
Baru saja berbalik hendak menuju ke kamar mandi, sebuah mobil kembali berhenti di depan rumahnya, alih-alih mengabaikannya, nyatanya Dirga memilih menunggu siapa yang akan bertamu di jam sibuk seperti ini.
"Mama," bibirnya langsung berucap saat seseorang sudah berdiri di ambang pintu, wanita paruh baya dengan penampilan modis itu tidak perlu salam atau mengetuk pintu saat masuk ke rumah putra semata wayangnya.
"Mama sudah hubungi kantor tadi, katanya kmu belum datang,. Tidak biasanya kamu datang telat, ada apa?" tanya wanita itu sambil meletakkan hand bag bernilai puluhan juta itu di atas meja kemudian memilih duduk di sofa panjang yang langsung berhadapan dengan pintu itu.
Dirga pun mengurungkan niatnya untuk mandi, ia memilih menyusul duduk sang mama,
"Mama sejak kapan pulang?" tanya Dirga, pasalnya mamanya itu jarang sekali berada di Indonesia, ia lebih sering menghabiskan waktu menemani suaminya perjalanan bisnis ke luar negri.
"Kamu belum tanya pertanyaan mama, kamu sakit?"
"Menurut mama?"
"Biasa aja sih."
Dirga mengangkat kedua alisnya, "Mama sudah lama pulang?" tanya Dirga lagi mengulang pertanyaan.
"Sejak papamu memutuskan untuk mengangkat Remon sebagai penggantinya."
Hehhhh ....
Dirga menghela nafas dalam, "Mama bertengkar dengan papa?" tanyanya memastikan.
"Remon tidak pantas memimpin perusahaan hanya karena dia sudah punya istri dan keturunan, bukan berarti dia bisa menggeser posisi kamu."
"Biarlah ma, lagi pula Dirga juga sudah punya perusahaan sendiri. Jika papa milik kak Remon itu hak papa ma,"
"Kamu ini kebiasaan ya, pokoknya mama nggak mau tahu, kamu harus segera cari istri kalau enggak mama yang akan carikan buat kamu."
"Mama ini suka banget maksa, Dirga nggak suka ya mama jodoh-jodohin."
"Ya sudah kalau nggak mau di jodohin, makanya cepetan cari pasangan. Lagi pula usiamu sudah tiga puluh lima tahun, nggak pantas membujang terus. Teman-teman sekolahmu sudah punya anak dua, bahkan ada yang tiga."
"Ma, Dirga punya keputusan sendiri. Jadi jangan di sama-sama kan dengan teman-teman Dirga. Kalau Dirga belum menikah itu artinya Dirga belum ketemu jodoh."
"Pokoknya mama nggak mau tahu, nanti pas ulang tahun Dava yang ke lima, kmu harus bawa calon kamu buat di kenali sama mama sama papa."
"Nggak janji."
"Berarti mama juga nggak janji nggak bakalan jodohin kamu sama anak temen-temen mama."
"Bodoh ah, Dirga mau kerja." ucap Dirga sambil berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan mamanya menuju ke kamar mandi.
"Dirga, kebiasaan deh. kalau bicara sama mama suka nggak tuntas gitu."
"Di tuntasin nanti aja ma, setelah Dirga pulang kerja." teriak Dirga dari kamar mandi.
"Mama mau berangkat lagi nyusul papa kamu," teriak sang mama tidak mau kalah.
"Ya udah, diselesaikan lain kali aja ma."
Walaupun kesal, mama Dirga tidak bisa protes lebih panjang lagi karena ia tahu putranya jauh lebih keras kepala di bandingkan dirinya.
Remon adalah adik tiri Dirga dari istri kedua papanya yang sudah meninggal. Meskipun usia Remon lebih muda dari Dirga lima tahu tapi Remon sudah menikah dan dikaruniai seorang putra bernama Dava.
***
Sepulang dari kerja, Nina langsung menuju ke rumah Mita yang kebetulan suaminya memang tengah menggantikan Dirga untuk tugas kampus ke luar negri dalam beberapa hari.
Menurutnya berada di rumah seorang diri membuatnya semakin kepikiran pada anak-anaknya, ini sudah dua hari jadi mungkin besok mantan suaminya akan mengembalikan anak-anaknya.
"Mita," Nina sedikit terkejut dan segera membantu Mita duduk, "Kenapa ke sini? Di sini dingin nggak baik buat Lo sama bayi Lo."
"Panas tahu Nin di dalam, pengen ngadem."
"Gaya Lo, di dalem kan ada AC nya." ucap Nina tidak percaya.
"Abis gimana, gue butuh temen ngobrol. Eh temennya malah bengong di sini."
"Gimana lagi, gue kangen banget sama Sasa dan Akmal, Ta. Bayangin aja, sudah dua hari gue nggak lihat mereka."
"Sabar!" Mita mencoba menghibur, meskipun ia belum merasakan jadi ibu sepenuhnya, tapi saat ia lama Tidka bertemu dengan anak-anak Nina rasanya juga kangen, dan mungkin yang di rasakan Nina lebih dari itu.
Mereka kembali terdiam hingga Mita kembali teringat sesuatu,
"Lo tahu nggak Nin kalau anak-anak Lo Deket sama pemilik rumah tempat Lo tinggal?"
Mendengar pertanyaan itu, Nina cukup terkejut. Ia sampai melebarkan matanya menatap Mita tidak percaya,
"Tahu dari mana Lo?"
"Emang anak-anak Lo nggak cerita?"
Nina menggelengkan kepalanya, "Serius Ta?" tanya Nina masih tidak percaya. "Lo tahu dari mana?"
"Lo pernah nggak ketemu sama pemilik rumah? Atau kalau enggak, Lo kenal nggak sama pemilik rumah?"
"Ya enggak lah, kan Lo sendiri yang bilang kalau pemilik rumah nggak suka di ganggu, dan lagi saat gue di rumah tuh orang pasti nggak di rumah, kalau malam pulangnya larut banget, mungkin gue udah tidur."
Jadi Nina benar-benar belum tahu kalau pemilik rumah itu bos di perusahan tempatnya bekerja ..., batin Mita.
"Iya sih." ucap Mita mengambang.
"Anak-anak cerita sama Lo kalau mereka Deket dengan pemilik rumah?"
Gue nggak mungkin bilang kalau yang cerita mas Bram ..., batin Mita. Ia harus mencari alasan lain.
"Iya, katanya om nya baik makanya suka." ucap Mita beralasan.
"Serius?"
"Nggak percayaan banget sih jadi orang. Heran aku,"
"Ya nggak gitu, kan kayaknya orangnya tertutup jadi mana mungkin suka sama anak-anak."
"Buktinya suka, anak-anak juga nyaman bermain sama dia."
"Tapi Lo yakin kan kalau dia orang baik?"
"Ya iya lah, dia temennya mas Bram, dosen juga. Nggak mungkin lah aku kirim Lo ke orang yang. nggak baik sih Nin."
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga yang banyak biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...