Akmal dan mengajaknya keluar, tidak peduli dengan pandangan orang-orang yang mendengar perdebatan mereka, bahkan Nina tidak berniat untuk bahkan berbasa-basi dengan orang-orang itu.


Rencananya untuk menginap di rumah budhenya ia urungnya, ia masih ingat jika di ujung gang biasanya ada tukang ojek yang mangkal, ia memilih mengajak anak-anak nya naik ojek sampai ke tempat ia bisa mencari angkot


***


"Na, Lo nggak pa pa kan? Gue langsung ke sini begitu tahu Lo sama anak-anak pulang hari ini, gue pikir Lo bakal nginep di sana." beruntung ia masih punya Mita yang selalu bisa mengerti dirinya.


"Nggak lah Ta, gue sudah nggak punya tempat di sana," ucap Nina dengan mata yang mulai berair.


"Sini peluk gue," ucap Mita sambil meregangkan tangannya, ia tahu yang sekarang bukan saatnya untuk bercerita, sebuah pelukan hangat sedang sangat Nina butuhkan.


Dan benar saja, Nina langsung berhambur memeluk Mita dan mengeluarkan semua air matanya yang sengaja ia tahan seharian ini demi menjaga hati anak-anak nya,


"Sakit banget Ta rasanya, lihat mas Kamal duduk di sana sama orang lain, gue pikir gue sudah bisa move on karena ada anak-anak tapi nyatanya air mata anak-anak semakin buat gue sakit. Sikap mas Kamal juga berubah Ta, gue khawatir anak-anak akan semakin terluka."


Mita yang memang tidak pernah berada di posisi Nina hanya bisa menenangkan sahabatnya itu, ia mengusap punggung Nina berharap bisa sedikit mengurangi rasa sakit di hati Nina,


"Sabar ya Na, insyaallah Allah bakal kasih ganti yang lebih baik dari Kamal."


Bersambung


Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari


Follow akun Ig aku ya


Ig @tri.ani5249


...Happy Reading 🥰🥰🥰...