
Pagi ini tiba-tiba Nina mendapat pesan singkat dari seseorang. Harusnya setelah mengantar anak-anak ia bisa pulang lebih dulu untuk berberes karena hari ini ia bisa berangkat agak siangan. Tapi karena pesan singkat itu membuat Nina mengurungkan niatnya untuk pulang lebih dulu.
Itu pesan dari Radit, karena jika dagi radit ia pikir masalah pekerjaan. Nina pun bergegas untuk datang lima belas menit sebelum waktu yang di janjikan.
"Apa sudah ada janji?" pertanyaan itu mengalihkan perhatian Nina saat mengedarkan pandangannya mencari meja yang di maksud oleh Radit, baru kali ini ia datang ke restauran dengan meja yang sudah di pesan sebelumnya.
"Iya, saya cari meja nomor 36." ucap Nina dan dengan cepat pramusaji itu menunjukkan pada Nina.
"Terimakasih," ucap Nina begitu sampai di kursinya, tapi belum sempurna ia duduk seorang ptamu saji lain sudah mendatanginya dan meletakkan segelas green tea di depannya.
"Maaf, tapi saya tidak memesannya." ucap Nina sambil mengibaskan tangannya cepat.
"Yang memesan meja ini sudah memesankannya untuk nona, silahkan di minum nona."
Sekali lagi Nina hanya bisa mengucapkan terimakasih.
Ia cukup heran dengan meja yang ia pesan saat ini. meskipun di depan restauran tanpa ramai tapi di sekitar tempatnya duduk begitu sepi, hanya ada beberapa pramusaji yang berkeliaran, itu pun tidak banyak tidak seperti di luar. Tapi dari cermin pembatas tempatnya jelas terlihat di sisi lain ada beberapa pengunjung yang tengah menikmati sarapan atau sekedar menghilangkan dahaga sambil ngobrol santai dengan keluarga, atau kenalannya.
Tepat jam sembilan lebih lima belas, seseorang yang cukup ia sering lihat mondar mandir di kantor tempatnya bekerja datang. Ia tidak menyangka jika hari ini akan bertemu dengan orang ini. Walaupun tidak pernah saling bertutur sapa tapi ia cukup kenal dengan wanita berpakaian modis itu.
Gegas ia berdiri dari duduknya dan menyambut kedatangan wanita itu.
"Selamat pagi nyonya." sapa Nina. Sejenak sepertinya wanita itu juga terkejut tapi segera ia mencoba untuk menormalkan wajahnya kembali.
"Terimakasih, duduklah!" perintah wanita itu setelah duduk dan Nina pun kembali duduk. Saat ini bahkan Nina tidak berani mendongakkan kepalanya. Banyak pertanyaan berkecamuk di kepalanya. Apakah ini Sola pekerjaan atau mungkin soal ucapan Dirga beberapa waktu lalu. Sejauh ini ia belum pernah punya urusan dengan wanita di depannya itu.
Walaupun sudah tidak muda lagi, tapi wajah cantiknya tetap terpancar apalagi di dukung dengan pakaian dan aksesoris mahalnya. Sungguh berbeda sekali jika di banding dengan penampilan Dirga yang terbilang sederhana.
Nina sudah memilih ujung jilbab segitiganya, perasaannya benar-benar tidak enak.
"Bukankah kamu bekerja di kantor anak saya?" pertanyaan itu semakin menyadarkan Nina tentang posisinya.
"Iya nyonya."
"Hehhhh, bisa lihat saya sebentar?" tanya wanita itu karena Nina terus menundukkan kepalanya semenjak wanita itu masuk.
Nina pun perlahan meluruskan wajahnya, tidak berani lebih tinggi dari wanita itu,
"Maaf nyonya atas ketidak nyamanan ini."
"Kamu sudah mengenal saya kan?"
Nina mengangukkan kepalanya, "Anda mamanya pak Dirga."
"Baguslah, apa kamu tahu ada urusan apa saya ke sini?"
Nina menggelengkan kepalanya, dan wanita itu melihat ke arah luar, di balik dinding kaca di samping mereka. Tampak di luar seorang anak kecil tengah bermain di samping kolam air mancur dengan dua pengawal di sekelilingnya.
"Kamu lihat anak kecil itu?"
"Iya," Nina bisa melihat seorang anak kecil laki-laki seumuran Akmal yang tengah bermain di sana.
"Itu cucu saya, namanya Dava. Aga begitu menyayanginya tapi ternyata sayangnya pada Dava tidak lebih besar dari sayangnya pada anak-anak kamu."
"Maaf nyonya, sungguh. Saya akan menjauhkan anak-anak saya dari pak Dirga jika nyonya mau, sekali lagi saya mohon maaf jika karena anak-anak saya, pak Dirga jadi_,"
"Saya belum selesai bicara." ucap wanita itu dan seketika Nina menghentikan ucapanya dan kembali menunduk.
"Saya pikir Aga hanya akan terjebak dalam kehidupannya sendiri, seorang diri. ibu dari anak yang saya tunjuk di luar adalah mantan kekasih Aga."
Nina begitu terkejut, tapi ia sungguh tidak berani menampakkan di depan wanita itu. Ia tidak menyangka pria seperti Dirga juga pernah menjalin kisah asmara dengan seorang wanita. Ia pikir selama ini Dirga hanya dekat dengan Radit karena kemana-mana hanya dengan Radit.
"Sekaligus ipar Dirga."
Kali ini Nina tidak bisa mengendalikan rasa terkejutnya, ia sampai menegakkan kepalanya.
"Kamu jangan berpikir macam-macam dulu, sebenarnya ini sudah pernah menjadi konsumsi publik beberapa tahun lalu. saya pikir karena ini Aga tidak pernah menjalin hubungan baru dengan orang lain. Saya cukup terkejut saat tahu jika dia dekat dengan kamu dan anak-anak kamu. Tapi cukup saya sayangkan, saya pikir Aga akan mendapatkan yang lebih baik di banding janda dua anak."
Seketika Nina tersenyum hambar, ia tidak tahu harus senang atau sedih. Harus sakit hati atau tidak karena memang benar kenyataannya seperti itu.
"Tapi setelah saya mengamati kamu dan anak-anak kamu, saya jadi tahu kenapa Aga sampai memperjuangkan kalian." ucapnya lagi.
Nina tidak tahu harus bangga atau apa, tapi pantas untuk di perjuangkan setelah di buang itu menyakitkan.
"Oma, ayo berangkat!" ajak seorang anak laki-laki yang beberapa menit lalu masih asyik bermain di luar. Ia sekarang sudah berada di ruangan yang sama sambil menarik tangan wanita itu.
"Beri salam dulu pada Tante!" perintah wanita itu dan anak itu memilih mengamati Nina dari pada memberi salam.
"Dia siapa Oma?" tanyanya kemudian.
"Calon istri om Aga."
Deg
Rasanya seperti di hantam baru besar tepat di jantung Nina. Wanita itu benar-benar mengatakan hal itu di depannya. Rasanya seperti mimpi, tapi ini masih sangat pagi.
"Salam Tante, aku Dava. Senang bertemu dengan Tante." ucap Dava dengan begitu bersemangat.
Nina tersenyum manis sambil melambaikan tangannya, "Hai Dava."
"Pasti om Aga suka sama Tante karena Tante pakek kerudung. Tante cantik sekali." ucap Dava polos dan Nina kembali di buat tersenyum.
"Baiklah, sepertinya saya harus pergi." ucap wanita itu sambil berdiri dari duduknya dan Nina ikut berdiri,
"Jika kamu sudah berhasil mendapatkan hatinya, jangan pernah menyakitinya. Setelah ini saya titip Aga." ucap wanita itu dan akhirnya meninggalkan Nina bersama anak kecil itu.
Nina masih terpaku di tempatnya, jantungnya belum baik-baik saja. Ia seperti baru saja menaiki roller coaster. Naik turun dengan kecepatan tinggi. Tangannya yang masih gemetar segera meraih gelas yang berisi green tea di depannya yang masih tidak tersentuh sama sekali semejak gelas itu di letakkan di depannya. Bahkan tangannya gemetar saat memegang gelas itu.
Baru beberapa teguk, seseorang mengejutkannya kembali.
"Assalamualaikum,"
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...