
Nina tidak banyak bicara setelah keluar dari ruang sidang, bahkan ia tidak mempertanyakan perihal urusan Dirga pergi ke persidangan.
Kamal menang banyak point di banding dirinya, beruntung Dirga meminta waktu satu Minggu untuk menyiapkan semuanya. Tapi setelah perjalanan sidang hari ini, Nina tiba-tiba menjadi pesimis. Ia tidak yakin bisa memenangkan sidang Minggu depan, tapi ia juga belum siap melepas anak-anaknya.
Hingga deringan telpon membuyarkan lamunan Nina, dengan cepat Nina merogoh tasnya yang ia letakkan di pangkuannya. Nama Mita tertera di layar panggilannya. Dengan cepat Nina menggeser tombol terima.
"Assalamualaikum, Ta."
"Waalaikum salam, Nin. Gue lagi jalan ke rumah sakit." ucap di seberang sana dengan suara serak.
"Ada apa? Lo nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Nina dengan wajah panik, melihat Nina panik berhasil membuat Dirga menoleh padanya.
"Ada apa?" tanya Dirga.
Nina pun menjawab dengan isyarat bibir.
"Lo sama siapa Nin?" tanya Mita saat mendengar orang lain di samping Nina.
"Ini sama pak Dirga, Lo kenapa?"
"Gue kayaknya mau lahiran Nin. Lo temenin gue ya, mas Bram lagi di luar kota, gue sudah coba hubungi dan masih ada di perjalanan. takutnya nggak keburu Nin." terdengar suara Mita sedikit merintih menahan sakit.
"Trus Lo sekarang sama siapa?"
"Gue naik taksi online. Mertua gue juga nggak di indo semua. Lo temenin gue ya."
"Iya pasti. Lo jalan ke rumah sakit mana?"
"Gue kirim lokasinya, Lo nyusul ya."
sambungan telpon pun terputus dan Dirga tengah menunggu keterangan dari Nina.
"Mita mau lahiran pak,"
"Saya antar ke rumah sakit."
Arah ke rumah sakit yang di tunjuk Mita berlawanan arah dengan mereka, membuat Dirga kembali memutar mobilnya. Dengan mempercepat laju mobilnya, Dirga mulai memecah keramaian kota di siang itu.
Akhirnya dalam waktu sepuluh menit mereka sampai juga di rumah sakit yang di maksud Mita,
Nina begitu ragu untuk masuk, tapi ia juga tidak bisa mengabaikan sahabatnya yang tengah kesakitan sendiri di dalam sana,
"Ada apa?" tanya Dirga yang menyadari keraguan Nina.
"Anak-anak bagaimana pak?" Nina tahu ini tidak pantas tapi ia juga tidak bisa jika tidak merepotkan atasannya itu.
"Biar saya yang jemput anak-anak."
"Terimakasih ya pak, Nina nggak tahu harus ucapkan bagaimana lagi. Bapak sudah terlalu banyak membantuku."
"Jangan berterima kasih, cukup itu yang harus kamu lakukan. Oh iya, saya akan mengajak anak-anak pulang. hubungi jika sudah selesai, saya akan meminta pak Dimas untuk menjemputmu."
Nina mengangukkan kepalanya dan langsung berlari saat telponnya kembali berdering, beberapa kali Mita menghubunginya. sedangkan Dirga pun kembali masuk ke dalam mobil untuk menuju ke sekolah Sasa San Akmal.
Nina segera menuju ke ruang persalinan, setelah meminta ijin dokter akhirnya ia di perbolehkan masuk dan menemani Mita yang tengah proses melahirkan.
Sedangkan Dirga segera menuju ke sekolah untuk menjemput anak-anak Nina. Sesampai di sekolah ia sudah mendapati anak-anak di jemput oleh seseorang.
"Paman Aga," Sasa yang melihat kedatangan Dirga segara melepas pelukan ayahnya dan berlari menghampiri Dirga begitu juga dengan Akmal yang menyusulnya di belakang.
Kamal mengerutkan keningnya dan menyusul kedua anaknya yang lebih memilih memeluk pria lain di banding dirinya.
"Saya mau jemput anak-anak," ucap Dirga saat Kamal berhenti di depannya.
"Anak-anak mana yang kamu katakan? Anak-anak saya? Jangan harap kamu bisa mendapatkan hak yang sama seperti saya."
"Saya menjemput anak-anak Nina dan memastikan mereka pulang dalam keadaan selamat."
"Jaga mulut anda, bicara yang baik selagi anda bisa. Jangan sampai saya melupakan kesopanan saya untuk menghadapi anda."
Chhhh
Kamal berdecak dengan wajah kesalnya, "Saya akan bawa anak-anak saya pulang, tanpa perlu meminta persetujuan anda."
"Saya sudah mendapat amanah dari Nina untuk membawa anak-anak pulang. Kalau anda ingin membawa anak-anak bersama anda, lebih baik anda bertanya dulu pada Nina karena saat ini anak-anak masih di bawah pengasuhan Nina. saya permisi."
Dirga pun segera mengajak anak-anak Nina untuk pergi meninggalkan Kamal yang menahan marah. memang benar dalam perjanjian sidang tadi pagi ia tidak di perkenankan membawa anak-anaknya tanpa seijin ibu kandung dari anak-anak nya yaitu Nina.
"Maaf ya, sedikit terjadi keributan tadi." ucap Dirga begitu mereka sudah masuk ke dalam mobil. Meskipun tidak bertanya, tapi Dirga tahu anak-anak itu pasti tengah berpikir tentang keributan yang baru terjadi antara dirinya dan ayah mereka.
"Apa ibuk dan ayah sedang bertengkar?" tanya Akmal yang lebih mengerti arah pembicaraan orang tua di banding Sasa yang lebih kecil.
"Enggak. Mereka hanya sedang mengusahakan yang terbaik buat kalian, agar kalau tidak sampai kekurangan kasih sayang baik dari ibuk maupun ayah kalian."
"Oh," jawab Akmal singkat sambil menyandarkan punggungnya, walaupun tidak begitu mengerti tapi ia mencoba untuk memahaminya.
Hingga akhirnya mobil mereka sampai juga di rumah.
"Ibuk tidak di rumah? Kata ibuk hari ini ibuk nggak kerja?" tanya Sasa yang mendapati rumah masih kosong.
"Em, jadi ibuk kalian lagi nemenin bibi Mita lahiran. nggak pa pa kan kalau sama paman Aga hari ini?"
"Yee, bibi Mita berarti dedek bayinya keluar dong?" tanya Sasa begitu bersemangat.
Dirga pun mengangukkan kepalanya,
"Jadi nggak sabar ketemu dedek bayi."
Dirga pun begitu telaten membantu anak-anak Nina ganti baju dan menyiapkan makan untuk mereka. yang biasanya ia tidak pernah masak di rumah kini ia menyempatkan untuk sekedar menggoreng telur untuk Sasa dan Akmal.
"Bagaimana rasanya?"
"Enak paman." jawab Akmal, "Ya walaupun tidak seenak buatan ibuk, tapi ini lumayan lah." ucapnya lagi sambil tersenyum penuh semangat. Dan hal itu yang membuat Dirga merasa begitu di mengerti oleh dua anak kecil di depannya.
Setelah makan siang, Dirga juga menemani anak-anak itu untuk tidur siang sambil membacakan dongeng untuk Sasa.
Di luar rumah tampak sebuah mobil masuk ke halaman, mobil mewah yang beberapa kali mampir ke rumah itu.
Wanita di dalam mobil itu mengurungkan kaca mobilnya dan mencondongkan kepalanya keluar saat sampai di pos satpam,
"Aga ada?"
"Ada buk, di dalam."
Fajar yang mengetahui di mana Dirga sekarang pun, memilih mengikuti mobil itu dan membantu membukakan pintu mobil.
"Saya panggil mas Dirga dulu ya, buk." ucap Fajar dan berhasil menjaga wanita itu mengerutkan keningnya tidak mengerti. Biasanya ia langsung di persilahkan masuk dan kini di minta untuk menunggu.
"Memang Aga di mana sih?"
"Di bawah buk."
Seketika mata wanita itu melebar, "Saya masuk sendiri." pikirannya sudah membayangkan yang tidak-tidak hingga akhirnya sampailah ia di depan kamar yang pintunya terbuka hingga ia melihat Dirga yang tengah tidur bersama anak-anak itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar bisa up tiap hari
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...